Pages

Wednesday, June 16, 2010

Perang Suku Di Papua



Warga suku bersiap sebelum memulai pertempuran
Warga Suku Dani bersiap menyerang Suku Damal dalam perang antar suku.
Warga Suku Dani meneriakkan slogan saat akan menyerang Suku Damal
Warga Suku Dani menyerang warga Suku Damal
Seorang warga Suku Dani bersiap menyerang Suku Damal
Warga Suku Dani memegang senjata dalam perang dengan Suku Damal
Warga bertempur dengan senjata tombak, batu serta panah.
Warga bertempur dengan senjata tombak, batu serta panah.
Ketika Hukum Adat Dilanggar
TIMIKA – Apa jadinya jika kesepakatan adat dilanggar di Papua? Permasalahan harus diselesaikan lewat pertempuran, seperti yang terjadi pada Rabu, 6 Januari 2010 kemarin.
Dua suku yang berada di Kwamki Lama Kelurahan Harapan, Timika, Suku Damal dan Dani terlibat perang adat setelah Suku Damal menolak membayar denda kompensasi atas pemerkosaan warga Suku Dani yang diduga dilakukan oleh warga Suku Damal.
Akibat pertempuran ini, satu orang meninggal dan 50 orang terluka, demikian laporan polisi. Pihak polisi tak dapat berbuat banyak, dan hanya mengawasi dari jarak tertentu. Polisi juga masih berupaya mendamaikan dua pihak yang bertikai.
Namun perang adat ini bukan tanpa aturan. Tercatat selama hari Rabu kemarin, dua kelompok ini sempat menghentikan perang untuk waktu istirahat dan makan siang selama tiga kali. Berdasarkan pantauan di lokasi, bentrokan pertama pecah selama satu jam pada pukul 06.00-07.00 WIT. Bentrokan kedua pecah pada pukul 09.00-12.00 WIT.
Bentrokan pertama kali pecah pada hari Senin sore 4 Januari 2009 dan mengakibatkan lima orang terluka, sementara satu orang bernama Albert Mom tewas diterjang anak panah.
http://haxims.blogspot.com/2010/01/perang-suku-di-papua.html

Skandal Seks Dan Dosa Paus Benediktus XVI



Dalam tulisan terdahulu dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI yang ketika itu masih menjabat sebagai Kardinal, dengan licinnya berhasil menutupi skandal seks gereja.
Sikapnya tak berubah, ketika skandal seks itu kembali terbongkar dan menuai cibiran ke Gereja Katolik. Paus Benediktus XVI tetap melakukan pembelaan dan seolah skandal seks yang sudah berulang kali membuat geger dunia itu cuma masalah sepele. Tapi kali ini, mampukah Paus menyelamatkan citra Vatikan?
Dosa Gereja Atau Dosa Pelayan Gereja?
Kali ini, Paus jarang memberikan komentar atau wawancara terkait skandal seks gereja yang kembali terbongkar. Pernyataan-pernyataannya hanya dikutip dari khutbah-khutbahnya, doa-doa dan naskah deklarasinya yang dikutip dengan hati-hati. Para pengamat Vatikan memduga, Paus sudah menyiapkan pandangan-pandangannya atas skandal seks Gereja Katolik yang menjadi buah bibir masyarakat dunia itu, yang akan disampaikannya dalam perayaan Palm Sunday (perayaan atas masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum kematian dan kebangkitannya kembali-red) tahun ini, dengan menyerukan agar umat Kristiani untuk tetap teguh dan tidak terintimidasi dengan apa yang disebutnya “chiacchiericcio”–gosip kecil– yang “menodimasi opini-opini yang muncul.”
Tapi sepanjang pekan suci dalam kalender Kritiani, sulit dipungkiri bahwa krisis yang ditimbulkan oleh skandal seks gereja telah mencoreng muka Paus. Sejumlah pejabat Vatikan menyebutnya sebagai sebuah “kepedihan” sama seperti kepedihan yang diderita Yesus saat disalib. Wajah Paus nampak lebih tua dan suram meski dibalut dengan kemegahan gereja St. Petrus, Basilica. Tak nampak wajah Paus yang penuh semangat seperti biasanya. Usai Paskah, ketika belum juga ada tanda-tanda pemberitaan skandal seks gereja yang dilakukan para pendeta terhadap anak-anak, akan berakhir, para “pengawal gereja” yang memilih untuk bersikap agresif; menyalahkan media massa, para penganut atheis, kelompok homo seksual dan para pengacara yang “rakus uang” karena dianggap telah mengeksploitasi skandal seks tersebut. Tapi itu semua tidak terlalu banyak mendapatkan simpati dari masyarakat atau mengubah opini yang terlanjur muncul bahwa kepausan Paus Benediktus XVI sudah hancur untuk selamanya.
Selama krisis itu pula, kepausan sudah mengambil langkah-langkah yang luar biasa–melakukan manuver cepat untuk kepentingan lembaga yang sudah berusia 2.000 tahun dan kini dipimpin oleh seorang teolog yang sedang merasa malu. Pada pertengahan April, Paus Benediktus–menurut sejumlah laporan–melakukan pertemuan tertutup dan “penuh derai air mata” dengan para korban pelecehan seks di Malta; dan pada saat yang hampir bersamaan, Paus menjadi “tukang bersih-bersih rumah” dengan menerima pengunduran diri sejumlah uskup–satu orang uskup karena terlibat pelecehan seks dan uskup lainnya yang merasa bersalah dalam menangani kasus-kasus pelecehan itu. Tahta Suci Vatikan juga mengumumkan bahwa Legiun Kristus kini langsung berada di bawah kontrol Vatikan. Banyak pejabat di Vatikan yang mengungkapkan pada para wartawan, tentang bagaimana “penderitaan” gereja akibat skandal seks tersebut.
Pada bulan Mei, dalam perjalanan ke tempat suci “Lady of Fatima” di Portugal, di atas pesawat, Paus menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah lebih dulu ditulis dan diserahkan ke Paus. Meski ia bicara dengan gaya seorang gerejawi, dari pernyataannya jelas tertangkap apa yang ingin ditegaskan Paus.
“Penganiayaan terbesar pada gereja bukan berasal dari musuh-musuh di luar gereja, tapi lahir dari dosa-dosa di dalam gereja. Oleh sebab itu, gereja perlu melakukan pertobatan yang lebih dalam lagi, untuk menerima pemurnian,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa rasa keadilan tidak akan tergantikan dengan pemberian maaf bagi para pelaku, meski melupakan dosa-dosa adalah ajaran bagi umat Kristiani.
Pernyataan Paus yang menyinggung kata “keadilan” nampaknya mengindikasikan adanya perubahan sikap di Roma. Tapi apakah Paus Benediktus benar-benar akan memualai untuk membuat terobosan dalam hierarki gereja yang selama puluhan tahun selalu menutupi skandal-skandal seks gereja? atau pernyataannya itu hanya sebagai strategi public relation gereja?
Konsep keadilan dan penebusan dosa melibatkan jawaban pada Tuhan, manusia atau keduanya. Pada siapa Paus akan menjawab? Pada masa lalu, Ratzinger bersikap ambivalen terhadap tradisi penebusan dosa kepausan. Hari Pengampunan Dosa yang spektakuler pada tahun 2000 merupakan ide Paus Paulus II dan Ratzinger, sebagai prajurit harus mematuhinya. Jalannya ritual resmi pengampunan dosa–seluruh dokumennya hampir seluruhnya atas persetujuan Ratzinger–berusaha ditampilkan untuk menampilkan dua sisi; pengakuan dosa pada Tuhan yang dilakukan oleh Paus dan pengakuan dosa di hadapan manusia, dimana umat Kristiani tidak bisa bersembunyi dari tanggung jawab itu. Sejauh ini, terlihat seperti pertobatan. Tapi pernyataan Paus dalam perjalan ke tempat suci Fatima bulan Mei kemarin, menunjukkan seberapa jauh Paus mengekspos tanggung jawab institusinya. Paus membebankan kesalahan pada gereja dan bukan pada pelayan-pelayan (uskup, pendeta) gereja.
Di sinilah titik kritisnya. Dosa konsekuensinya menyangkut pada hal-hal Ilahiah, perbuatan kriminal berurusan dalam lingkup hakim-hakim manusia, hukum dan pengadilan, penjara, penghinaan publik dan hilangnya harta benda. Mungkin tidak jadi masalah jika kejahatannya terjadi jauh pada masa lalu dan korban-korbannya sudah meninggal. Tapi kasus-kasus pedofilia yang terbongkar baru-baru ini melibatkan orang-orang yang masih hidup dan menuntut ganti rugi. McDaid, salah satu korban pedofilia asal Massachusetts mengatakan, tidak seperti di masa lalu yang selalu bereaksi lambat, belakangan ini gereja bereaksi cukup cepat. “Tapi itu semua karena semua orang di gereja dalam ketakutan. Masalah ini tidak akan berlalu hanya dengan bantahan-bantahan,” ujar McDaid.
Lalu, apa yang akan dikatatakan Paus Benediktus XVI selanjutnya? Sejumlah pejabat di Vatikan menyampaikan gagasannya bahwa Paus Paulus bisa memberikan mea culpa pada saat konvensi di Rome bulan awal Juni. “Harapan kembali muncul bahwa Paus akan mengatakan sesuatu, yang paling tidak bisa mengatasi semua persoalan ini,” kata seorang sumber di Vatikan. Tapi kelihatannya Paus tidak memikirkan kemungkinan itu. Ada perbedaan suara dalam Gereja Vatikan
“Puluhan ribu imam suci yang baik, berusaha melakukan yang terbaik, akan datang ke Roma. Jika pesan konvensi itu tenga pelecehan seksual, maka seperti kata pepatah, bahwa ini pada akhirnya semua ini adalah kesalahan Anda (Paus). Tapi jika ia ingin menyatukan para uskup dunia dalam mea culpa, ini mungkin lebih masuk akal,” kata seorang sumber di Vatikan.
Seorang yang mengaku loyal dengan Paus Benediktus mengakui bahwa ia ragu Paus bisa mempertahankan kekuasaan gereja di masa pemerintahannya sebagai Paus. Biar bagaimanapun juga, menuntut akuntabilitas dari sebuah budaya yang kerap menyembunyikan “kejahatan” sama artinya mengkhianati warisan pahlawan dan “sahabat besar” Paus Benediktus, Paus Paulus II meski ia cenderung cuma jadi penonton kasus-kasus pelecehan seksual dan mengabaikan para korban pelecehan hingga kasus ini meledak menjadi skandal memalukan pada tahun 2002.
Bahkan jika Paus Benediktus mendesak Kuria untuk lebih terbuka, ia kemungkinan tidak akan sejalan dengan banyak penganut Katolik. Meski gereja Vatikan dikelola dengan sistem atas ke bawah, gereja-gereja Katolik saat ini memiliki pengharapan akan sebuah umat yang taat dibandingkan sebuah kelompok penganut yang patuh. Ribuan korban pelecehan dan keluarga mareka rencananya akan berkumpul di Roma pada bulan Oktober untuk menghadiri apa yang mereka nyatakan sebagai “Hari Reformasi”, sebuah tuntutan agar Vatikan segera bertindak atas kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi. Salah satu penggagas dan kordinator kegiatan itu adalah McDaid yang pernah bertemu Paus di Washington pada tahun 2008. Ia menyerukan aksi jalan kaki ke Gereja Santo Pterus di Roma dan sebuah gerakan demokrasi yang luas untuk mentransformasikan Roma. “Gereka ini gereja umat, kita harus merebutnya kembali,” kata McDaid yang mengklaim gerakan reformasi gereja yang digagasnya akan lebih besar daripada gerakan reformasi yang dipimpin Martun Luther.
Refomasi Gereja Katolik, Mungkinkah?
Kata “reformasi” adalah kata yang sensitif bagi Gereja Katolik, karena sama artinya mengikis sejarah kejayaan gereja. Lalu, bisakah gereja benar-benar mereformasi institusinya? Profesor bidang teologi di Milltown Institute, Dublin, Pendeta Thomas Whelan menyatakan, reformasi gereja yang sangat sentralistik (sangat terikat dengan manajemen di Roma)ini sudah menjadi wacana sejak akhir abad ke-19. Skandal pedofilia para pendeta gereja menjadi pukulan keras bagi otokrasi gereja. Jika gereja tidak segera membersihkan diri, konsekuensinya akan mengerikan. Skandal ini, telah membuat gereja-gereja di Irlandia jadi sepi jamaah. Hal yang sama terjadi Jerman, Austria dan beberapa negara Eropa.
“Kenangan akan skandal seks ini akan terus menghantui sejarah gereja,” ujar Whelan.
Bagi kalangan liberal, krisis gereja Katolik akibat skandal seks merupakan kesempatan untuk mempertanyakan kembali berbagai disiplin dan dogma Gereja Katolik, misalnya tentang aturan hidup membujang di kalangan agamawan Katolik dan pandanga-pandangan gereja tentang seks, peran kaum peremuan dan sikap gereja Katolik terhadap homoseksual. Kelompok lainnya berpendapat, otoritas keuskupan dan Paus harus dijalankan dengan penuh ketaatan. Tapi kalangan Konservatif melihat krisis yang dialami Gereja Katolik sebagai peluang untuk memperkuat kritik mereka terhadap kecabulan dan seks bebas budaya modern dan menekankan pentingnya kembali ke budaya tradisional dan ajaran agama Katolik seperti yang tertulis dalam Alkitab. (ln/time)  ~~era muslim

Lihatlah azab Allah SWT pada yahudi


http://vthumb.ak.fbcdn.net/vthumb-ak-sf2p/v33376/74/18/100000545856414/b100000545856414_131358730225655_366.jpg
Lihatlah jiwa mereka yang tidak takut dengan azab Allah SWT.
http://www.facebook.com/home.php?#!/video/video.php?v=131358730225655

Video cara yahudi merampas rumah rakyat Palestin yang tua




Cerpen budak darjah 4 ( lawak habis )



14/7
Credit post to metaaura. Thanks~~
Pagi itu pagi minggu.
Cuaca cukup sejuk sehingga mencapai takat suhu beku.
Sebab itu saya tidak mandi pagi sebab air kolah jadi air batu dan air paip tidak mahu keluar sebab beku di dalam batang paip. Pagi itu saya bersarapan dengan keluarga di dalam unggun api kerana tidak tahan sejuk.Selepas itu emak saya mengajak saya menemaninya ke pasar. Tetapi saya tidak mahu. Selepas emak menikam perut saya berkali-kali dengan garfu barulah saya bersetuju untuk mengikutnya.
Kami berjalan sejauh 120 kilometer kerana pasar itu letaknya 128 kilometer dari rumah.Lagi 8 kilometer nak sampai pasar saya ternampak sebuah lori kontena meluru dengan laju dari arah belakang. Dia melanggar emak saya. Emak saya tercampak ke dalam gaung. Dia menjerit “Adoi!”. Lepas itu emak saya
naik semula dan mengejar lori tersebut. Saya pun turut berlari di belakang emak saya kerana takut emak saya melanggar lori itu pula. Pemandu lori itu nampak kami mengejarnya. Dia pun memecut lebih laju iaitu sama dengan kelajuan cahaya.
Kami pula terpaksa mengejar dengan lebih laju iaitu sama dengan dua kali ganda kelajuan cahaya. Emak saya dapat menerajang tayar depan lori itu. Lori itu terbabas dan melanggar pembahagi jalan lalu bertembung dengan sebuah feri. Feri itu terbelah dua. Penumpang feri itu yang seramai 100 orang semuanya mati. Pemandu feri itu sangat marah. Dia pun bertukar menjadi Ultraman dan memfire pemandu lori. Pemandu lori menekan butang khas di
dalam lori dia..lori itu bertukar menjadi robot Transformer. Mereka bergaduh di udara. Emak saya tidak puas hati. Dia pun terus menyewa sebuah helikopter di Genting Highlands dan terus ke tempat kemalangan. Dia melanggar pemandu feri yang telah bertukar menjadi Ultraman itu. Pemandu feri itu terkejut dan terus bertukar menjadi pemandu feri semula lalu terhempas ke jalanraya. Pemandu feri itu pecah. Pemandu lori sangat takut melihat kejadian itu. Dia meminta maaf dari emak saya. Dia menghulurkan tangan ingin bersalam. Tetapi emak saya masih marah. Dia menyendengkan helikopternya dan mengerat tangan pemandu lori itu dengan kipas
helikopter. Pemandu lori itu menjerit “Adoi..!” dan jatuh ke bumi. Emak say menghantar helikopter itu ke Genting Highlands. Bila dia balik ke tempat kejadian, dia terus memukul pemandu lori itu dengan beg tangannya sambil memarahi pemandu lori itu di
dalam bahasa Inggeris. Pemandu lori itu tidak dapat menjawab sebab emak saya cakap orang putih. Lalu pemandu lori itu mati. Tidak lama kemudian kereta polis pun sampai.
Dia membuat lapuran ke ibu pejabatnya tentang kemalangan ngeri itu. Semua anggota polis di pejabat polis itu terperanjat
lalu mati. Orang ramai mengerumuni tempat kejadian kerana ingin
mengetahui apa yang telah terjadi. Polis yang bertugas cuba menyuraikan orang ramai dengan menggunakan pembesar suara. Orang ramai terperanjat dan semuanya mati. Selepas itu emak saya mengajak saya ke pasar untuk mengelak lebih ramai lagi
yang akan mati. Di pasar, emak saya menceritakan kejadian itu kepada penjual daging. Penjual daging dan peniaga-peniaga berhampiran yang mendengar cerita itu semuanya terkejut
dan mati. Saya dan emak saya terus berlari balik ke rumah. Kerana terlalu penat sebaik saja sampai di rumah kami pun mati. Itulah kemalangan yang paling ngeri yang pernah saya lihat
sebelum saya mati.

Pengakuan KISAH BENAR banduan rogol anak sendiri

Hati pakcik makin hari makin resah. Anak gadis sulung pakcik, Julie (bukan nama sebenar) sering pulang lewat ke rumah.
Dia juga sudah tidak berminat untuk belajar sehingga memaksapakcik menghentikannya daripada sekolah.
Puaspakcik menegur dan memarahi anak pakcikitu tetapi ia berlalu bagaikan mencurah air di daun keladi, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
Lebih membimbangkan, apabila beberapa orang rakan sekerja pakcik memberitahu yang mereka pernah terserempak dengan Julie di salah sebuah pusat hiburan di Bukit Bintang.
Menurut mereka, pakaian Julie ketika itu sangat seksi dan sedang berpelukan dengan lelaki bukan Melayu.
Walaupun jauh di sudut hati pakcik tidak mahu mempercayai kata rakan-rakannya itu, tetapipakcik sedar sesuatu harus dilakukan, bak kata pepatah kalau tidak ada angin, mana mungkin pohon bergoyang.
Oleh kerana tidak mahu membuat tuduhan melulu,pakcik mengambil keputusan untuk menyiasat sendiri pergerakan anak gadis pakcikitu.
Pakcikakhirnya akur. Sesuatu harus dibuat sebelum nasi menjadi bubur.
Suatu malam ketika sedang menonton televisyen di rumah bersama isteri, pakciktercium bau wangi.
Ketika itu pakcik lihat Julie sudah siap bersolek dan berpakaian seolah-olah hendak pergi party.
Setelah ditanya berkali-kali, akhirnya Julie mengaku hendak ke disko bersama teman lelakinya.
Apalagi mengamuk sakanlah pakcik!
Pakcik marah Julie semahu-mahunya.
Nasib baiklah isteri pakcik cepat meredakan suasana, kalau tidak sudah pasti pipi Julie melekat dengan penampar sulung pakcik.
Sejak itulah agaknya dia mula sakit hati dan memasang dendam terhadap pakcik, katanya pada aku yang menemubualnya di bilik rekod Penjara Kajang.
Menurutnya, selepas insiden itu perangai Julie tiba-tiba berubah menjadi baik dan tidak lagi berani keluar malam.
Sebagai bapa, katanya, siapa yang tidak gembira dengan perubahan itu.
Namun yang agak menghairankannya ialah Julie semakin manja dengannya.
Bahkan adakalanya Julie yang berumur 15 tahun itu tidak segan silu tidur di atas ribanya, mengurut kakinya dan pernah satu ketika membelai-belai rambutnya.
Pun begitudia dan isterinya langsung tidak menaruh sebarang syak wasangka terhadap kelakuan anak mereka.
Sehinggalah pada suatu hari sewaktudia tinggal berdua dengan anaknya itu di rumah mereka.
Ketika itu isterinya sudah keluar ke pejabat.
Tiba-tibapakcik terdengar suara sayup-sayup memanggil namanya.
Abah, masuk kejap dalam bilik, kata Julie.
Pakcikyang tidak menyangka sebarang keburukan akan berlaku, terus ke bilik Julie.
Alangkah terperanjatnya pakciksewaktu masuk ke dalam bilik tersebut, kerana anak perempuan pakcikitu hanya memakai coli dan seluar ketat getah berwarna hitam.
Belum sempat dia berkata apa-apa, tiba-tiba Julie merangkul tubuh dan mencium bibirnyadengan rakus.
Serentak dengan itu juga Julie melondehkan seluarnya dan berlakulah perbuatan terkutuk antara bapa dan anak kandung sendiri.
Walaupun ia merupakan dosa besar tetapi imanpakcik ketika itu terlalu lemah,pakcik tewas dengan nafsu sendiri sehingga tidak mampu membezakan yang mana baik dan yang mana buruk.
Yang menghairankan pakcik, sewaktu tengah `bersama tiba-tiba ada suara halus yang berbisik di telinga, ia seolah-olah memberitahu yangpakcik sudah jauh terpesong.
Pakcik yang terkejut dengan suara itu terus menolak tubuh Julie dan menyarungkan semula pakaian pakcik. Dalam erti kata lain `kejadian itu berlaku tidak sampai tiga minit, katanya.
Menurut pakcik, anak gadisnya ketika itu hanya ketawa manja melihat kelakuannya, malah sempat merengek agar `permainan yang terhenti itu disambung semula.
Dia bagaimanapun tidak menghiraukan pujukan Julie dan terus keluar dari rumah.
Semuanya berjalan seperti biasa selepas hari itu seolah-olah tidak ada apa-apa yang berlaku.
Bagaimanapun ketika dia pulang kerja pada suatu malam, isterinya tiba-tiba menangis sambil memberitahu yang Julie mengaku telah mengandung tiga bulan, dan menuduh dia sebagai orang yang bertanggung jawab ke atas perbuatan terkutuk itu.
Akhirnya barupakcik tahu yang Julie sebenarnya sudah memasang perangkap untuk mengenakan pakcik, setelah teman lelakinya bertindak meninggalkannya.
Julie yang memang berdendam denganpakcik merasakan inilah saat terbaik untuk membalas dendam kesumatnya itu.
Pun begitupakcik yang paling bersalah dalam hal ini,pakcik sepatutnya melindungi Julie ke jalan yang benar dan bukannya tewas dalam perangkapnya, kata pakcik.
Setelah dihadapkan ke mahkamah, dia terus mengaku salah dan dikenakan penjara selama 10 tahun dan 12 sebatan.
Dia yang baru menjalani hukuman penjara selama dua tahun itu bagaimanapun kini sedang merayu kepada mahkamah agar hukuman sebat itu dikurangkan seminimum mungkin.
Ujarnya, dia mungkin tidak mampu menahan azab sebatan itu kerana usianya kini sudah mencecah 49 tahun.
Dia turut menasihatkan ibu bapa supaya meluangkan lebih masa dengan anak-anak dan pada masa yang sama jangan terlalu memberikan kebebasan kepada mereka.
Pakcik terlalu menyesal dengan kejadian ini tetapi ia sudah tidak berguna lagi.
Pakcik juga tidak tahu adakah dosa saya akan diampunkan kerana binatang sendiri pun tidak sanggup menodai anaknya sendiri.
Kepada Julie, abah minta maaf dari hujung rambut hingga ke hujung kaki di atas apa yang berlaku ini, katanya.
Sebelum kami menamatkan perbualan penulis ada bertanyakan isterinya tetapi pakcik berkata: Baru-baru ini dia ada menghantar surat untuk berceraipakcik belum memikirkannya tetapipakcik tahu lambat launpakcik terpaksa juga
melepaskannya.

Gambar-gambar unik National Geographic



14/7

National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo
National Geographic Magical Moment Photo

Daerah sunyi tanpa penyu



14/7


“PENYU ada. Di sebelah sana ada beberapa buah tangki. Di dalam tu ada penyu pelbagai saiz.” Itu jawapan yang diterima ketika penulis bertanya di mana kawasan orang ramai boleh melihat penyu mendarat untuk bertelur ketika tiba di Rantau Abang, Dungun, Terengganu baru-baru ini.
Jawapan itu merujuk kepada beberapa tangki di tepi pantai itu yang dibangunkan oleh Jabatan Perikanan dengan tujuan menempatkan penyu lipas dan penyu agar.
Kawasan itu suatu ketika dahulu pernah menjadi lokasi pendaratan penyu terutamanya penyu belimbing iaitu spesies yang cukup terkenal di serata dunia.
Pada zaman kemuncaknya, setiap malam pada musim penyu bertelur antara April hingga Julai, sekurang-kurangnya 80 ekor penyu akan mendarat di sepanjang pantai tersebut.
Biarpun penulis pernah mendengar cerita bahawa penyu di Rantau Abang sudah ‘merajuk’, namun perasaan ingin melihat haiwan tersebut singgah di situ tetap terasa.
Kecewa dengan respons yang diterima, penulis menekankan lagi soalan yang lebih spesifik agar jawapan yang diterima mengikut kehendak.
“Mana ada penyu lagi di sini, saya yang hari-hari tinggal menghadap pantai ini pun kali terakhir melihat penyu bertelur di sini kira-kira lima tahun lalu.
“Itupun sebab saya bernasib baik tetapi itu bukan penyu belimbing, kalau tak silap saya penyu lipas,” ujar pekerja sebuah resort di situ, Rosli Mohd. Rawi, 44.
Sepatutnya jawapannya sudah boleh diagak memandangkan ketika tiba di pantai itu pada hujung minggu yang turut jatuh pada cuti persekolahan baru-baru ini, pantai itu lengang.

PENYU Belimbing antara spesies penyu yang paling banyak mendarat di Rantau Abang.

Tidak teruja
Menurut Rosli, soalan yang sama pernah ditanya kepadanya beribu kali kerana hampir setiap pengunjung yang singgah akan bertanya perkara tersebut.
“Pantai ini cantik, kalau tidak boleh tengok penyu bertelur pun boleh buat aktiviti lain,” katanya yang mengakui pengunjung sudah tidak teruja untuk mengunjungi pantai Rantau Abang.
Nama Rantau Abang masih diingati dan tetap memberi kesan kepada orang ramai yang menyangkakan mereka masih boleh melihat penyu mendarat dan bertelur di situ.
Memang benar, mereka masih boleh tengok penyu tapi bukan penyu yang datang mendarat. Sebaliknya, penyu peliharaan yang dijadikan bahan penyelidikan di dalam satu kawasan di pantai tersebut.
Namun, kehilangan penyu di kawasan itu turut melenyapkan tarikan utama kawasan itu. Pada zaman kemuncaknya Rantau Abang pernah menyaksikan ratusan pengunjung membanjiri pantai sepanjang 3.2 kilometer (km) itu.
Sebagai orang lama yang pernah mengambil tender mengutip telur penyu di pantai itu, Mohd. Nor Hamid, 71, sehingga kini seolah-olah masih tidak percaya dengan perubahan yang berlaku.
“Jika saya mati sekitar tahun 70-an dan hidup semula pada zaman ini tentunya saya tidak percaya penyu di sini sudah hampir pupus,” katanya yang memberitahu penyu di situ hilang secara tiba-tiba.
Selepas tahun 1984, jumlah penyu susut secara mendadak. Haiwan itu terus hilang dari semasa ke semasa dan penyu belimbing yang pernah menjadi kebanggaan kawasan itu juga tidak sudi singgah di situ.
Menurutnya, dia tidak tahu punca sebenar penyu tidak mahu datang lagi ke tempat itu. Ada yang menyatakan ia disebabkan kerja-kerja cari gali minyak di sekitar perairan negeri itu.


“Tetapi bagi saya, semua itu tidak menjejaskan penyu yang datang ke sini sebab ia dilakukan jauh di tengah laut namun saya tidak menolak sekiranya nelayan dipersalahkan.
“Ramai yang keluar ke laut menggunakan pukat yang tidak sesuai menyebabkan banyak penyu terperangkap dan mati,” katanya yang turut menyatakan langkah pencegahan tidak diambil dari awal.
Pada waktu itu, penduduk di kawasan itu tidak pernah membayangkan dan tidak menyangka mereka hanya boleh melihat penyu pada waktu itu menyebabkan mereka semua tidak beringat.
Menurut Mohd. Nor, jumlah penyu ketika itu terlalu banyak dan mereka sentiasa bersaing mencari kawasan yang masih kosong untuk bertelur pada setiap malam.
Dia yang mengambil tender memungut telur penyu daripada Jabatan Perikanan terpaksa mengupah beberapa pekerja bagi melakukan kerja-kerja ter sebut.
“Setiap malam, yang saya dapat lihat sendiri (penyu bertelur) sekurang-kurangnya 50 ekor,” katanya yang meronda setiap malam sehingga Subuh di sepanjang pantai tersebut setiap hari pada masa itu.
Imbau sejarah
Namun, semua itu hanya kisah lama kerana kini ia tinggal kenangan apabila kesemua penyu itu ghaib ekoran kurangnya kesedaran untuk menjaganya.
Jika penyu masih singgah, tentu kawasan itu masih meriah bahkan mungkin lebih meriah berbanding dahulu kerana hari ini Rantau Abang hanyalah sebuah tempat persinggahan.
Kedudukannya yang terletak di tepi jalan utama Kuala Terengganu – Kuantan menyebabkan masih ramai lagi yang singgah di situ untuk mengimbau sejarah silam.

PUSAT Penyu dan Ekosistem Marin di Rantau Abang, Dungun yang dibangunkan oleh Jabatan Perikanan.

Imam di Masjid Rantau Abang itu menjelaskan, kali terakhir dia melihat penyu singgah di pantai itu ialah pada September tahun lalu iaitu penyu agar selepas beberapa tahun sebelum itu dia tidak melihatnya.
“Jika ada orang datang ke sini dan bertanya macam mana hendak tengok penyu saya akan beritahu susah nak tengok penyu.
“Jika nak tengok juga tinggallah di calet untuk beberapa malam dan kalau bernasib baik ada lah,” katanya.
Dalam pada itu, Pengarah Perikanan Terengganu Zakaria Ismail menjelaskan, penyu di ancam kepupusan dan agak sukar untuk mengembalikan keadaan seperti dahulu.
“Selain faktor semula jadi, mengikut rekod kebanyakan penyu mati di antara bulan Januari hingga April iaitu pada bulan penyu mendarat.
“Pada waktu ini banyak penyu akan menghampiri pesisir pantai tetapi ada antara mereka yang tidak sempat sampai ke pantai akibat tersangkut pada pukat nelayan atau terkena kipas bot lalu mati,” katanya.
Tahun lalu sebanyak 28 ekor penyu agar dan seekor penyu karah ditemui mati. Angka tersebut sangat membimbangkan kerana penyu kini diancam kepupusan.
“Penguatkuasaan sentiasa dijalankan terutamanya di kawasan pesisir dan pantai tempat penyu bertelur tetapi saban tahun perkara ini terus berulang menyebabkan penyu semakin kurang,” katanya.
Sementara itu, Pengarah Pejabat Kementerian Pelancongan Negeri Terengganu, Ahmad Fathil Abd. Ghani memberitahu, pihaknya kini giat mempromosikan Rantau Abang sebagai tempat yang pernah menjadi kawasan pendaratan penyu.
KIRI: Atan menunjukkan rekod penyu Belimbing mendarat dan bertelur di Rantau Abang pada Julai 1985 yang masih dalam simpanannya.


Antara produk pelancongan yang terdapat di situ ialah batu penyu yang terletak di Bukit Che Hawa kira-kira 1.5 km menghadap ke pantai Rantau Abang.
Batu itu mempunyai kisah tersendiri kerana pada zaman dahulu terdapat dua ekor penyu gergasi. Salah satu daripadanya naik ke Bukit Che Hawa dan satu lagi di tepi pantai tersebut. Ia dikatakan permulaan penyu mendarat di situ.
Bagaimanapun batu penyu di tepi pantai itu sudah tertimbus tetapi batu penyu di Bukit Che Hawa dipulihara untuk dijadikan salah satu produk pelancongan di kawasan itu.
Selain itu, Pusat Penerangan Penyu dan galeri Pusat Penyu dan Ekosistem Marin (Tumec) serta tarikan alam semula jadi di kawasan itu turut menarik kedatangan pelancong ke kawasan itu walaupun tidak sehebat dulu.
kredit : kosmo.com.my