Pages

Sunday, April 4, 2010

ULAMA DAN PARA WALI


Assalamualaikum Wr Wb 
Ulama (jama` dari orang alim), Ulama bisa dibilang Ulama bila dia telah memahami 3 hal :
1. Ilmu Syariat
2. Ilmu Thariqat
3. Ilmu Haqeqat
Sesungguhnya ulama telah disebutkan di dalam Al-Qur`an dan Hadits Nabi SAW bahwa Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu.
Nabi SAW bersabda : “Ulama warisannya para nabi” dan Nabi SAW bersabda yang diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud : “Wahai Ibnu Mas`ud, duduknya kamu satu jam di majlisnya orang alim, tidak memegang pena atau pulpen dan tidak menulis satu huruf pun maka lebih baik kamu daripada kamu memerdekakan seribu orang budak, dan melihatnya kamu ke wajah orang alim, maka lebih baik kamu dari pada kamu menyedekahkan seribu kuda di jalan Allah SWT dan mencium tangannya orang alim, maka lebih baik kamu dari pada kamu beribadah seribu tahun”.
Berkata Nabi SAW : “Satu orang ahli ilmu seperti ulama yang waro (apik) lebih ditakutkan syaiton dari pada seribu orang ahli ibadah yang bersungguh-sungguh tetapi dia bodoh”.
Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang mencari ilmu kepada seorang ulama maka Allah akan mengampuni dosanya sebelum dia melangkah”.
Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang memandang kepada seorang alim dengan memandang pandangan gembira, maka Allah SWT menjadikan pandangannya dengan Allah menciptakan para Malaikat yang khusus untuk memintakan ampun kepada Allah untuk orang yang memandang ulama”.
Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang memuliakan orang alim, maka dia telah memuliakan aku, dan barang siapa yang  telah memuliakan aku, maka dia telah memuliakan Allah, barang siapa yang telah memuliakan Allah maka tempatnya adalah di syurga”.
Berkata Nabi SAW : “Tidurnya orang alim lebih baik dari pada ibadahnya orang jahil atau bodoh”.
Jelas hadits di atas bahwa ulama adalah kekasih Allah SWT dan kekasih Nabi SAW, Ulama-ulama Nabi Muhammad SAW adalah ulama yang mengajak umat mengajarkan kepada kebesaran Allah SWT dan mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW serta menerangkan kepada mereka tentang :
1. Ilmu Wajib
2. Ilmu Sunah
3. Ilmu Makruh
4. Ilmu Mubah
5. Ilmu Subhat
Di dalam ilmu syari`at, thareqat dan haqeqat.
Hakekatnya tugas ulama kepada orang awam adalah mengajarkan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, agar ketauhidan dan keyakinan mereka tidak berubah dari kemegahan dunia serta isinya.
Apakah Para Wali Itu ?
Aulia atau Wali adalah ulama yang mengamalkan ilmu Allah SWT, ada yang diberi dan ada yang harus dengan belajar.
Aulia atau Wali adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dicita-citakan untuk orang tersebut menjadi wali. Para Aulia atau Wali mereka kebanyakan beristiqomah/konsisten/kontinyu di dalam mengamalkan amal ibadah kepada Allah SWT, tetapi Aulia ini dibagi 2 :
1. Aulia atau Wali yang di mulai dengan menuntut ilmu
Aulia atau Wali ini akan lebih dipelihara oleh Allah SWT dengan ilmu yang dimilikinya karena dia memahami karunia yang telah diberikanNya, maka dia akan menjaga dengan sebaik-baiknya, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya para wali-wali Allah tidak merasakan takut dan tidak merasakan sedih”.
Ayat di atas jelas bahwa Allah SWT ridho kepadanya dan dia ridho kepada Allah SWT, baik apa yang Allah berikan kesenangan maupun kesusahan, tidak ada di hati para Wali Allah itu mengeluh karena mereka selalu bersyukur dan hari-harinya bertambah kebaikan sehingga Allah memberikan kelas yang tinggi disisi-Nya dengan beberapa macam kelas, para Wali Allah itu seperti ilmu padi, hati mereka makin terisi dengan cahaya, maka makin tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah SWT.
Sesungguhnya telah jelas para Wali-wali Allah di dalam sabda Nabi SAW bahwa Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya bila seseorang hamba Allah dicintai oleh-Nya maka Allah akan menjadikan matanya adalah mata-Ku, kupingnya adalah kuping-Ku, mulutnya adalah mulut-Ku dan gerakannya adalah gerakan-Ku dan barang siapa yang mengganggunya maka dia siap berperang dengan-Ku”.
Maka demikian itu Allah memberikan kelebihan kepada mereka berupa kelebihan yang diluar akal manusia yang dinamai dengan “Karomah”.
Karomah
Karomah atau sering disebut dengan Keramat (Kemuliaan), kemuliaan disebabkan karena pengamalan ilmu mereka sehingga menimbulkan efek-efek kebaikan, mereka tidak rela melihat orang-orang fukoro atau masakin kesusahan, mereka selalu menjaga anak-anak yatim dan banyak sekali amal kebaikan yang menimbulkan karomah atau kemuliaan.
Sebagian dari ulama menafsirkan bahwa karomah atau kemuliaan Allah berikan kepada para Wali-wali Allah seperti hal-hal yang tidak diberikan kepada hamba-hamba Allah yang biasa seperti contohnya : ada mereka yang bisa menyembuhkan orang yang buta, ada mereka yang bisa berjalan di air atau di udara atau hal-hal yang diluar kebiasaan manusia, akan tetapi hakekatnya bahwa para wali Allah itu mulia karena mereka memuliakan undang-undang Allah SWT. Diantara mereka banyak sekali dan tidak terhitung jumlahnya dan tidak ada satu orang walipun yang mengakui dirinya wali.
2. Aulia atau Wali yang diberikan dengan karunia Allah tanpa belajar
Ada pula Aulia atau Wali yang diberikan dengan karunia Allah tanpa belajar tetapi banyak dari pada mereka yang tidak bisa menjaganya seperti contohnya Barsesoh yang diberikan kemuliaan semua muridnya bisa terbang, akan tetapi karena tidak memiliki ilmu dia menghalalkan segala cara sehingga dia mati dalam keadaan yang buruk.
Wassalam

BERSIAP MENGHADAPI AL – MAUT


 Kita sama-sama maklum bahwa manusia akan meninggalkan dunia, dan semua manusia yang hidup di dunia ini akan memasuki alam akhirat, timbullah dua pertanyaan dalam hati kita :
Kalau kita meninggalkan dunia, apakah yang paling bailk kita tinggalkan di dunia ini ?, apakah tidak perlu ada yang kita tinggalkan di dunia ini ? seperti meninggalnya cacing ?, apakah perlu harus ada yang kita tinggalkan di dunia ini ?.Kalau toh gajah meninggalkan gading, si macan meninggalkan belang, mengapa kita sebagai manusia makhluk yang begitu mulya, tidak ada yang patut kita tinggalkan ?. Kalau toh ada yang perlu kita tinggalkan, apakah yang paling baik kita tinggalkan didunia ini ?.
Dan kalau kita memasuki alam akhirat, apakah yang paling baik kita bawa kesana ?
Dua pertanyaan ini dijawab oleh Rosululloh S.A.W.
(KHOIRU MAA YUKHOLLAFUL INSAANU BA'DAHUM TSALAATSUN, WALADUN SHOLICHUN YAD'UU LAHU, WASHODAQOTUN TAJRII ABLUGHUHU AJROHA WA'ILMUN YUNTAFA'UBIHI MIN BATH).
Bersabda Rosululloh S.A. W.:
"Sebaik-baik sesuatu yang ditingalkan manusia setelah ia meninggal  dunia, adalah tiga macam :
1-Anak yang sholih, yang mereka mau mendo'akan kepadanya (tentang ampunan dan keselamalan orang tuanya).
2-Shodaqoh, yang mengalir kebaikannya sampai kepadanya. 
3-Ilmu yang di ambil manfa'atnya bagi orang yang ke syurga.
Hanya tiga macam inilah peninggalan manusia yang paling utama, paling baik, paling bernilai,INDALLOH didunia ini.
1.WALADUN SHOLIHUN adalah generasi yang baik, baik terhadap dirinya sendiri, baik terhadap orang tuanya, baik terhadap keluarganya,baik terhadap masyarakatnya, baik terhadap bangsanya, baik terhadap tanah airnya, baik terhadap negaranya, baik terhadap agamanya. Itulah peninggalan pertama yang paling baik.
2.SHODAQOH JARIYYAH mentasarrufkan, mengorbankan, menafkahkan sebagian hak harta bendanya untuk kebaikan, untuk kemaslahatan umum, boleh untuk bangunan masjid, untuk musholla, untuk madrosah, panti-panti asuhan, tempat-tempat umum yang bertujuan baik INDALLOH. Harta benda kita sebagian kita transfer ditempat-tempat tersebut, dari situlah naik menerobos sampai ke alam akhirat.
3.ILMUN YUNTAFA'UBIHI ilmu yang diambil manfa'atnya oleh generasi yang akan datang terus menerus sambung bersambung.
Alangkah bahagianya, alangkah ni'matnya di alam akhirat bagi orang yang meninggal dunia meninggalkan salah satu peninggalan tersebut, apalagi sampai dapat meninggalkan tiga macam tersebut.
Sebaliknya alangkah besar derita yang disandang manusia di alam akhlrat yang tidak mempunyai salah satu dari peninggalan tersebut.
Jawaban Rosululloh yang ke dua, apakah yang paling baik kita bawa untuk memasuki alam baqo', setelah kita meninggalkan alam fana'?
jawaban Rosululloh :
QOOLA ROSUULULLOH S.A.W. :
KHOIRUZ ZAADIT TAQWAA.
Bersabda Rosululloh S.A. W :
" Sebaik-baik bekal untuk akhirat adalah Taqwa.
Oleh sebab taqwa inilah sebaik-baik bekal untuk hidup di akhirat maka ajakan TAQWALLOH itu menjadi rukun khutbah bagi khutbah jum'at, khutbah ledul fitri, khutbah ledul ad'ha, atau khotbah nikah yang tanpa ada ajakan taqwalloh hukumnya tidak sah.
Selanjutnya bagaimanakah sikap kita terhadap dua jawaban itu?, ini yang paling panting!, setelah kita mendapatkan dua jawaban dari Rosululloh, bagaimana sikap kita ?
Bagi orang yang betul-betul ingin bahagia di alam akhirat, kita ucapkan ALHAMDULILLAH terhadap Alloh dan Rosululloh, bersyukur kepada Alloh dan Rosululloh, telah kita dapati jawaban yang HAQ, Kemudian tiap jawabanitu kita realisasikan, kita aktualkan didalam diri kita masing-masing melalui jalan ilmu dan amal, yang ilmu dan amal itu keduanya kita peroleh dari petunjulk Al Qur'an dan Hadits nabi Muhammad S.A.W.
Diantara usaha untuk mencapai taqwalloh dalam Al Qur'an disebutkan yaitu puasa di dalam bulan Romadhon, tersebut dalam Al Qur'an :
 ( YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU KUTIBA ALAIKUMUS SHIYAAMU KAMAA KUTIBA 'ALAL LADZINA MIN QOBLIKUM LA'ALLAKUM TATTAQUUN ).
" Wahai orang-orang yang beriman! telah diwajibkan atas kamu puasa (yakni Romadhon) sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kamu, agar kamu mencapai tingkat taqwalloh.”
Kita diberi kesempatan oleh Alloh Ta'ala dipertemukan dengan SAYYIDIS SYUHUR dipertemukan dengan bulan Romadhon, kita diberi kesempatan umur kita dipertemukan dengan bulan Al Qur'an, dipertemukan dengan bulannya Alloh, dipertemukan dengan bulan bi'tsah Rosululloh, dipertemukan dengan bulan barokah, dipertemukan dengan bulan rohmat.
Didalam bulan Romadhon itu diberi kesempatan untuk mencapai tingkat taqwalloh  engan jalan melaksanakan puasa Romadhon satu bulan penuh. sebagai orang yang tahu nilai hidup, tidaklah patut membiarkan kesempatan itu dengan menyia-nyiakannya,  menyia-nyiakan diri kita masing-masing, tidaklah wajar mendholimi diri kita dengan tidak memanfa'atkan kesempatan dibulan Romadhon untuk ibadah kepada Alloh dengan sebaik-baiknya. Apakah nilai hidup ini kalau tidak  terisi dengan taqwalloh, hidup tanpa isi  taqwalloh bagi Alloh tidak ada apa-apanya, tidak ada nilainya, kosong. 
Apa artinya hidup berpuluh-puluh tahun, beratus-ratus tahun, apabila tidak terisi taqwalloh?, hidup yang kosong dari taqwalloh itu tak ada artinya sama sekali. Apakah makna hidup ini sejak lahir sampai wafat?, apa maknanya bagi Alloh apabila tidak terisi taqwa dalam roh kita? tidak ada maknanya,tidak ada artinya, tidak ada nilainya INDALLOH.
Wal hasil, bagi Alloh Ta'ala hidup yang tanpa ada isinya taqwalloh walaupun seribu tahun, adalah hidup yang tak ada artinya, tidak mempunyai arti apa-apa, hidup yang tidak ada maknanya, hidup yang merana, hidup yang sia-sia, hidup yang tak bemilai sama sekali
Shohabat Abu Bakar Shiddiq R.A. menerangkan dalam kitab "AYYUHAL WALAD" yang dinukil oleh hujjatul islam Imam Ghozali R.A. Kata Abu Bakar Shiddiq : "Hidup yang di dalamnya tak ada taqwalloh hanya merupakan kandang, yang didalamnya hanya berisi hayawan dan makanannya dan kotoran-kotoran hayawan yang dimakan."
Rasakanlah, fikirkanlah apa yang dikatakan Shohabat Abu Bakar yang dinukil oleh Imam Ghozali tersebut, dari luar tampaknya bentuk manusia yang bagus, akan tetapi hakekatnya hanyalah kandang hayawan yang numpuk kotorannya didalamnya, mungkin ada hayawan kerbau, hayawan sapi, macan, anjing, babi, dan lain-lainnya.
(ULAAIKA KAL AN'AM) bisakah bagi orang yang berfikir waras hidup seperti itu bernilai? tak ada, tidak mungkin.
Untuk dapat meninggalkan anak yang sholeh, haruslah kita mewariskan sesuatu yang paling baik kepada anak kita.
Apakah warisan yang paling baik yang perlu kita wariskan kepada anak kita?, apakah warisan harta benda?, apakah warisan kedudukan?, apakah warisan pengikut banyak?, apakah warisan nama baik?, itu semuanya orang yang tidak beragama pun bisa mengatakan demikian, tapi kita ini orang yang beragama, terutama beragama Islam tentulah masalah warisan yang paling baik kita tinggalkan kepada anak cucu kita itu, harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Rosululloh.
Apakah warisan itu? Rosulullloh memberi keterangan
( MAA NAHALA WAALIDUN WALADAHU AFDLOLU MIN ADABIN HASANIN ).
“ Tiadalah warisan orang tua yang paling baik kepada anaknya yang melebihi warisan, yang di namakan ADABIN HASANIN. "
ADABIN ) Toto kromo. ( HASANIN ) yang baik. 
Itulah warisan yang paling baik.
( ADABIN HASANIN 'ILALLOH ) - Tata krama sebagai hamba, harus mempunyai tata krama yang baik kepada Alloh.
( ADABIN HASANIN ILARROSUL) -  Tate krama yang baik kepada Rosul.
( ADABIN HASANIN ILADDIIINIHI ) - Tata krama baik terhadap agamanya sendiri, (jangan dicemarkan agamanya, jangan dirobek-robek, jangan dinodai, itulah orang yang beradab hasan terhadap agama).
( ADABIN HASANIN ILAA WAALIDAIHI) - Tata krama yang baik terhadap orang tuanya.
( ADABIN HASANIN ILAA NAFSIHI) - Tata krama yang baik terhadap dirinya sendiri, (fikiran tidak disia-siakan, perasaan tidak disia-siakan, dirinya adalah berlian yang hidup haruslah dimanfa'atkan bukan malah didholimi, diinjak-injak, malah dibenamkan dalam lumpur kedholiman dan kekufuran, itu orang yang tidak adab, tidak beradab terhadap ditinya sendiri),
( ADABIN HASANIN ILAA AALIHI) - Harus mempunyai tata krama yang baik kepada keluarganya.
( ADABIN HASANIN ILAA MA'AASYIRIHI ) - Tata krama yang baik terhadap masyarakatnya.
( ADABIN HASANIN ILAA WATHONIHI) - Adab yang baik terhadap tanah aimya.
( ADABIN HASANIN ILANNAAS) - Tata krama yang baik terhadap sesama manusia.
Itulah warisan yang paling baik tehadap anak-anak kita.
Kalau toh kita itu ingin anak-anak kita itu menjadi WALADUN SHOLIH kecuali kalau tidak, kalau ingin menjadi anak yang sholeh harus usaha bagaimana anak kita itu bisa menjadi anak yang ADABIN HASANIN ILALLOH, ILARROSUL, ILADDIN, ILAA WAALIDAINI, dan sebagainya.
Sumber : Khutbah Jum'at

TIGA PESAN JIBRIL A.S.


Pada suatu saat malaikat Jibril A.S. datang kehadapan 'Rosululloh S.A W. menyampaikan tiga macam nasehat untuk Rosululloh dan untuk seluruh ummat manusia. Sebagaimana diterangkan oleh Rosululloh .
QOOLA ROSULULLOHI S.A.W..QOOLA LIIJIBRIILU YAA MUHAMMAD! 'ISH MAA SYI'TA FAINNAKA MAYYITUN, WAAHBIB MAA SYI'TA FAINNAKA MUFAARIQUHU, WA'MAL MAA SYI'TA FAINNAKA MULAAQIIHI.
"Wahai Muhammad! Hiduplah semaumu, ingatlah engkau akan mati, dan cintailah seluruh isi dunia ini sekehendakmu, tapi engkau akan dipisahkan, dan ber-amal-lah semaumu, ingatlah engkau akan bertemu akan balasanya. " 
Nasehat yang pertama sayyid Jibril A.S.
(ISH MAA SYI'TA FAINNAKA MAYYITUN ) 
"Hiduplah semaumu, tapi ingatlah engkau akan mati.
Boleh kamu hidup menurut gayamu, apakah kamu hidup menurut gaya kota, gaya desa, gaya orang kaya, dan sebagainya, boleh.
Akan tetapi manusia hidup akan di akhiri dengan al maut.
Oleh sebab manusia hidup menghadapi al maut, maka dianjurkan oleh agama kita harus berani nenghadapi hidup.
apakah artinya berani menghadapi hidup itu ?
artinya manusia hidup harus berani menghadapi macam-macam cobaan hidup, tantangan-tantangan hidup.
cobaan hidup ada dua macam, tersebut dalam Al Qur'an :
(WAABALAUNAAHUM BIL HASANAATI WAS SAYYIAATI LA’ALLAHUM YARJI’UUN)
'Dan  Aku memberi cobaan kepada mere

HAKIKAT IBLIS (AZAZEL) MENURUT AL HALLAJ Oleh: si bisu


Dalam Kitab at-Tawasin karya besar Mansur al-Hallaj:
Gusti bertanya pada Azazel,"Mengapa kau enggan bersujud pada Adam?",
 Azazel menjawab,"Tiada yang patut kuagungkan selain Diri-Mu".
Gusti bertanya balik,"Kendati kau akan menerima kutukan-Ku?".
Azazel menjawab,"Tidak mengapa, karena hasrat hatiku tak sudi condong pada yang lain. Hamba hanyalah an abject lover".
Kemudian Azazel bersyair: "Kendati Kau membakarku dengan Api Suci-Mu yang menyala-nyala untuk selamanya/aku tak akan pernah sudi tunduk pada kesadaran ego (manusiawi)/pernyataanku berasal dari hati yang tulus/dalam Cinta aku berjaya, bagaimana tidak?"
Azazel melanjutkan syairnya: "Sesungguhnya tiada jarak yang memisahkan Dikau denganku/ketika tujuan tercapai/kedekatan dan jarak adalah satu/kendati aku ditinggal derita/keadaan itu akan menjadi karibku/jika Kasih itu satu, bagaimana kita bisa berpisah?/dalam kemurnian yang mutlak, Diri-Mu kuagungkan/bagi seorang hamba dengan hati yang benar/bagaimana dia menyembah sesuatu selain Dikau?". 
 
Ribuan kali, Hyang Manon memerintahkan Azazel bersujud, bow down!, tetapi dia tetap enggan, lalu ia bersyair: "Duh Gusti, segala sesuatu termasuk diriku ini adalah milik-Mu/Kau telah memberikanku pilihan/namun Kau telah menentukan pilihan-Mu bagiku/jika Kau melarangku dari bersujud, Kau adalah Pelarang/jika aku salah paham, jangan Kau tinggalkan daku/jika Kau menginginkanku bersujud dihadapannya, hamba patuh/namun tak seorangpun lebih mengetahui tentang Maksud-Mu selain Nuraniku ini" Atas penolakannya, Hyang Welas Asih menganugerahkan "A highest gift" pada Azazel berupa kutukan dan penderitaan. Dengan legowo, tanpa bertanya lagi, tanpa mengeluh, ia menerima Anugerah-Nya yang Tertinggi, sekaligus terberat. Sang Kekasih bertanya," Tidakkah kau menolak Anugerah-Ku?". Azazel, sang pencinta sejati menjawab,"Dalam Cinta di sana ada penderitaan/di sana pula ada kesetiaan/dengan begitu, seorang pencinta menjadi sepenuhnya matang/berkat kelembutan dan keadilan Sang Kekasih." Claim Azazel yang mengatakan bahwa ia terbuat dari api dan Adam dari tanah, sehingga ia enggan bersujud, sangat simbolik.
 
Menurut pemahaman saya, seorang Azazel, dengan "Divine Consciousness"-nya mustahil mempermasalahkan hal-hal fisik jasadi semacam itu. Melalui cermin Azazel, sebetulnya Hyang Manon sedang mengajarkan manusia tentang bahaya ego dan kesombongan akibat kesadaran rendah, di sisi lain Dia mengajari para malaikat tentang devosi murni model Azazel. Di sisi lain lagi, melalui para malaikat, Dia mengajarkan kesalehan pada manusia. Alhasil, sesungguhnya iblis merupakan Guru yang mengajarkan kesalehan pada para malaikat dan para malaikat mengajarkan kesalehan itu pada manusia. Pada saat yang sama, iblis mempertunjukkan jalan keburukan pada manusia, agar manusia menghindarinya. Tampak bertentangan, ibarat kain bagus yang ditenun di atas bahan kasar (a fine garment is woven on a coarse,black backing). Dengan kata lain, "whoever does not know vice will not know virtue!". Inilah "opposite science" menurut Hallaj. Lelucon Ilahi ini penuh makna, ibarat masquerade, natak penyamaran. Bersujud kepada Adam bukanlah perintah (a command), melainkan ujian (a test). Iblis mengetahui hal ini melalui bisikan-Nya lewat Nuraninya.
 
Al-Hallaj mengakui iblis sebagai monoteis sejati, begitu pula "Muhammad", simbolik bagi para Nabi, Kristus, Avatar,Buddha,Wali. Mereka adalah perangkat Ilahi. Sebagaimana iblis, Kanjeng Nabi Muhammad pernah mengalami test serupa. Beliau diperintahkan-Nya,"Lihatlah!". Beliau tidak bergeming, tidak berputar ke kanan, tidak pula ke kiri (beliau tahu bahwa Dia bersemayam di Dalam Diri). Jangan mengkambinghitamkan iblis atas perilaku buruk kita. Manusia benar-benar mandiri dan bertanggungjawab sendiri untuk memilih jalan yang baik atau buruk. Baik (good) dan buruk (evil) hanyalah refleksi Kebenaran (Truth). Dan Gusti Allah di atas baik dan buruk, di atas cahaya dan kegelapan. Nur 'ala nur, Allah itu Cahaya di atas cahaya. 
 
Renungkan syair Azazel berikut: "Duh Gusti, Kau membebaskanku karena selubungku terbuka/Kau membuka selubungku karena Keesaan-Ku/membuatku satu dengan-Mu dari perpisahan/demi Keberadaan-Mu Yang Nyata/aku tak bersalah telah bersekongkol dalam kejahatan/tidak pula menolak nasibku/tidak pula gelisah dengan perubahan yang kualami/dan aku bukanlah orang yang membentangkan di hadapan manusia jalan kesesatan!" 
 
Dalam kitab Almilal wannihal, malaikat ditantang berdebat dengan iblis :
 
Malaikat : Iblis, mengapa kamu tidak mau sujud kepada Adam
Iblis : "Malaikat, Allah sudah membuat undang-undang, jangan sampai 
kita sujud kepada lainya Allah dalam Alquran surat fusssilat ayat 
37 diterangkan :
"Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan bersujud kepada 
bulan tetapi bersujudlah kepada allah yang menciptakannya 
( matahari dan bulan )".
 
Barang siapa yg bersujud kepada selain Allah akan jatuh musyrik dan musyrik adalah dosa yg tidak mungkin diampuni lagi.

Jadi saya tidak mau bersujud kepada Adam dikarenakan saya tahu bahwa Adam itu mahluk , kalau saya sujud pd ADam maka saya musrik , maka saya tidak diampuni , dan saya mutlak sujud hanya pada ALLAHta'ala saja dan tidak sujud lainnya Allah.
 
Malaikat : Iblis, kamu tidak tahu tidak sujud kepada Adam itu perintah Allah 
bukan kehendak Adam, tetapi kehendak Allah ta'ala , jadi kalau
kamu bersujud kepada Adam artinya kamu sujud kepada Allah 
karena itu perintah Allah.
 
 
Iblis : Memang betul, ini perintah Allah tapi perintah tersebut adalah
untuk menguji katauhidan kita. perintah itu memang ada yg 
semata-mata perintah, tapi ada juga perintah yang sifat untuk
mengguji ketauhidan kita
 
dari pembicaran tersebut ada dua hal yg menarik yaitu
- Apakah benar semata-mata perintah 
- Apakah perintah yang bersifat menguji
 
Saya ( iblis ) jelas mengetahui bahwa perintah itu adalah perintah yang bersifat untukk menguji katauhidan kita sebab yg mengetahui bahwa adam itu adalah mahluk yg diciptakan dari tanah masak saya sujud kepada mahluk dari tanah.
 
Malaikat Darimana kamu mengetahui bahwa sujud kepad Adam itu 
semata-mata untuk menguji tidak semata-mata perintah ..???
 
Iblis : buktinya ada larangan sujud kepada lainya Allah
itu belum dicabut . Dari satu segi dilarang sujud kepada 
lainya Allah dan segi lain diperintah sujud kepada lainya Allah
 
Bagaimna ( iblis ) saya tahu sujud kepada Adam itu semata-mata perintah kalau larangan belum dicabut, kalau larangan bersujud lainya Allah dicabut , maka saya akan mengetahui sujud kepada Adam itu semata-mata adalah perintah Allah .oleh karena itu larangan belum dicabut maka jelaslah perintah sujud kepada Adam itu Adalah UJIAN
 
 
Demikian percakapan malaikat dan iblis dalam kitab tersebut. Memang kalau kita lihat sepintas lalu menyalahkan IBLIS sangat mudah akan tetapi seperti diatas iblis diuji ketauhidan yg sangat sulit sekali iblis pertama menggunakan alasan materi alasan ke 2 kemudian iblis menggunakan alasan tauhid , alasan ubuddiyyah. 
 
 

NIAT DAN TINDAKAN



Thursday, March 06th, 2008 | Author: admin
Rasulullah SAW telah bersabda, maksudnya:
Sesungguhnya, setiap amalan itu bermula dengan niat.Dan bagi setiap orang itu apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kerana Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kerana Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia atau perempuan yang ingin dikahwininya, maka hijrahnya adalah kerana apa yang dikehendaki.
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis diatas menerangkan tentang hubungan antara niat dan amalan seseorang. Rasulullah SAW sebenarnya berkata sedemikian untuk memperbetul niat orang Islam yang akan turut serta bersamanya dalam penghijrahan dari Makkah ke Madinah. Pada kala itu, segelintir muslim berniat untuk menyertai Hijrah semata-mata kerana kemewahan hidup dan kesenangan yang telah dijanjikan kepada mereka sebaik sahaja mereka sampai ke Madinah. Mereka diingatkan bahawa Hijrah mereka akan menjadi sia-sia seandainya niat untuk brhijrah itu tidak disandarkan kepada Allah dan rasul-Nya. Seandainya mereka berhijrah dengan niat untuk memperoleh kemewahan, maka dia akan memperoleh kemewahan, bukannya pahala dan keredhaan Allah yang ditagih oleh kita, hamba-Nya.
Untuk menjelaskan lagi kaitan antara niat dan ibadah, kita akan melihat contoh seorang ulama yang sangat taat pada perintah Allah dan sangat tawadhu’. Diceritakan dalam kawasan kampung tempat tinggal ulama ini terdapat sebatang pokok yang sangat besar dan kebanyakan masyarakat di sana menyembah pokok itu sebagai tuhan memandangkan mereka menganggap pokok itu berkuasa dan bertanggungjawab ke atas penciptaan manusia. Ulama itu berasa sangat terkilan melihat perbuatan jahil masyarakat kampungnya itu yang membelakangkan ajaran Allah. Maka, pada suatu hari, dia telah bertekad dan berniat untuk menebang pokok tersebut. Maka, setelah selesai solat subuh pagi itu, dia terus mencapai kapaknya dan bergerak menuju ke arah pokok besar itu. Namun, dia telah didatangi oleh Iblis. Dengan berketar-ketar, Iblis
bertanya, “wahai ulama, ke mana engkau ingin pergi?” Dengan tegasnya, ulama tadi menjawab,”aku ingin menebang pokok yang telah menyesatkan masyarakatku”.Iblis tadi kelihatan lebih gementar. Lalu Iblis itu terus berkata dengan mengharap,”Inginkah engkau menerima 2 keping syiling emas setiap hari daripada aku?”Ulama tadi terus mendengar dengan penuh minat.”Beginilah, engkau lupakan sahaja niatmu untuk menebang pokok tadi dan baliklah engkau ke rumahmu dan berehatlah.Esok, selesai solat subuh, selaklah sejadahmu dan akan engkau dapati 2 keping syiling emas berada dibawahnya.”Tawaran Iblis ini telah mengaburkan pandangan ulama tadi. Entah bagaimana, dia bersetuju untuk menerima tawaran itu, lalu pulanglah ulama tadi membawa semula kapak yang dipikulnya.
Keesokkan harinya, setelah selesai solat subuh, ulama tadi dengan penuh yakin terhadap janji Iblis itu, terus menyelak sejadahnya. Alangkah gembiranya dia setelah mendapati dihujung sejadahnya terdapat apa yang yang telah dijanjikan oleh Iblis kepadanya. Dia mula lalai dengan ‘nikmat’ itu dan mula memikirkan tentang kehidupan yang mewah.Pada agi yang kedua, sekali lagi dia memperoleh 2 keping syiling emas. Egitu juga dengan hari yang ketiga. Namun, pada hari yang keempat, setelah selesai solat, didapatinya tiada syiling emas yang dijanjikan oleh iblis. Dia menyelak sejadahnya 2-3 kali untuk memastikan ketiadaan syiling itu. Hatinya terus berang. Lantas dia terus mengambil kapaknya dan bergerak menuju pokok yang menyesatkan masyarakatnya. Dalam hatinya penuh perasaan marah kerana telah tertipu dengan iblis. Sekali lagi, dalam perjalanannya itu, dia diberhentikan oleh Iblis yang telah menjanjikan emas kepadanya. Maka ulama tadi pun berkata, “Iblis engkau tidak menunaikan janjimu. Maka akan aku tebang pokok itu.” Iblis itu pun ketawa. Dia tidak kelihatan gementar seperti apa yang berlaku tempoh hari. Ulama pun berasa hairan. “Iblis, tidakkah enghkau takut dengan aku? Bukankah tempoh hari engkau menggeletar sewaktu bertemu dengan aku? Mengapa kali ini engkau kelihatan sangat berani?” Iblis itu pun menjawab,”Wahai ulama yang mentah. Tidakkah engkau tahu akan kepentingan niat dalam setiap perbuatanmu? Sesungguhnya tempoh hari niatmu untuk menebang pokok itu adalah semata-mata kerana Allah SWT. Maka sekiranya aku seru segala bala tentera kaum kerabatku untuk menghalangmu maka tidaklah akan kami berjaya. Namun, hari ini engkau datang untuk menebang pokok ini semata-mata kerana ingin membalas dendam kerana tidak memperoleh emas seperti yang telah aku janjikan. Maka sesungguhnya niat untuk perbuatan engkau sudah tidak sealiran dengan agamamu. Maka sekiranya aku menjentikmu pun engkau sudah akan rebah kerana sesungguhnya dalam tindakanmu ini Allah tidak meredhai niatnya.” Maka dengan penuh rasa menyesal dan kecewa, ulama tadi pun pulang ke rumahnya. Lalu dia pun berdoa dan bertaubat kepada-Nya. Dalam hatinya penuh rasa sesalan kerana meletakkan sesuatu lebih daripada Allah.
Berdasarkan cerita di atas dapatlah kita melihat betapa pentingnya niat dalam setiap perbuatan itu. Janganlah disebabkan kita berniat melakukan sesuatu itu semata-mata untuk memperoleh kenikmatan dunia kerana sesungguhnya kita akan hanya memperoleh nikmat dunia itu. Namun sekiranya kita melakukan sesuatu perbuatan itu kerana Allah SWT, kita bukan sahaja memperoleh keredhaan-Nya, malah kita akan memperoleh apa yang kita hajatkan dengan keizinan-Nya. Marilah sma-sama kita betulkan niat kita dan jadikanlah setiap amalan(menuntut ilmu, memberi tazkirah, dsb) itu bermula dengan hati yang menyebut ‘lillahi taala’ (kerana Allah SWT), Insya-Allah…