Pages

Thursday, March 4, 2010

lima orang naik satu motor

orang tanpa kepala

madu empat

lumba lembu

Terlebih muatan

cari bala sengaja menempah maut

Kisah berkat disebalik membaca bismillah

 

Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejek, “Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah.”

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : “Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu.”
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, “Simpan duit ini.” Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, “Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan.”
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, “Bismillahirrahmanirrahiim.” Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.

Rusia,Keajaiban Ayat-ayat Al Quran Muncul di Kulit Bayi



bayi yang terdapat ayat Alquran di tubuhnya













Orangtua dari bayi yang terdapat ayat Alquran di tubuhnya asal Rusia Selatan mengklaim bahwa putra mereka telah ditandai oleh Allah.

Sang ibu, Madina, mengatakan bahwa dia dan suaminya bukan merupakan orang yang taat beragama sampai tulisan-tulisan itu muncul. Madina mengatakan, mereka awalnya tidak memperlihatkan kepada siapa pun mengenai tulisan-tulisan yang tidak bisa dijelaskan itu sampai akhirnya mengungkapkan hal tersebut ke dokter dan imam di desa mereka, Oktober Merah, yang merupakan kawasan dengan pengaruh Muslim yang kuat. Saat ini, si bayi menjadi fokus perhatian orang-orang Muslim di kawasan tempat tinggalnya di Provinsi Dagestan yang berdekatan dengan daerah konflik Chechnya di selatan Rusia. Seorang anggota parlemen lokal, Akhmedpasha Amiralaev, mengatakan bahwa “Bayi laki-laki ini merupakan tanda dari Allah. Allah menggirimkannya ke Dagestan untuk menghentikan pemberontakan dan ketegangan di republik kita.”

Ibu si bayi mengatakan, “Biasanya tanda-tanda itu muncul dua kali seminggu, pada hari Senin dan pada malam antara Kamis dan Jumat. Ali selalu merasa kesakitan ketika itu muncul. Dia menangis dan suhu tubuhnya tinggi. Tidak mungkin menggendongnya ketika itu terjadi. Badannya aktif bergerak, maka kami menempatkan dia di ayunannya. Sedih rasanya ketika melihat dia menderita.” Frase-frase itu, kata Madina, secara teratur bergantian muncul di kulit si bayi.

Seorang imam lokal, Abdulla, mengatakan kepada penduduk bahwa dalam Al Quran dikatakan, sebelum akhir zaman datang, akan muncul orang-orang dengan ayat-ayat kitab suci di tubuh mereka. Dia mengatakan, salah satu tanda yang terbaca berbunyi, “Jangan sembunyikan tanda-tanda ini dari orang-orang.” Kisah bayi dari Dagestan ini juga telah menarik perhatian media Rusia.


Pejabat agama setempat percaya bahwa ini adalah tanda-tanda Kebesaran Allah Yang Mahakuasa. Kepala pusat Muslim Kaukasus Utara Berdyev Ismail menegaskan tanda-tanda tersebut ditujukan kepada orang-orang tidak memiliki keyakinan tentang kebesaran Allah.

Biarkan mereka melihat bahwa tanda-tanda ini tidak disengaja. Ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Kami, umat Muslim menyadari hal itu. Biarkan skeptis dan ketidak percayaan akan menyadarkannya juga, "ia menegaskan.

Dewan Mufti Rusia melihat pesan ini merupakan keajaiban.Kami menafsirkan tanda-tanda sebagai panggilan untuk orang-orang Muslim di kawasan tempat tinggalnya di Provinsi Dagestan Rusia. 




Bayi laki-laki ini merupakan tanda dari
Allah



















Mereka harus bertobat kepada Allah atas dosa-dosa mereka dan menyelesaikan konflik perang saudara yang telah melumpuhkan Dagestan dan seluruh Kaukasus, "sebuah pernyataan yang di lansir website resmi mereka.

Sementara itu, para dokter berpikir sebaliknya. Mereka hampir yakin tanda-tanda telah ditulis oleh orangtua Ali .

Lyudmila Luss dari lembaga imunologi Rusia mengatakan bahwa tulisan di badan bayi telah dibuat menggunakan bahan kimiawi.

"Bahan seperti lada dan garam atau obat-obatan yang dapat menyebabkan peradangan pada kulit dan meninggalkan bekas merah dalam bentuk huruf Arab. Kulit kemudian menjadi terkelupas dan meradang ketika membelai atau digosok dengan benda tumpul.

Sejauh ini, keluarga Ali telah menolak untuk pemeriksaan teliti. Sementara itu, media Rusia melaporkan bahwa Ali awalnya didiagnosis dengan penyakit jantung koroner dan serebral spastic kelumpuhan kanak-kanak, tetapi secara berangsur-angsur kelainan tersebut mulai hilang.

Kebenaran ayat Al Quran

Sila klik dibawah
Kebenaran ayat Al Quran

Fitnah Dajjal adalah Fitnah Terbesar Sepanjang Perjalanan Hidup Manusia



Fitnah Dajjal adalah Fitnah Terbesar Sepanjang Perjalanan Hidup Manusia
-Mengimani Munculnya Dajjal
-Dajjal sebagai Tanda Hari Kiamat
-Kiat-Kiat Terhindar dari Fitnah Dajjal
-Kenapa Tidak Disebutkan Dajjal Di dalam Al-Qur`an dengan Jelas Sebagaimana dalam Hadits-hadits?.
——————
Dajjal, Antara Kenyataan dan Kamuflase
“Dajjal” acap menjadi topik seru yang dibicarakan banyak orang. Perkaranya pun kian hangat dengan munculnya orang-orang yang mengaku atau dianggap orang lain sebagai Dajjal, seperti yang dialamatkan pada Sri Sathya Sai Baba, seorang begawan dari India. Benarkah dia Dajjal?1
Jika ditinjau dari sisi bahasa, makna Dajjal adalah sangat tepat untuknya, karena Dajjal berarti banyak berdusta dan menipu. Siapa pun yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka dia adalah Dajjal. Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka. Beliau menjelaskan hal ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيْمَتَانِ يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيْمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيْكُمُ الْمَالُ فَيَفِيْضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ فَيَقُوْلَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ: لاَ أَرَبَ لِي بِهِ؛ وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ؛ وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ يَعْنِي آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا
“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’; terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan keimanannya).”
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat. Para dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Dajjal. Dan bila disebutkan Dajjal secara mutlak (tanpa keterangan tambahan, red.) maka tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengimani Munculnya Dajjal Al-Akbar
Tidak ada keraguan bagi orang yang beriman terhadap segala berita yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk akal ataupun tidak. Karena mereka meyakini bahwa segala yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepanjang riwayatnya shahih, merupakan berita wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan segala perkara yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkait dengan Dajjal –seperti sifat-sifatnya, kejadian-kejadian luar biasa yang diperbuatnya, masa tinggalnya di atas dunia, para pengikutnya, tempat turunnya, siapa yang akan membunuhnya dan sebagainya– bagi orang yang beriman bukanlah sebuah khurafat dan tahayul yang menjajah akal serta hati mereka. Bukan pula sebuah keanehan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadikan keluarbiasaan pada diri Dajjal. Dan ini tidak akan mengurangi kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun. Mereka menjadikan segala yang terkait dengan Dajjal sebagai perkara yang akan menambah dan mengokohkan keimanan mereka terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kebenaran berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akan menjadikan segala yang terkait dengan Dajjal sebagai ujian yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambah kebajikan mereka di atas kebajikan. Tidak ada ucapan yang keluar dari orang-orang yang beriman melainkan:
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا “Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (Ali ‘Imran: 7)
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا “Kami mendengar dan kami patuh.” (Al-Baqarah: 285)
Dajjal sebagai Tanda Hari Kiamat
Munculnya Dajjal merupakan salah satu tanda hari kiamat kubra (tanda-tanda yang besar). Artinya, tanda-tanda yang muncul mendekati hari kiamat dan bukan tanda yang biasa terjadi. Seperti munculnya Dajjal, turunnya ‘Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya matahari dari sebelah barat. (Lihat At-Tadzkirah karya Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu hal. 264, Fathul Bari 13/485, dan Ikmal Mu’allim Syarah Shahih Muslim, 1/70)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan akan munculnya Dajjal di dalam banyak hadits. Di antaranya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 5228) dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:
ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ فَخَفَّضَ فِيْهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَلَمَّا رُحْنَا إِلَيْهِ عَرَفَ ذَلِكَ فِيْنَا. فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ غَدَاةً فَخَفَّضْتَ فِيْهِ وَرَفَّعْتَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ. فَقَالَ: غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ، إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ، وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah tentang Dajjal pada pagi hari dan beliau mengangkat dan merendahkan suaranya seakan-akan kami menyangka dia (Dajjal) berada di sebagian pohon korma. Lalu kami berpaling dari sisi Rasulullah. Kemudian kami kembali kepada beliau dan beliau mengetahui hal ini, lalu beliau berkata: ‘Ada apa dengan kalian?’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajjal pada pagi hari dan engkau mengangkat serta merendahkan suara, sehingga kami menyangka bahwa dia berada di antara pepohonan korma.’ Rasulullah lantas bersabda: ‘Bukan Dajjal yang aku khawatirkan atas kalian. Dan jika dia keluar dan aku berada di tengah kalian maka akulah yang akan menyelesaikan urusannya. Dan jika dia keluar dan aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang menyelesaikan urusannya masing-masing’.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan (no. 4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu Suraihah radhiyallahu ‘anhu:
كُنَّا قُعُوْدًا نَتَحَدَّثُ فِي ظِلِّ غُرْفَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا السَّاعَةَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ تَكُوْنَ – أَوْ لَنْ تَقُوْمَ – السَّاعَةُ حَتَّى يَكُوْنَ قَبْلَهَا عَشْرُ آيَاتٍ طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ وَخُرُوْجُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَالدَّجَّالُ وَعِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَالدُّخَانُ وَثَلاَثَةُ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ تَخْرُجُ نَارٌ مِنْ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَسُوْقُ النَّاسَ إِلَى الْمَحْشَرِ
“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami berbincang tentang hari kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul sepuluh tanda; yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, munculnya Dajjal, munculnya asap, keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam, dan tiga khusuf (terbenam ke dalam bumi), satu di timur, satu di barat dan satu di Jazirah Arab, dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat mahsyar’.”
Berita tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun, di antaranya:
1. Dia dari Bani Adam
2. Laki-laki
3. Pemuda
4. Pendek
5. Berkulit merah
6. Keriting rambutnya
7. Dahinya lebar
8. Lehernya lebar
9. Matanya buta sebelah kanan
10.Tertulis di antara dua matanya ك ف ر (yang bermakna kafir)
11.Tidak berketurunan
12.Pada matanya sebelah kiri terdapat daging tumbuh.
Sifat-sifat di atas disebutkan di dalam banyak hadits baik dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) atau selain keduanya.
Dajjal adalah dari Bani Adam, Bukan Lambang Kejahatan dan Kerusakan
Termasuk benarnya keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yaitu mengimani bahwa Dajjal adalah dari Bani Adam, dan bukan sebuah lambang kejahatan dan lambang khurafat, seperti yang telah dikatakan oleh Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya Al-Manar (3/317), lalu diikuti oleh Abu ‘Ubayyah yang mengatakan bahwa Dajjal adalah sebuah lambang dari kejahatan dan bukan salah seorang Bani Adam. (Asyrathus Sa’ah, hal. 316)
Penakwilan ini termasuk sikap memalingkan makna lahiriah (tekstual) nash-nash.
Asal Dajjal dari Bani Adam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Dari penjelasan nash tersebut tidaklah masuk akal bila dimaknakan kepada sebuah lambang. Coba perhatikan hadits di bawah ini yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (no. 6484) dan Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 246) dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ أَلاَ إِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ. قَالَ: وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَانِي اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا تَرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ، رَجِلُ الشَّعْرِ يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهُوَ بَيْنَهُمَا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا: الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ. وَرَأَيْتُ وَرَاءَهُ رَجُلاً جَعْدًا قَطَطًا أَعْوَرَ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ مِنْ النَّاسِ بِابْنِ قَطَنٍ، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ. فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا الْمَسِيْحُ الدَّجَّالُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang menonjol.” Ibnu ‘Umar berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari Bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit sawo matang dari Bani Adam, rambutnya tersisir di antara kedua pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Al-Masih bin Maryam.’ Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di atas pundak dua laki-laki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Al-Masih Ad-Dajjal’.”
Kenapa Tidak Disebutkan Dajjal Di dalam Al-Qur`an dengan Jelas Sebagaimana dalam Hadits-hadits?
Mungkin orang-orang akan bertanya kenapa tidak disebutkan di dalam Al-Qur`an dengan jelas tentang Dajjal sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits? Padahal perkara Dajjal tidaklah jauh lebih besar dari perkara Ya’juj dan Ma’juj, sementara urusan Ya’juj dan Ma’juj disebutkan di dalam Al-Qur`an?
Telah disebutkan alasannya oleh para ulama dalam banyak pendapat. Di antaranya:
1. Penyebutan Dajjal di dalam Al-Qur`an termasuk dalam kandungan ayat:
هَلْ يَنْظُرُوْنَ إِلاَّ أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Rabbmu atau kedatangan beberapa ayat Rabbmu. Pada hari datangnya ayat dari Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)
Yang dimaksud dengan ‘tanda-tanda Rabbmu’ dalam ayat ini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari sebelah barat, dan munculnya daabbah (binatang). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam sebuah sabdanya:
ثَلاَثَةٌ إِذَا خَرَجْنَ لَمْ يَنْفَعْ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ: الدَّجَّالُ وَالدَّابَّةُ وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Tiga hal apabila telah muncul (terjadi) maka tiada bermanfaat lagi sebuah keimanan bagi seorang jiwa yang belum beriman (sebelumnya): Dajjal, daabbah, dan terbitnya matahari dari arah barat.”
2. Al-Qur`an menyebutkan akan turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan dialah yang akan membunuh Dajjal. Maka dengan menyebutkan Masihil Huda (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam) sudah cukup dari penyebutan Masihidh Dhalal (Dajjal). Dan kebiasaan orang Arab adalah mencukupkan diri dengan menyebutkan salah satu yang berlawanan.
3. Bahwa munculnya Dajjal disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Mu`min: 57)
Yang dimaksud kata “manusia” di dalam ayat ini adalah Dajjal. Dalam istilah kaidah bahasa termasuk dalam bab penyebutan secara umum sedangkan yang dimaksud adalah khusus, yaitu Dajjal. Abu ‘Aliyah berkata: “Artinya lebih besar dari penciptaan Dajjal yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi.” (Tafsir Al-Qurthubi, 15/325)
Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini, kalau memang benar, adalah sebaik-baik jawaban. Dan ini termasuk perkara-perkara yang ditugaskan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan. Dan ilmunya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Fathul Bari, 13/92)
4. Al-Qur`an tidak menyebutkan Dajjal sebagai bentuk penghinaan terhadapnya. Di mana dia menobatkan dirinya sebagai Tuhan, padahal dia adalah manusia. Tentu sikapnya ini menafikan kemahaagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemahasempurnaan-Nya serta kesucian-Nya dari sifat-sifat kekurangan. Oleh karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sangat hina dan kecil untuk disebutkan.
Jika demikian, mengapa tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan disebutkan di dalam Al-Qur`an? Jawabannya adalah: “Perkara Fir’aun telah selesai dan habis masanya, dan disebutkan sebagai peringatan bagi manusia. Adapun urusan Dajjal, akan muncul di akhir zaman sebagai ujian bagi manusia.”
Dan terkadang, sesuatu itu tidak disebutkan karena jelas dan nyata perkaranya.
Inilah beberapa pendapat dari jawaban dan alasan ulama tentang mengapa tidak disebutkan permasalahan Dajjal di dalam Al-Qur`an. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar bila muncul, karenanya Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan: “Pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal di dalam Al-Qur`an akan terus muncul. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkara Ya`juj dan Ma`juj, sementara fitnah mereka sama dengan fitnahnya Dajjal.” (Fathul Bari, 13/91-92)
Pengarang kitab Asyrathus Sa’ah menguatkan pendapat yang pertama yaitu Dajjal telah disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagaimana kandungan ayat dalam surat Al-An’am di atas secara global, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diamanatkan untuk menjelaskannya (secara rinci). (Asyrathus Sa’ah, hal. 333)
Fitnah Dajjal
Tidak ada yang mengingkari bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah besar sepanjang perjalanan hidup Bani Adam di atas dunia ini sampai pada hari kiamat. Hal ini disebabkan berbagai bentuk keanehan yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa diperbuat oleh Dajjal tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat. Dua fitnah yang sesungguhnya diusung oleh Dajjal untuk merekrut pengikut itulah fitnah syahwat dan fitnah syubuhat. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa fitnah besar Dajjal terhadap umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
1. Bersama Dajjal ada surga dan neraka
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2934) dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعَرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
“Dajjal adalah buta sebelah kiri, sangat keriting rambutnya, dan bersamanya surga dan neraka. Namun nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.”
2. Bersamanya ada sungai-sungai yang penuh air
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 2934) dari shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ، مِنْهُ مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ وَاْلآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ تَأَجَّجُ فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ غَلِيْظَةٌ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ
“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang menyertai Dajjal. Yaitu, bersamanya ada dua sungai yang mengalir. Dengan penglihatan mata, salah satunya adalah air yang putih dan yang lain api yang berkobar. Maka barangsiapa menjumpai yang demikian hendaklah dia mendatangi sungai yang dia lihat sebagai api dan pejamkan matanya kemudian tundukkan kepalanya dan minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin. Sesungguhnya Dajjal buta dan pada matanya ada daging tumbuh yang tebal serta tertulis di antara dua matanya kafir, yang akan dibaca oleh setiap orang yang beriman baik yang bisa menulis atau tidak.”
3. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanamannya
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih beliau (no. 2937) dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:
قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ:أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِيْنَا فِيْهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَالَ: لاَ، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ: كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيْحُ، فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَاْلأَرْضَ فَتُنْبِتُ
Kami berkata: “Ya Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di atas dunia?” Beliau bersabda: “40 hari. Satu hari bagaikan satu tahun, satu hari bagaikan satu bulan, dan satu hari bagaikan satu minggu dan selain itu harinya sama dengan hari biasa.” Kami mengatakan: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau satu hari bagaikan satu tahun, apakah cukup bagi kita untuk melaksanakan shalat satu hari?” Rasulullah bersabda: “Tidak, tetapi ukurlah kadarnya.” Kami berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana tentang kecepatannya di muka bumi?” Beliau bersabda: “Bagaikan hujan yang ditiup oleh angin lalu dia mendatangi kaum dan menyerukan mereka sehingga mereka beriman kepadanya dan menerima seruannya. Dia juga memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan kemudian hujan turun; dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman maka kemudian tumbuh.”
4. Bersamanya segala perbendaharaan bumi, dan bisa menempuh arah dengan cepat bagaikan hujan yang ditiup oleh angin. Sebagaimana dalil yang disebutkan di atas.
5. Menghidupkan dan mematikan.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Sai’d Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (no. 2938) berkata:
حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيْثًا طَوِيْلاً عَنِ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيْمَا حَدَّثَنَا قَالَ: يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِيْنَةِ فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِيْنَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثَهُ. فَيَقُوْلُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّوْنَ فِي اْلأَمْرِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ. قَالَ: فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيْهِ فَيَقُوْلُ حِيْنَ يُحْيِيْهِ: وَاللهِ مَا كُنْتُ فِيْكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيْرَةً مِنِّي اْلآنَ. قَالَ: فَيُرِيْدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلاَ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal pada suatu hari. Di antara apa yang beliau sampaikan adalah: “Dajjal datang dan dia diharamkan untuk masuk ke kota Madinah, maka dia berakhir di daerah yang tanahnya bergaram yang berada di sekitar Madinah. Maka keluarlah kepadanya seorang yang paling baik dan dia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah.’ Lalu Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini kemudian menghidupkannya, apakah kalian masih tetap ragu tentang urusanku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Dia pun membunuhnya kemudian menghidupkannya. Orang yang baik itu berkata setelah dihidupkan: ‘Demi Allah, aku semakin yakin tentang dirimu.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu Dajjal ingin membunuhnya lagi namun dia tidak sanggup melakukannya’.”
6. Melakukan penipuan dengan mengubah wujud seseorang
Demikianlah beberapa bentuk dari sekian fitnah Dajjal yang sangat dahsyat. Tidak ada seorang pun yang akan selamat melainkan orang-orang yang berusaha menyelamatkan dirinya kemudian dijemput oleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia selamat dari fitnah Dajjal yang amat sangat dahsyat.
Bentuk fitnah yang juga diusung oleh Dajjal dalam rangka mencari pengikut adalah fitnah syahwat. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji kita dengan sedikit harta benda dunia dan kita berguguran menjadi budak kesesatan. Bisa dibayangkan jika si Dajjal mengusung surga dan neraka, membunuh dan menghidupkan, di tangannya ada perbendaharaan bumi, memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turun. Dan memerintahkan bumi menumbuhkan tanam-tanaman lalu tumbuh, kemudian menawarkannya kepada kita. Ke manakah kita akan menginjakkan kaki? Apakah menjadi pengikut Dajjal yang di tangannya kenikmatan semu, atau menjadi kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.
Ucapan Ulama tentang Kejadian Luar Biasa pada Dajjal
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits ini yang disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dan selain beliau tentang kisah Dajjal adalah hujjah bagi ahlul haq tentang kebenarannya. Dia adalah manusia biasa yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya berupa hal-hal yang merupakan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, seperti menghidupkan mayat yang dibunuhnya, serta bersamanya ada segala kenikmatan dunia, surga dan neraka, perbendaharaan dunia, dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu terjadi dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan lalu terlaksana. Semuanya terjadi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehendak-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya ketidaksanggupan untuk membunuh orang tersebut (setelah dia menghidupkannya) dan selain orang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membatilkan urusannya lalu dia dibunuh oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan orang-orang yang beriman. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan seluruh ahli hadits serta para fuqaha dan para peneliti. Berbeda dengan orang-orang yang mengingkarinya dan menolak perkaranya, seperti Khawarij, Jahmiyyah, sebagian Mu’tazilah serta selain mereka, yaitu bahwa Dajjal itu benar adanya, namun kejadian-kejadian luar biasa pada diri Dajjal adalah khayalan yang tidak memiliki hakikat. Mereka mengira, jika hal itu benar niscaya tidak ada perbedaan dengan mukjizat yang terjadi pada diri nabi. Cara berfikir seperti ini termasuk kesalahan mereka seluruhnya, karena Dajjal tidak mengaku sebagai nabi dan apa yang terjadi pada dirinya hanya sebatas sebagai bukti bahwa dia Dajjal. Dia justru mengaku sebagai Rabb, meski pada kenyataannya dia berdusta dalam pengakuannya, dari sisi penampilannya sendiri, sesuatu yang baru terjadi, kekurangan dalam hal penciptaan, ketidaksanggupannya untuk menghilangkan kebutaan matanya dan menghilangkan tulisan kafir yang terdapat di antara dua matanya.
Karena bukti-bukti ini dan selainnya pada diri Dajjal, maka tidak tertipu dengannya kecuali orang-orang rendahan. Ini semata-mata untuk menutupi keinginan dan kemiskinan, berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau menyelamatkan dirinya, atau takut dari gangguannya, karena fitnahnya yang dahsyat dan membingungkan akal.
Oleh karena itulah, para nabi memperingatkan dari fitnahnya serta menjelaskan tentang kelemahan dan bukti kedustaannya. Adapun orang yang diberikan taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka tidak akan tertipu dan terpesona dengan apa yang menyertainya dari bukti-bukti yang penuh kedustaan bersamaan dengan apa yang telah dijelaskan tentang keadaannya. Pantaslah orang yang telah dibunuhnya berkata: “Tidak menambahku tentang dirimu kecuali keyakinan.” (Syarah Shahih Muslim 18/58-59 dan Fathul Bari 13/105)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya Dajjal dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya dengan kejadian-kejadian luar biasa yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tangannya yang bisa disaksikan pada masanya. Dan bagi orang yang memenuhi panggilannya; memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turun dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanamannya lalu terlaksana yang bisa dimakan oleh binatang-binatang ternak dan dimanfaatkan oleh mereka sendiri kemudian mereka bisa mengambil manfaat dari binatang ternak baik daging ataupun susunya. Dan orang yang tidak memenuhi panggilannya serta menolak seruannya akan ditimpa oleh paceklik penuh kekurangan, binatang-binatang ternak mereka habis mati, kekurangan pada harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Bersamanya juga ada perbendaharaan bagaikan mayang kurma dan dia membunuh seseorang lalu menghidupkannya. Ini semua bukan penipuan melainkan hakikat yang nyata yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya pada akhir zaman nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyesatkan banyak orang dan memberikan hidayah kepada mereka. Orang-orang yang ragu, niscaya mereka akan kafir. Dan akan bertambahlah iman orang-orang yang beriman.” (An-Nihayah/Al-Fitan Wal Malahim 1/121)
Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Pada diri Dajjal terdapat bukti nyata atas kedustaannya di hadapan orang-orang yang berakal. Karena dia memiliki wujud fisik serta memiliki bukti dari perbuatannya. Bersamaan dengan kekurangan pada dirinya bahwa dia adalah orang yang buta sebelah matanya. Jika dia menyeru manusia untuk mempertuhankannya itu menunjukkan keadaannya yang paling buruk. Bagi orang yang berakal mengetahui bahwa dia tidak mungkin akan bisa menciptakan selainnya, memperbaiki dan memperbagus serta dia tidak sanggup untuk menghilangkan kekurangan (seperti: matanya yang buta, tulisan kafir di dahinya, dll) yang ada pada dirinya. Maka ucapan yang paling ringan untuk dikatakan adalah: ‘Wahai orang yang menyangka bisa menciptakan langit dan bumi, bentuklah dirimu, perbaguslah dan hilangkan sifat kekurangan pada dirimu. Dan jika kamu menyangka bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang baru pada diri Rabb, maka hilangkan apa yang tertulis di antara kedua matamu’.” (Fathul Bari 13/103)
Ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata: “Segala tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada tangan Dajjal, dari turunnya hujan serta tanah menjadi subur bagi orang yang memercayainya, dan ketandusan atas orang yang mengingkarinya, dan segala yang bersamanya berupa perbendaharaan bumi, bersamanya surga dan neraka dan air yang mengalir, semuanya merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar orang-orang yang ragu menjadi binasa dan orang-orang yang bertakwa menjadi selamat. Semuanya merupakan perkara yang sangat menakutkan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada fitnah yang paling besar dari fitnah Dajjal.” (Fathul Bari 13/103)
Demikianlah beberapa ucapan para ulama bahwa kejadian-kejadian luar biasa pada diri Dajjal adalah perkara yang hakiki, bukan khayalan atau sebuah kamuflase. Dan demikianlah keterangan-keterangan nash yang wajib diimani.
Kiat-Kiat Terhindar dari Fitnah Dajjal
Sebagaimana dalam pembahasan di atas sangat jelas bahwa fitnah Dajjal amat sangat berat dan besar sehingga tidaklah heran jika Dajjal memiliki banyak pengikut. Dan pengikut Dajjal yang terbanyak adalah dari kalangan Yahudi, orang ajam (orang-orang non Arab), bangsa Turki, orang-orang A’rabi (orang Badui yang dikuasai kejahilan), dan kaum wanita. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sabda beliau:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
“Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris.” (HR. Muslim no. 5237 dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)
Dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullahu no. 11290 disebutkan: “70.000 dari mereka memakai mahkota.”
Begitu juga dari kaum ‘ajam, telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al-Bukhari (no. 3323) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Adapun bangsa Turki disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu: “Yang nampak, wallahu ‘alam, yang dimaksud dengan orang-orang Turki adalah para pembela Dajjal.” (An-Nihayah 1/117)
Tentang keadaan orang-orang Badui sebagai pengikut Dajjal terbanyak disebabkan kejahilan menguasai mereka, sebagaimana dalam riwayat Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu.
Adapun kebanyakan pengikut mereka dari kaum wanita karena keadaan mereka lebih jelek dari kaum Badui, karena cepatnya mereka terpengaruh dan mereka dikuasai kejahilan, sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir rahimahullahu.
Kalaulah demikian besar fitnahnya dan banyak yang mengikutinya, maka sudah barang tentu kita harus berusaha menyelamatkan diri dari fitnahnya. Dan inilah beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari fitnah-fitnah Dajjal.
Pertama: Berpegang teguh dengan Islam dan bersenjatakan iman serta mengetahui nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang tidak ada seorangpun menyamai-Nya dalam masalah ini. Diketahui bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum, dan Maha Suci Allah dari hal itu. Dajjal buta sebelah sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak demikian. Dan tidak ada seorang pun bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai mati, sementara Dajjal dilihat ketika keluarnya baik oleh orang-orang kafir atau mukmin.
Kedua: Berlindung dari fitnah Dajjal, terlebih ketika shalat sebagaimana yang banyak diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga: Membaca sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi baik awal ataupun akhirnya di hadapan Dajjal, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keempat: Lari dari Dajjal dan mencari tempat perlindungan, seperti kota Makkah dan Madinah. Karena keduanya adalah tempat yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam kitab Shahih Al-Jami’us Shagir (5/303 no. 6177). Wallahu alam.
1 Tentu jawabnya bukanlah dia yang dimaksud dalam hadits-hadits Dajjal. Karena banyak sifat dan keadaan Dajjal yang tidak ada padanya. Dan tanda-tanda kiamat yang besar itu datang silih berganti dengan cepat sebagaimana disebutkan dalam sebagian hadits. Dan ini belum terjadi pada zaman ini. (ed)
Dikutip dari www.asysyariah.com Penulis : Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman, Judull: Dajjal, Antara Kenyataan dan Kamuflase

Keimanan mantap lahir sifat amanah


Posted by: nurjeehan in Akhlak & Adab, Akidah, Kehidupan Sosial, Muamalah, Tafakur (Muhasabah), Tazkirah SAIDATINA Khadijah memilih Nabi Muhammad s.a.w membawa dagangannya ke Syam kerana kemahiran perniagaan baginda dan sifat amanah yang sebati dengan baginda yang dikenali sebagai al-Amin.
Sifat ini tidak dimiliki pada peniaga lain di Makkah. Modal yang penting ini amat diperlukan dalam menguruskan soal kewangan, maklumlah tidak ramai orang selamat dengan ujian duit yang kadang-kadang “berhantu.”
Sebelum punya apa-apa, ramai orang selamat dan boleh dipercayai tetapi jika duit depan mata ramai yang menjadi ‘buta’.
Sifat amanah datangnya daripada dorongan iman. Bukan sebarang iman, tapi iman yang merasakan diintip oleh ‘kamera Ilahiyyah’ sahaja yang akan melahirkan amanah.
Perkataan iman melahirkan al-Amin dan dari sini lahirlah perkataan ‘al-Aman’, kemudian melahirkan al-Amanah.
Maknanya, iman yang mantap akan membuatkan seseorang punya prinsip dan mempertahankan kejujuran.
Kejujuran adalah mahkota keperibadian seseorang. Apabila ada prinsip maka lahirlah adab dan jika adab ini dapat diulangi ia akan menjadi sebati.
Apabila sebati ia akan menjadi tabiat. Bila sudah nampak sangat dan dirasai, bila bergaul secara spontan terdetik untuk ‘cop’ dengan gelaran al-Amin. Manakala orang al-Amin sahajalah yang akan membawa al-Aman.
Al-Aman maknanya selamat. Selamat daripada menyusahkan orang, selamat dari menzalimi orang, selamat apabila amanah diserahkan.
Bila iman bermasalah, sekadar iman ilmu hanya berteori, maka tidak ada aman lagi. Bila tidak aman, maka tidak boleh harap.
Orang yang tidak boleh harap kerana sudah tiada amanah.
Tiga perkataan ini sangat berkait tanpa satu yang lain tidak akan terlihat. Hari ini kita dengar cerita mengenai penyelewengan dan korupsi. Ia bukan masalah sosial sahaja tetapi iman yang mandul.
Iman yang hanya tersimpan dalam bentuk maklumat bukannya iman di hati yang merasa “diperhati.” Orang yang ditimpa penyakit khianat tidak layak memegang jawatan.
Jika Allah sudah tidak diendahkan lagi apa lagi ketua yang tidak punya kepakaran untuk memantau pekerjanya sepanjang masa lagi mudah ditipu. Hendak memperbetulkan sifat amanah mesti diperbetulkan dulu iman.
Kita dengar ada cerita soalan peperiksaan bocor. Sepatutnya biar pecah di perut dan tidak pecah di mulut menjadi wirid dan zikir kepada penjaga amanah.
Sekarang di perut pun sudah jadi najis manakala yang di mulut pun tersembur keluar, yang rahsia sudah tidak menjadi rahsia lagi. Semua orang sudah tahu.
Sebenarnya harta adalah amanah, jawatan adalah amanah, anak-anak adalah amanah, wanita adalah amanah, masa adalah amanah, kemaluan adalah amanah, keremajaan juga amanah.
Saidina Umar pernah menguji seorang pengembala kambing yang mengambil upah menjaga kambing-kambing di padang pasir.
“Boleh tak kalau pakcik nak beli kambing-kambing ini,” kata Umar. Gembala itu menjawab: “Tidak boleh kerana ini bukan kambingku.”
Kata Umar: “Bolehlah aku beli sebab tuan kau tak ada, tak nampak dan tak tahu kau jual kambing ini.”
Berkata gembala itu: “Tidak boleh kerana walaupun tuan aku tak tahu dan tak nampak tapi Tuhan tuan aku tahu dan nampak.”
Begitulah jika rasa berTuhan ada dalam diri nescaya amanah yang dipikul dan dijunjung tidakkan punah.

Pendustaan punca 3 sifat munafik


PADA zaman Rasulullah SAW, pegawai kerajaan diarahkan menyimpan apa saja yang mereka terima sebagai hasil negara dalam Perbendaharaan Awam. Rasulullah SAW turut memberi peringatan, “Wahai manusia! Sekiranya ada di kalangan kamu yang dilantik sebagai wakil pentadbir oleh kami, dan kemudian menyorokkan daripada kami walaupun hanya sebatang jarum, atau lebih, dia sudah berkhianat, dan akan membawanya di Hari Kebangkitan.” (Hadis riwayat Abu Dawud)
Peringatan Rasulullah SAW itu selaras amaran Allah dalam firman bermaksud: “Sesiapa yang berkhianat menggelapkan sesuatu harta (kepunyaan semua), dia akan datang menanggung apa yang dikhianatkan itu pada Hari Kiamat; kemudian akan dibalas tiap-tiap seorang apa yang dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiayai.” (Surah Ali-'Imran, ayat 161)


Peringatan itu penting kerana mereka yang diamanahkan untuk memerintah memiliki kuasa besar terhadap cara hasil negara dibelanjakan. Untuk mendokong sifat amanah terhadap kuasa inilah Allah merakamkan dalam al-Quran keperluan menyerahkan kerja kepada seseorang berperibadi kuat (al-qawiyy), iaitu yang berupaya serta berkebolehan (Surah al-Qasas, ayat 26).


Justeru, Rasulullah SAW pernah memberi peringatan bahawa ada tiga tanda orang munafik iaitu apabila dia berbicara, dia berdusta; apabila dia berjanji, dia menyalahi janji; dan apabila dia diamanahkan, dia berkhianat.


Dalam riwayat dirakamkan Imam Muslim, ada pernyataan tegas Rasulullah SAW mengenai golongan munafik iaitu ‘dia turut puasa, sembahyang dan menganggap diri Muslim.’


Keprihatinan akhlak yang menjadi lunas Islam tidak berlawanan dengan apa yang pernah dinyatakan Marcus Tullius Cicero dalam risalahnya De Officiis, “tidak ada perbuatan aniaya yang lebih menonjol daripada perlakuan seseorang hipokrit, yang serentak dengan sifatnya yang khianat, berpura-pura berbuat kebajikan.”


Sesungguhnya, perlakuan aniaya paling membinasakan kepada diri sendiri, masyarakat dan negara berkisar kepada tiga kejahatan itu iaitu berdusta, mungkir janji, dan mengkhianati amanah.


Dunia Islam semasa, sudah lama diperingatkan untuk mengawal kejatuhan moral itu sejak Persidangan Pertama Sedunia mengenai Pendidikan Islam di Makkah, pada April 1977, apabila Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas membentangkan kertas sidang pleno mengenai The Dewesternization of Knowledge.


Beliau juga mengingatkan, walaupun tiga sifat itu kedengarannya seperti tiga perlakuan berbeza, pada hakikatnya ia adalah tiga darjat pendustaan apabila berbicara, berdusta apabila memungkiri janji, berdusta melalui perlakuan pecah amanah dan menyelewengkan kuasa.


Banyak ayat al-Quran dan hadis sahih memperkuatkan lunas Islam ini. Dalam Islam, sifat khianat adalah musuh kepada keimanan yang hakiki dan kesedaran untuk menyerahkan diri hanya kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, tidak kepada yang selain-Nya. Seseorang Mukmin tidak mungkin berakhlak dusta atau pecah amanah.


Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Sesiapa tidak memiliki kejujuran, tidak memiliki iman; dan sesiapa yang tidak memelihara janji, bukanlah seorang yang beragama.” (Hadis riwayat Tabrani dan Baihaqi)


Kesarjanaan Islam mentakrifkan insan sebagai al-hayawan al-natiq. Secara harfiah, insan adalah ‘hidupan berkata-kata,’ bermakna pertalian dengan tutur katanya, seseorang itu akan mencerminkan jiwa dalamannya.


Berkenaan perkara itu, pemikir Perancis, Michel Eyquem de Montaigne pernah menyatakan, “Sebagai manusia, kita terikat hanya dengan apa kita tuturkan.


Oleh kerana persefahaman antara seorang manusia dengan manusia lain boleh dinyatakan melalui tutur kata, sesiapa berdusta dalam tuturbicaranya adalah mengkhianati masyarakat manusia. Tutur kata adalah satu-satunya alat untuk menyampaikan iradat dan fikiran kita; tuturbicara adalah penterjemah jiwa. Dengan berdusta, tiada lagi tali mengikat antara manusia. Pendustaan memutuskan semua perhubungan masyarakat dan meleburkan semua ikatannya.”


Bijak-pandai Melayu mengungkapkan lunas akhlak bersifat alami ini menerusi pepatah ‘kerbau dipegang pada tali, manusia dipegang pada janji.’


Justeru, manusia khianat pada janji dan ikatan amanah adalah lebih hina daripada kerbau dan lembu, seperti peringatan al-Quran, “Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi.” (Surah al-A'raf, ayat 179)


Demi menegaskan kewajipan untuk tidak mengkhianati amanah, Allah memerintahkan orang beriman supaya menyempurnakan ikatan janji amanah yang kukuh. Al-Raghib al-Isfahani menjelaskan, tiga jenis ikatan amanah iaitu perjanjian antara insan dengan Tuhan, janji antara manusia dengan dirinya sendiri dan janji antara seseorang manusia dengan manusia lain yang serasi dengan persyaratan agama.


Misalnya, perjanjian perdagangan antara penjual dengan pembeli, persepakatan masyarakat antara pelbagai kelompok kaum, akad-nikah perkahwinan dan persetiaan antarabangsa.


Perjanjian tersirat yang perlu ditunaikan dengan saksama seperti perjanjian tersirat antara tuan rumah dengan tetamunya, pengembara dengan pengiringnya, majikan dengan pekerjanya dan seterusnya.


Abdullah Yusuf Ali menyatakan, seseorang yang meninggalkan mereka yang berada dalam tanggungjawabnya dan sebaliknya pergi ‘beribadah’ berseorangan di padang pasir adalah seorang bacul yang mengabaikan 'uqud atau tugas wajibnya.


Tambahan pula, “Allah memerintahkan kamu supaya menyerahkan amanah kepada yang berhak.” (Surah al-Nisa', ayat 58).


Ayat al-Quran ini merangkumi segala amanah, sama ada berkaitan harta benda, atau berkaitan dengan akhlak.


Jika ada tugas perlu ditunaikan kepada seseorang yang lain, tugas itu adalah amanah wajib ditegakkan, maka mengerjakannya dengan sempurna dan penuh tanggungjawab adalah perbuatan menyerahkan amanah kepada yang berhak.


INTI PATI


Sifat khianat adalah musuh kepada keimanan yang hakiki.

Tuturkata mencerminkan jiwa dalaman.

Pendustaan memutuskan semua perhubungan masyarakat dan meleburkan semua ikatannya.

Allah memerintahkan orang beriman menyempurnakan janji.

Tiga jenis ikatan amanah adalah perjanjian antara insan dengan Tuhan, janji manusia dengan diri sendiri dan janji manusia dengan manusia lain.



Sumber: Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM)

Amanah dalam Pekerjaan


PDF Print E-mail
Written by hidupsihat.com   
Mar 01, 2007 at 12:00 AM
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), al-Nisa’: 58
 
Sabda Rasullullah  s.a.w. :

ألا لا إيمان لمن لا أمانة له

Ketahuilah! Tidak beriman bagi sesiapa yang tiada amanah. Riwayat Imam Ahmad
 
Berdasarkan ayat dan hadis di atas amanah adalah satu kewajipan yang mesti ditunaikan. Perintah di sini wajib sebagaimana perintah-perintah yang lain seperti solat, puasa dan sebagainya. Amanah adalah cabang keimanan, seseorang yang beriman mempunyai sifat amanah dan sebaliknya pula orang tidak amanah itu menandakan kekurangan imannya.
 

Takrif dan Skop Amanah

 
Amanah ialah penjagaan hak-hak dengan sempurna dan disampaikan kepada tuannya. Bidang amanah terlalu luas meliputi agama dan kewajipan syara’, kepimpinan, bidang pekerjaan seperti pentadbiran, perniagaan, perkilangan, rumahtangga dan sebagainya. Setiap insan mestilah menunaikan amanah-amanah ini dengan sempurna terutama amanah agama yang asasnya ialah tidak menyembah sesuatu pun selain Allah..
 
Pekerjaan adalah satu amanah besar yang mesti ditunaikan oleh setiap insan. Pekerjaan tanpa mengira bentuknya adalah baik sekiranya tidak bercanggah dengan syara’. Secara umumnya tiada beza di sisi Allah s.w.t. seorang yang berjawatan tinggi dengan seorang yang berjawatan rendah.
 

Amanah dalam Pekerjaan

 
Setiap pekerja mestilah sentiasa bersyukur kepada Allah s.w.t. kerana kurniaanNya itu. Seorang staff yang muslim mestilah berusaha sedaya yang mungkin untuk menjadi seorang yang cemerlang dan profesional dalam bidangnya. Kecermelangan dan keprofesionalan bukan untuk staff akademik sahaja, malah untuk semua staff. Seorang kerani dia boleh menjadi kerani yang profesioanal, seorang mekanik juga boleh menjadi mekanik yang profesianal dan seorang tukang sapu pun boleh menjadi seorang tukang sapu yang profesianal.
 
Asas yang paling utama di dalam kecermelangan dan keprofesionalan pekerjaan, bergantung kepada penunaian amanah dan tangungjawab yang diberikan. Sekiranya seorang staff itu cuai dalam menunaikan amanah bermakna dia seorang yang gagal, terkebelakang dan akan dipersoalkan nanti di akhirat.

 

 

Jenis- jenis Amanah

 
Di antara amanah yang mesti ditunaikan ialah :
a) Mengetahui bidang tugasnya; seorang staff yang profesional tidak perlu diberitahu secara berulang-ulang tentang tugasnya. Dia hanya perlu ditunjuk ajar sekali, kemudian dia sendiri akan menyelesaikannya tanpa perlu ditegur lagi. Dia akan menyiapkankanya sebelum atau tepat pada waktunya. Dia tidak mengenal erti tangguh menangguh. Contohnya, pembuat soalan yang profesional akan menyiapkan soalan dengan baik dan menghantarkannya kepada penyelaras pada waktu yang ditetapkan. Dia  memahami masalah yang akan dihadapi oleh penyelaras sekiranya dia lewat menghantar soalan. Jadi pembuat soalan yang tidak bersifat sedemikian adalah pembuat soalan yang tidak profesional, tidak cemerlang dan berkepentingan diri.
 
b) Mempunyai rasa tanggungjawab dan tidak membebankan orang lain menyelesaikannya. Contohnya dalam dewan peperiksaan, seorang pengawas atau pembantu pengawas yang profesional mengetahui kerja yang perlu mereka siapkan tanpa ada sifat harap mengharap. Pengawas dan pembantu pengawas mesti bekerjasama dengan ketua mengutip slip kehadiran, mencatat kehadirn dan mengira skrip. Jangan membiarkan ia dilakukan oleh segelintir pengawas atau pembantu pengawas, yang lain duduk di penjuru-penjuru dewan menanti waktu tamat.
 
c) Melakukan setiap tugas dengan bersungguh-sungguh dan yang terbaik. Contohnya, seorang kerani yang cemerlang akan memastikan surat atau sebarang dokumen yang diperlukan siap pada masa yang ditetapkan.
 
d) Menunjukkan sifat komitmen kepada kerja dan tidak berdalih. Sentiasa ada ketika diperlukan dan lebih mementingkan kerjanya daripada tugas-tugas yang tidak berkaitan. Seorang staff yang berkaliber akan peka dengan perkembangan di tempat kerja, dia tidak akan menggunakan alasan seperti tidak tahu ada meeting, tidak tengok surat lagi, lewat diberitahu dan pelbagai alasan lain. Sebaliknya dia akan cuba buat sehabis baik dengan menggunakan kepakaran dan kreativiti yang ada sehingga dapat mengubah situasi yang tegang kepada situasi yang tenang tanpa menyalahkan sesiapa.
 
e) Menjauhkan diri daripada sebarang sifat khianat dan tidak bermaruah, seperti rasuah, pecah amanah, bocorkan soalan dan membuat sesuatu untuk kepentingan diri.
Sabda Rasullullah  s.a.w. :
آية المنافق ثلاث : إذا حدّث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان – متفق عليه
Ada tiga tanda munafiq : Apabila bercakap ia berbohong, apabila berjanji ia mungkiri dan apabila diberi amanah ia khianati.
 
Penutup
 
Sabda Rasullullah  s.a.w. :
 
 أربع إذا كنَّ  فيك فلا عليك ما فاتك من الدنيا : حفظ الأمانة وصدق حديث وحسن خليقة وعفة في طعمة - الشيخان   
Empat perkara sekiranya kamu memilikinya kamu tidak akan ditimpa (balasan) terhadap apa yang kamu tidak buat di dunia: Jaga amanah, bercakap benar, berakhlak baik dan mengawal pemakanan (halal dan haram).
<img src="http://visit.geocities.yahoo.com/visit.gif?us1181556936" alt="setstats" border="0" width="1" height="1"> 1
www.sihatcantik.com
Di dalam Perlembagaan Negara ini - Bahagian 1, perkara 3 (I) - tercatat:
“Ugama Islam ialah Ugama persekutuan; tetapi ugama-ugama lain boleh diamalkan dengan aman dan damai di mana-mana bahagian persekutuan”.
Oleh kerana agama adalah suatu ciri penting bagi negara ini maka sewajarnyalah kita berusaha menerapkan nilai-nilai Islam kepada tatacara perkhidmatan awam negara, ini selaras dengan peruntukan perlembagaan seperti yang tertera di atas. Sebagai permulaan, hendaklah disedari bahawa Islam menuntut setiap manusia bekerja, berusaha mencari rezeki bagi menyara dirinya, keluarganya dan juga yang telahbagi ibubapanya tua. Di samping itu Islam juga menyatakan bahawa sesuatu “KERJA” yang halal ialah tugas yang diamanahkan oleh Allah kepada seseorang insan. Maka apabila seseorang itu menjalankan tugasnya ataupun bekerja, dengan sendirinya bererti, bahawa insan tersebut sedang menunaikan amanah Allah. Dengan kata-kata lain hamba Allah itu beribadat. Maka menurut Islam setiap kerja yang diredhai oleh Allah dan disertai dengan niat adalah ibadat. Oleh demikian setiap insan hendaklah menyedari dan menghayati bahawa setiap kegiatannya menjalankan kerja yang halal adalah wajib baginya dan kegiatannya itu sekiranya dimulai dengan niat, hendaklah dianggap sebagai ibadat. Bahkan Nabi Muhammad S.A.W. ada bersabda yang bermaksud:
“Barangsiapa bekerja untuk anak isterinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.”
(Riwayat Al- Bukhari)
Selain dari itu Rasulullah S.A.W. juga ada bersabda yang bermaksud:
“Mencari kerja yang halal itu adalah fardhu selepas fardhu”.
(Riwayat Al- Baihaqi)
Di samping itu kita hendaklah juga mengetahui bahawa setiap tugas atau kerja yang diberi oleh Allah kepada seseorang itu adalah menurut kemampuan orang yang berkenaan seperti yang ternyata di dalam firman Allah yang bermaksud:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang terdaya olehnya”.
(Al-Baqarah : 286)
Ayat ini menegaskan bahawa tidak ada sebab bagi seseorang pekerja itu mengeluh dan mengatakan bahawa tugasnya terlalu berat dan sukar. Dengan sendirinya ayat itu jua menekankan bahawa seseorang pekerja itu boleh menyelesaikan segala tugas jawatannya melainkan pekerja itu sendiri tidak mahu menunaikan tanggungjawabnya.
Selain dari itu setiap manusia hendaklah insaf bahawa menurut ajaran Islam setiap kegiatan kita di dunia ini akan diperhitungkan di akhirat nanti sebagaimana ternyata di dalam firman Allah yang bermaksud:
“Tiap-tiap diri bertanggungjawab terhadap apa yang telah diperbuatnya”.
(Al-Muddaththir : 38)
Ini bererti iaitu sekira kita tidak menunaikan kerja kita dengan sewajarnya, seperti kita mencuri masa dengan membuat kerja peribadi di dalam waktu pejabat, melengah-lengahkan bayaran kepada pemborong, meluluskan permohonan yang sepatutnya ditolak dan seumpamanya maka semestinyalah kita akan dihukum di akhirat kelak walaupun kita mungkin terlepas daripada tindakan tatatertib atau pun hukuman di dunia ini. Sebaliknya berbahagialah kita di dunia dan di akhirat sekiranya kita melaksanakan tugas kita dengan sewajarnya menurut tuntutan Islam.
Daripada semua yang diutarakan di atas ini jelaslah bahawa menurut ajaran Islam, setiap manusia wajib mempunyai kerja. Islam benci kepada pengemis dan penganggur. Di samping itu seseorang pekerja mestilah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya kerana Allah telah menegaskan bahawa setiap pekerja itu berupaya dan mampu untuk menunaikan tanggungjawabnya. Samada seseorang pekerja itu dapat menunaikan tugasnya dengan baik atau tidak hanyalah bergantung kepada sikap pekerja itu sendiri. Seterusnya setiap kegiatan pekerja itu akan menerima ganjaran yang sewajarnya di akhirat nanti. Berasaskan semuanya ini maka etika kerja dalam Islam adalah seperti :
1. Bekerja Dengan Azam Mengabdikan Diri Kepada Allah
2. Bekerja Dengan ikhlas Dan Amanah
3. Bekerja Dengan Tekun Dan Cekap
4. Bekerja Dengan Semangat Gotong-Royong Dan Berpadu Fikiran
5. Bekerja Dengan Matlamat Kebahagiaan Manusia Sejagat

ETIKA KERJA PERTAMA:
Bekerja Dengan Azam Mengabdikan Diri Kepada Allah
Dengan menyedari dan menghayati bahawa manusia adalah hamba Allah, maka sewajarnyalah setiap manusia mengabdikan dirinya kepada Allah, dengan mengikuti segala suruhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya selaras dengan firman Allah S.W.T. yang bermaksud:
“Wahai sekalian manusia! Sembahlah Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu bertaqwa”.
(Al-Baqarah : 21)
Selanjutnya, dikemukakan satu lagi firman Allah yang maksudnya adalah seperti berikut:
“Wahai orang-orang yang berilmu, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan kepada orang yang berkuasa dari kalangan kamu.” (An-Nisaa’ : 59)
Ayat ini pula menyuruh kita taat bukan sahaja kepada Allah tetapi juga kepada Rasulullah S.A.W. dan kerajaan kerana kerajaan itulah yang dimaksudkan dengan ‘‘orang yang berkuasa dari kalangan kamu’’. Bagi mentaati Allah dan Rasulullah S.A.W. maka setiap manusia hendaklah mempunyai kerja yang halal. Bagi mentaati kerajaan pula setiap pekerja awam hendaklah menjalankan tugasnya dengan sepenuh kesedaran bahawa jawatannya itu adalah amanah Allah kepadanya. Sekiranya ia tidak menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya maka bererti pekerja tersebut telah pecah amanah kepada Allah. Sanggupkah kita yang mengakui bahawa kita ini hamba Allah, melakukan pecah amanah kepada Allah ?
Seterusnya seseorang pekerja hendaklah menyedari dan menghayati bahawa bekerja mencari nafkah yang dimulai dengan niat itu adalah ibadat. Bahkan Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud :
"Orang yang mencari penghidupan itu adalah kawan Tuhan".
(Riwayat Al-Bukhari)
Dengan memahami maksud hadis ini dan menyedari bahawa bekerja itu bererti beribadat maka sewajarnyalah bagi setiap pekerja berusaha menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.


ETIKA KERJA KEDUA :
Bekerja Dengan ikhlas Dan Amanah
Bekerja dengan ikhlas bererti bekerja dengan sepenuh kerelaan dan dengan suci hati untuk mencari keredhaan Allah. Setiap pekerja harus menyedari bahawa jawatan yang di pegangnya adalah hasil permohonannya sendiri dan buakanlah ia dipaksa memenuhi jawatan tersebut. Maka dengan sendirinya wajarlah seseorang pekerja itu menjalankan tugasnya dengan sepenuh kerelaan apalagi dengan kesedaran bahawa kerja yang dilaksanakan olehnya itu adalah suatu amal saleh dalam usahanya mengabdikan diri kepada Penciptanya di samping berusaha untuk menyara dirinya dan keluarganya yang dikasihi dan berkhidmat kepada masyarakat.
Seterusnya setiap insan mestilah bersyukur kepada Allah kerana rahmat-Nya kepada kita yang tidak terhitung banyak-nya dan satu daripadanya ialah yang kita sandangi ini. Kesyukuran kita seharusnya memuncak lagi sekiranya kita menginsafi bahawa banyak lagi manusia lain yang masih menganggur dan tidak dapat menyara keluarganya dengan sewajarnya. Kita juga hendaklah bersyukur kerana dengan jawatan atau kerja kita ini, kita dapat mengikut serta menyumbangkan tenaga di dalam usaha membangunkan negara kita yang tercinta. Moga-moga tercapailah cita-cita suci kita untuk membangunkan suatu negara yang direhdai Allah seperti firman-Nya:
“Negara yang makmur serta mendapat keampunan Tuhan”
(Saba’: 15)
Sekiranya kita dapat menghayati dan mensyukuri segala rahmat Allah itu, insya Allah kita akan dapat menunaikan tugas kita dengan ikhlas. Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud :
‘Sebaik-baik manusia ialah orang yang paling banyak bermanfaat bagi sesama manusia’.
(Riwayat Al-Quda’)
Di dalam pendahuluan rencana ini, telah dinyatakan bahawa sesuatu kerja atau jawatan itu adalah amanah Allah kepada kita. Maka dengan kesedaran bahawa kita ini adalah hamba Allah yang dijadikan-Nya, sewajarnyalah kita menunaikan amanah tersebut sedaya upaya kerana Allah telah berfirman dan maksudnya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya”.
(An-Nisaa’ : 58)
Selain dari itu kita semua menyedari bahawa sesuatu kerja atau jawatan adalah hasil daripada perjanjian yang disetujui bersama di antara pekerja dengan majikan. Pekerja berjanji akan menunaikan tugasnya dan majikan pula berjanji akan membayar gaji yang tertentu setiap bulan. Oleh demikian sewajarnyalah kedua-dua pihak iaitu pekerja dan majikan memenuhi perjanjian tersebut. Sekiranya seseorang pekerja itu tidak menunaikan tugasnya dengan sewajarnya tetapi sanggup menerima gajinya dengan sepenuhnya maka pekerja tersebut bolehlah dianggap sebagai seorang yang menipu dan telah memecahkan janjinya. Dengan sendirinya pekerja itu telah mengingkari perintah Allah kerana Allah telah berfirman dengan maksudnya :
“Wahai orang yang beriman, sempurnakanlah janjimu”.
(Al-Maidah : 1)
Hadith Rasulullah S.A.W. juga menegaskan dengan maksud:
“Sesiapa menipu, bukanlah ia dari golongan kami”.
(Riwayat Muslim)
Pepatah melayu pula mengatakan : “Kerbau dipegang pada talinya, manusia dipegang pada janjinya”.
Pepatah ini membayangkan bahawa manusia yang menipu itu adalah lebih hina daripada kerbau.
Dengan hujah-hujah yang dikemukakan itu sanggupkah lagi kita mengabaikan kerja atau tugas masing-masing? Sanggupkah kita mengkhianati amanah Allah, Allah yang telah mengurniakan kita dengan akal dan fikiran?Tepuklah dada tanyalah selera.


ETIKA KERJA KETIGA:
Bekerja Dengan Tekun Dan Cekap
Ketekunan adalah suatu sifat yang amat diperlukan oleh seseorang pekerja. Setiap pekerja akan dapat meningkatkan kecekapan masing-masing menjalankan tugas sekiranya mereka tekun, insya Allah. Rasulullah S.A.W. bersabda dengan maksud:
“Sesungguhnya Allah suka apabila seseorang itu melakukan sesuatu pekerjaan dengan tekun”.
(Riwayat Al-Baihaqi)
Pepatah Melayu pula mengatakan : “Belakang parang pun kalaulah diasah, nescaya menjadi tajam”.
Pepatah ini menunjukkan bahawa dengan ketekunan, sesuatu kerja yang susah itu akan dapat diatasi insya Allah dan dengan sendirinya meningkatkan kecekapan seseorang pekerja itu.
Apabila kita hendak menilai seseorang pekerja, ciri yang terpenting ialah kecekapannya. Mutu kecekapan seseorang itu akan terus meningkat jika pekerja itu sanggup belajar atau menambah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tugasnya terus menerus. Ajaran Islam ada menegaskan:
“Tuntutan ilmu daripada buaian hingga ke liang lahad”.
Di dalam bidang sains dan teknologi khususnya, menuntut ilmu sepanjang hayat menjadi suatu perkara yang penting sekiranya kita tidak mahu ketinggalan zaman, kerana terlalu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di dalam kedua-dua bidang itu.
Selain dari itu hadith Rasulullah S.A.W. menyatakan, berkaitan dengan pekerja dengan maksud seperti berikut:
“Apabila sesuatu urusan (pekerjaan) diberikan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran.”
Hadith ini jelas menunjukkan akan peri pentingnya keahlian ataupun kecekapan seseorang pekerja menurut pandangan Islam. Sekiranya kecekapan seseorang pekerja itu meningkat maka dengan sendirinya hasil kerjanya juga turut meningkat.

ETIKA KERJA KEEMPAT:
Bekerja Dengan Semangat Gotong-Royong Dan Berpadu Fikiran
Di dalam perkhidmatan awam bahkan di dalam sebarang perkhidmatan, seseorang pekerja itu bertugas dengan suatu kumpulan pekerja yang tertentu. Dengan sendirinya untuk menghasilkan perkhidmatan yang cemerlang sesuatu kumpulan pekerja itu mestilah bekerjasama, bergotong-royong melaksanakan tugas masing-masing. Sikap bantu membantu di antara satu sama lain di antara pekerja, akan menimbulkan suasana bekerja yang aman dan gembira. Suasana yang demikian pula akan meningkatkan hasil dan mutu perkhidmatan setiap pekerja. Firman Allah juga menegaskan dengan maksud:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan…
(Al-Ma’idah : 2)
Semangat bergotong-royong adalah suatu ciri kebudayaan negara ini yang semestinya dipupuk terus dan disuburkan semula. Bagai kata pepatah kita : “Bukit sama didaki, lurah sama dituruni”.
Di samping kita bergotong-royong menjalankan tugas, kita juga hendaklah menggalakkan perbincangan sesama sendiri, bertukar fikiran, untuk mengkaji masalah yang ada dan juga untuk menghadapi masalah yang mungkin timbul. Perbincangan seperti ini akan meningkatkan rasa kekitaan di antara pekerja dan dengan sendirinya pula meningkatkan rasa tanggungjawab bersama terhadap sebarang kegiatan kumpulan pekerja yang berkenaan. Rasa keenakan berpadu tenaga dan berpadu fikiran ini telah dinikmati oleh datuk nenek kita dahulu dan rasa indah itu telah diabadikan oleh mereka dengan pepatah:
“Bulat air kerana pembentung, bulat manusia kerana muafakat”.
“Hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah”.
Cara berpadu fikiran ini jualah yang sekarang selalu dibincangkan dengan nama barunya itu “kumpulan kawalan mutu’, (quality control circle). Allah juga memerintahkan manusia menyelesaikan sekalian masalah mereka dengan perbincangan atau bermesyuarat seperti firman-Nya:
“Dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka”.
(Asy-Syuraa : 38)

ETIKA KERJA KELIMA:
Bekerja Dengan Matlamat Kebahagiaan Manusia Sejagat
Islam adalah agama untuk manusia sejagat. Dengan itu ajaran Islam (berpunca daripada Al-Quran dan hadis) juga adalah untuk manusia seluruhnya. Maka etika kerja kelima ini adalah wajar, kerana maju mundurnya pembangunan negara Malaysia ini akan memberi kesan jua kepada negara lain di dunia. Namun demikian patut dikemukakan di sini firman Allah yang bermaksud :
‘Tidak ada paksaan dalam agama (Islam)’.
(Al-Baqarah : 256)
Juga firman Allah S.W.T. yang bermaksud:
"Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan".
(Al-Maidah : 8)
Ayat yang pertama di atas ini menjelaskan bahawa walaupun Islam itu ialah agama untuk semua manusia tetapi orang yang tidak menganuti Islam tidak boleh dipaksa untuk memeluk Islam. Ayat yang kedua pula melarang kita daripada berlaku tidak adil terhadap sesuatu kaum walaupun kita benci kepada kaum tersebut. Kedua-dua ayat tersebut memberi pengertian bahawa setiap pekerja hendaklah memberi layanan dan khidmat yang sama kepada semua orang tanpa mengira kaum ataupun agama orang yang berkaitan, menurut ajaran Islam. Di samping itu, sewajarnya kita berusaha menurut ajaran hadith yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tiada menyukar-nyukarkan pekerjaan dan yang jernih mukannya dalam menghadapi manusia."
(Riwayat Al-Baihaqi)

KESIMPULAN
Sebagai sebuah negara yang mengakui di dalam perlembagaan bahawa Islam itu ialah agama rasminya, Malaysia sudah semestinya terus menerus meningkatkan usaha menerapkan nilai-nilai Islam di dalam setiap bidang kegiatan kerajaan. Namun demikian oleh kerana segala kegiatan kerajaan itu melibatkan manusia maka sewajarnya setiap pekerja (termasuk pekerja Badan-Badan Berkanun) diberi bimbingan khusus dari semasa ke semasa untuk melengkapkan mereka sebagai pekerja yang akan melaksanakan tugasnya selaras dengan ajaran Islam. Dari pihak pekerja sendiri, mereka hendaklah sentiasa sedar dan berusaha untuk menunaikan tugas mereka menurut ajaran Islam, ajaran yang mementingkan kebahagiaan umat manusia sejagat. Wajarlah bagi setiap pekerja menghayati firman Allah S.W.T. yang bermaksud:
“Dan bahawa sesungguhnya inilah jalan-Ku (agama Islam) yang lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut jalan-jalan (yang lain dari pada Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah’. (Al-An’am : 153)