Pages

Monday, April 5, 2010

Benarkah keterangan ulama-ulama syiah, bahwa Siti Fatimah, putri Rasulullah itu meninggal dunia dalam keadaan dendam pada Sayyidina Abubakar, karena persoalan tanah fadak, warisannya yang dirampas oleh Sayyidina Abu Bakar ?.


 Be
Pembaca yang kami hormati !
Pantaskah Siti Fatimah ra yang mendapat gelar sebagai Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah itu mempunyai sifat dendam terhadap orang lain? apalagi terhadap orang yang sangat berjasa kepada ayahnya?.
Sebab sebagaimana kita ketahui, bahwa Siti Fatimah adalah putri Rasulullah yang telah mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Siti Fatimah telah mewarisi sifat-sifat baik ayahnya, seperti Al Akhlaqul Karimah (akhlak yang mulia), Al’afwu’indal magdirah (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) dan Husnuddhon (sangka baik) serta sifat baik Rasulullah yang lain.
Beliau Siti Fatimah dikenal sebagai seorang yang berakhlaq mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau beliau itu mendapat gelar sebagai Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah. Sebab di antara  tanda-tanda penghuni surga adalah bahwa mereka itu tidak mempunyai rasa Ghil. Karenanya kami tidak dapat menerima kalau ada yang mengatakan bahwa Siti Fatimah wafat dalam keadaan dendam pada orang lain, dikarenakan urusan duniawi. Itu adalah satu penghinaan dan tuduhan kepada putri tersayang Rasulullah saw.
 Beliau juga dikenal jujur dan tidak suka berdusta, sebagaimana kesaksian Siti Aisyah. Dimana Siti Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah saw :“Bertanyalah kepada Fatimah, sebab dia itu tidak suka dusta.” Disamping itu semua, Siti Fatimah sangat sabar dalam menerima segala ujian serta ridha dan tawakkal atas takdir yang dialaminya. Walaupun keadaan ekonominya dalam keadaan serba kekurangan, namun beliau menerimanya dengan senang hati. Padahal beliau adalah putri seorang pemimpin.
Itulah diantara sifat-sifat mulia putri Rasulullah saw, dan apa yang kami sampaikan diatas adalah merupakan keyakinan dan kesaksian golongan Ahlussunnah Waljamaah, oleh karena itu kami tidak bisa menerima tulisan-tulisan ulama Syi’ah yang berakibat dapat mendiskriditkan Siti Fatimah.
Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa Siti Fatimah tidak mungkin mempunyai sifat dendam, karena sifat dendam itu bukan sifatnya Ahlil Jannah, tetapi yang pasti beliau mempunyai sifat pemaaf (sifatnya Ahlil Jannah).
Oleh karena itu, kata-kata dendam yang ada dalam cerita Syi’ah tersebut merupakan suatu penghinaan pada Siti Fatimah ra.
Adapun masalah tanah fadak warisan Rasulullah saw, maka Siti Fatimah dan Imam Ali serta istri-istri Rasulullah dan pamannya Abbas telah menerima dengan baik keputusan Khalifah Abu Bakar, karena keputusan tersebut sesuai dengan perintah Rasulullah saw. Begitu pula keputusan tersebut telah berlaku di zaman Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Bahkan di zaman Khalifah Ali bi Abi Thalib keputusan tersebut terus diberlakukan oleh Imam ali.
Andaikata keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut oleh Imam Ali dianggap tidak benar dan melanggar agama, pasti akan dirubahnya dan pasti warisan tersebut akan diserahkan kepada pemilik-pemiliknya.
Inilah keputusan Khalifah Abu Bakar mengenai warisan Rasulullah saw
Dasar keputusan Khalifah Abu Bakar adalah hadits Nabi yang berbunyi :

نحن معاشر الانبياء لا نورث ، ما تركنا صدقة        ( رواه البخارى )

“Kami para Nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan menjadi sodaqoh.”
(HR. Bukhari) 
Dalam kitab-kitab hadits disebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan hadits tersebut adalah Imam Ali, Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Usman, Sayyidina Abbas (paman Rasulullah saw) dan beberapa sahabat yang lain serta istri-istri Rasulullah saw.
Dengan dasar hadits tersebut, maka peninggalan Rasulullah yang berupa sebidang tanah perkebunan di Fadak dikuasai dan dikelola oleh pemerintah (Khalifah).
Selanjutnya oleh Khalifah Abu Bakar hasil dari kebun tersebut digunakan untuk keperluan keluarga Rasulullah dan sebagian diberikan kepada fakir miskin.
Hal mana sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya. Oleh karenanya Siti Fatimah dan Imam Ali serta yang lain menerima keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut.
Yang mengherankan dan menjadi tanda Tanya, mengapa dalam masalah Fadak tersebut, ulama-ulama Syi’ah itu selalu menjadikan Siti Fatimah sebagai pelaku dalam masalah Fadak, padahal bukan hanya beliau saja yang berkepentingan. Mengapa tidak Sayyidina Abbas (paman Rasulullah) atau mengapa tidak istri-istri Rasulullah?. Katanya mereka itu mencintai Siti Fatimah, mengapa justru Siti Fatimah yang dijadikan obyek?
Mengapa dalam cerita-cerita yang dibuat oleh ulama-ulama syiah mereka tega memberi sifat  kepada Siti Fatimah dengan kata-kata dendam, bermusuhan, berselisih, mengancam orang lain, menuntut warisan, menuntut kekhalifahan, tidak mau dilihat bila meninggal, tidak mau dishalati bila meninggal dan lain-lain.
Tidakkah mereka itu membaca keterangan dan kesaksian para sahabat yang banyak tertera dalam kitab-kitab Ahlus-sunnah bahwa Siti Ffatimah itu berakhlak mulia, tutur katanya lembut, pemaaf, dermawan, dan tidak mempunyai ambisi untuk mencari kekayaan apalagi kedudukan. Justru beliau minta kapada Allah agar digolongkan bersama orang-orang miskin, sebagaimana ayahnya Rosulullah saw. Beliau benar-benar mewarisi sifat-sifat mulia Rosulullah saw.
Oleh karena itu beliau Siti Fatimah sangat dicintai dan dihormati oleh para sahabat, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Khafilah Abu Bakar, bahwa keluarga Rasulullah saw itu lebih ia cintai daripada keluarganya.
Perlu diketahui, bahwa pemberian-pemberian Khalifah Abu Bakar kepada Ahlul Bait, jauh lebih besar dari hasil kebun Fadak tersebut. Karenanya hubungan antara Khafilah Abu Bakar dengan Ahlul Bait sangat baik. Bahkan hubungan Siti Fatimah dengan istri Khalifah Abu Bakar (Asma’ binti Umais) bagaikan kakak beradik.
Sehingga sewaktu Siti Fatimah wafat, maka yang memandikan adalah Asma’ binti Umais atas dasar wasiat beliau.
Disamping kata-kata dendam diatas, sebenarnya ulama-ulama Syi’ah itu secara tidak langsung sering menghina Siti Fatimah, dimana mereka sering membuat cerita-cerita yang isinya menggambarkan bahwa Siti Fatimah mempunyai rasa sentiment atau rasa permusuhan terhadap para Sahabat, khususnya terhadap Khafilah Abu Bakar. Atau dalam bahasa Al-Qur’an disebut mempunyai rasa Ghil (Unek-unek terhadap orang lain).
Misalkan mereka mengatakan :
- Siti Fatimah sakit hati terhadap para sahabat, karena mereka mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah dan tidak memilih suaminya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib).
- Setelah Sayyidina Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah, Siti Fatimah keliling menemui pemimpin-pemimpin suku guna mencari dukungan bagi suaminya (Imam Ali).
- Siti Fatimah tidak mau baiat pada Khalifah Abu Bakar, karena dianggap merampas kekhalifahan suaminya.
- Kematian Siti Fatimah dikarenakan memikirkan hartanya yang dirampas oleh Khalifah Abu Bakar
Apa yang mereka tuduhkan tersebut, merupakan satu kekurang-ajaran mereka terhadap Siti Fatimah dan merupakan fitnah yang sangat besar, yang harus ditebus oleh penuduhnya dengan membaca syahadat lagi (tajdiid) dan harus banyak baca istighfar.
Hal mana karena apa yang mereka tuduhkan tersebut, sangat bertentangan dengan sifat putri Rasulullah yang sangat lemah lembut dan pemaaf serta penuh kasih sayang terhadap sesama muslimnya. Terutama terhadap orang-orang yang lebih dahulu dalam beriman kepada Allah dan RasulNya. Sehingga sesuai dengan do’a yang diajarkan oleh Allah dalam Al Qur’an yang berbunyi :

ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا

 للذين امنوا ربنا انك رؤف رحيم
( الحشر :١٠ )

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Hasyr : 10) 
Demikianlah sedikit mengenai cerita-cerita Syi’ah yang apabila kita amati benar-benar justru mendiskriditkan Siti Fatimah.
  
 Ap  Apa wasiat Siti Fatimah kepada Asma Binti Umais ?
Asma binti Umais adalah istri Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan dari perkawinan tersebut Allah mengaruniai seorang putra dengan nama Muhammad bin Abu Bakar.
Perkawinan tersebut atas perintah Rasululah saw, setelah suaminya yang pertama yaitu Ja’far bin Abi Thalib  (saudara Imam Ali) meninggal dalam peperangan. Beliau Asma’ termasuk orang-orang yang masuk Islam pada awal permulaan Islam di Mekkah sebelum Muslimin berkumpul di Darul Argom dan beliau kemudian bersama suaminnya Ja’far bin Abi Thalib hijrah ke Habasyah.
Setelah Khalifah Abu Bakar wafat, Asma’ binti Umais kawin dengan Imam Ali kw dan dikaruniai oleh Allah dua putra yaitu Yahya dan Muhammad Al Ashhor. Ummul Mu’minin Maimunah istri Rasulullah saw adalah saudara seibu dengan Asma’ binti Umais. Oleh karena itu hubungan Asma binti Umais dengan keluarga Rasulullah saw sangat dekat sekali. Beliau sering membantu keluarga Rasulullah saw.
Asma’ binti Umais adalah orang yang selalu membantu Siti Fatimah dan meskipun beliau istri seorang Khalifah hampir setiap hari Asma’ berkunjung kerumah Siti Fatimah mereka seperti kakak beradik.
Semoga Alllah membalasnya serta meridhoinya.
Adapun cerita mengenai wasiat Siti Fatimah kepada Asma’ binti Umais, maka dalam buku-buku sejarah diceritakan sbb.
Setelah Siti Fatimah merasa bahwa ajalnya sudah dekat beliau berkata kepada Asma’ binti Umais yang hampir setiap hari berkunjung ke rumah Siti Fatimah.
“ Saya kurang senang terhadap apa yang diperbuat terhadap wanita jika mati, yaitu hanya ditutupi dengan kain. Sehingga bentuk badannya kelihatan.”
Maka berkatalah Asma’ kepada Siti Fatimah : “Apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” Siti Fatimah menjawab: “Coba tunjukkan.” Maka dibuatlah oleh Asma’ keranda dari pelepah pohon kurma, kemudian diatasnya ditaruh kain. Begitu Siti Fatimah melihat keranda tersebut, beliau sangat gembira dan tertawa seraya berkata : “Alangkah baiknya ini. Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupiku. Nanti jika aku mati, maka mandikanlah aku bersama Ali dan jangan ada orang lain yang ikut memandikanku. Setelah itu buatkanlah untukku seperti ini.”
Selanjutnya, begitu Siti Fatimah wafat, semua wasiatnya dilaksanakan oleh Imam Ali dan Asma’.
Cerita ini dimuat dalam kitab At Tobaqot, karya Ibnu Saad, Sunan Al Baihaqi, Sunan Ad Dar Quthni dan lain-lain.
Pembaca yang kami hormati.
Mengenai wasiat Siti Fatimah agar yang memandikan beliau hanya Asma’ binti Umais dan Imam Ali, serta orang lain tidak boleh ikut memandikan beliau tersebut, oleh ulama-ulama Syiah dibuatkan beberapa cerita wasiat Siti Fatimah, diantaranya :
-          Apabila beliau wafat, para sahabat dilarang masuk rumah Siti Fatimah, sebab beliau tidak mau dilihat para sahabat.
-          Siti Fatimah berwasiat agar waktu memakamkannya tidak dilihat atau tidak diketahui oleh para sahabat.
-          Imam Ali melarang para sahabat menshalati Siti Fatimah, sebab Siti Fatimah tidak mau dishalati oleh para sahabat, terutama oleh Khalifah Abu Bakar.
Masya Allah, ini adalah suatu tuduhan dan fitnah terhadap Imam Ali dan Siti Fatimah r.a. sebab mungkinkah Imam Ali melarang seseorang melakukan shalat?.
Khasya, pasti tidak mungkin.
Begitu pula Siti Fatimah yang telah mewarisi sifat-sifat dan akhlak baginda Rasulullah SAW, pasti beliau tidak akan membuat wasiat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Syiah itu. Lalu untuk apa beliau minta dibuatkan keranda tersebut.
Itulah orang-orang Syiah, mereka suka memutar balik fakta dan cerita, dengan tujuan akan membuat opini bahwa antara Siti Fatimah dengan para sahabat telah terjadi hubungan yang tidak baik.
Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari pemutar balikan sejarah yang dilakukan oleh ulama-ulama Syiah.
Demikian wasiat Siti Fatimah kepada istri Khalifah Abu Bakar yang sekaligus membuktikan adanya hubungan baik antara kedua keluarga.

No comments: