Pages

Showing posts with label ikhlas. Show all posts
Showing posts with label ikhlas. Show all posts

Saturday, May 7, 2011

9 Keadaan disunatkan membaca surah Al-Ikhlas


http://doaayatdanzikir.files.wordpress.com/2010/06/surah-al-ikhlas.jpg?w=289&h=1024&h=367
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ’ala Rosulillah wa ’ala alihi wa shohbihi ajma’in.
Beberapa kesempatan yang lalu Rumaysho.com memuat artikel mengenai tafsir dan fadhilah surat Al Ikhlas. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas waktu yang dianjurkan membaca surat Al Ikhlas. Semoga kita bisa mendapatkan keberkahan dengan mengamalkannya.
Pertama: waktu pagi dan sore hari.
Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash bersama dengan maw’idzatain (surat Al Falaq dan surat An Naas) masing-masing sebanyak tiga kali. Keutamaan yang diperoleh adalah: akan dijaga dari segala sesuatu (segala keburukan).
Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata,
خَرَجْنَا فِى لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِيُصَلِّىَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتُمْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »
Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah“. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A’UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akn mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Kedua: sebelum tidur.
Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan, lalu keduanya ditiup, lalu dibacakanlah tiga surat ini. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti tadi diulang sebanyak tiga kali.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)
Ketiga: ketika ingin meruqyah (membaca do’a dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit).
Bukhari membawakan bab dalam shohihnya ‘Meniupkan bacaan ketika ruqyah’. Lalu dibawakanlah hadits serupa di atas dan dengan cara seperti dijelaskan dalam point kedua.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِى كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ . قَالَتْ عَائِشَةُ فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِى أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).“  (HR. Bukhari no. 5748)
Jadi tatkala meruqyah, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan cara: Terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan lalu keduanya ditiup lalu dibacakanlah tiga surat tersebut. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti ini diulang sebanyak tiga kali.
Keempat: wirid seusai shalat (sesudah salam).
Sesuai shalat dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An Naas masing-masing sekali. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata,
أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat  di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)
Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh).
Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.
Dari’ Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ : { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } وَ { قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ
Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahihLihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan pada point berikut.
Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah maghrib.
Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا أُحْصِى مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at.
Ketika itu, surat Al A’laa dibaca pada raka’at pertama, surat Al Kafirun pada raka’at kedua dan surat Al Ikhlash pada raka’at ketiga.
Dari ‘Abdul Aziz bin Juraij, beliau berkata,  “Aku menanyakan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah membaca Al Fatihah) ketika shalat witir?”
‘Aisyah menjawab,
كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ يَقْرَأُ فِى الأُولَى بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَفِى الثَّانِيَةِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَفِى الثَّالِثَةِ بِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)
Dalam riwayat yang lain disebutkan tanpa surat al mu’awwidzatain.
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melaksanakan shalat witir dengan membaca Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash)” (HR. Abu Daud no. 1423 dan An Nasai no. 1730)
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan,
وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِي هَذَا لَا يَثْبُتُ ؛ فَإِنَّهُ يَرْوِيهِ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ ، وَهُوَ ضَعِيفٌ .وَقَدْ أَنْكَرَ أَحْمَدُ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ زِيَادَةَ الْمُعَوِّذَتَيْنِ .
“Hadits ‘Aisyah tidaklah shahih. Di dalamnya ada seorang perowi bernama Yahya bin Ayyub, dan ia dho’if. Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in telah mengingkari penambahan “mu’awwidzatain”.” (Al Mughni, 1/831)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan,
تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح لغيره دون قوله : والمعوذتين وهذا إسناد ضعيف عبد العزيز بن جريج لا يتابع في حديثه
“Hadits ini shahih kecuali pada perkataan “al mu’awwidzatain”, ini sanadnya dho’if karena ‘Abdul ‘Aziz bin Juraij tidak diikuti dalam haditsnya.” (Tahqiq Musnad Al Imam Ahmad bin Hambal, 6/227)
Jadi yang tepat dalam masalah ini, bacaan untuk shalat witir adalah raka’at pertama dengan surat Al A’laa, raka’at kedua dengan surat Al Kafirun dan raka’at ketiga dengan surat Al Ikhlas (tanpa mu’awwidzatain).
Namun bacaann ketika witir ini sebaiknya tidak rutin dibaca, sebaiknya diselingi dengan berganti membaca surat lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullahmengatakan,
والظاهر أنه يكثر من قراءتها، ولا يداوم عليها فينبغي قراءة غيرها أحياناً حتى لا يعتقد العامة وجوب القراءة بها
“Yang nampak dari hadits yang ada, hendaklah bacaan tersebut seringkali saja dibaca, namun tidak terus-terusan. Sudah seharusnya seseorang membaca surat yang lain ketika itu agar orang awam tidak salah paham,ditakutkan mereka malah menganggapnya sebagai perkara yang wajib.” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/43)
Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at.
Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.
Dari Jabir bin Samroh, beliau mengatakan,
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ المَغْرِبِ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ : ( قَلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ ) وَ ( قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Kesembilan: ketika shalat dua rak’at di belakang maqom Ibrahim setelah thowaf.
Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan,
فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد )
Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)
Semoga sajian ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Alhmadulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ’ala nabiyyina Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan di Panggang-GK, 8 Rajab 1431 H
Muhammad Abduh Tuasikal
sumber:peribadirasulullah

Tuesday, March 8, 2011

Wahai mufti dan ulama : selamatkan diri di akhirat dahulu



Seorang raja yang memerinta negeri yang luas termenung panjang sedang memandang sesuatu yang tidak nyata hinggakan menteri yang lalu di hadapannya tidak disedari langsung.

Wazir : Apakah gerangan tuanku bermenung jauh hinggakan patik lalu pun tidak disedari tuanku?

Raja : Mmm.. Beta diberitahu oleh tabib istana bahawa beta mengalami sakit hati yang teruk dan perlu digantikan dengan hati yang baik dan suci.

Wazir : Kalau begitu baik kita istiharkan, mana tahu ada sesiapa yang sanggup menjual hati anak muda mereka. Jika ada kita gantikan dengan ganjaran emas yang banyak.

Raja : Bagus juga cadangan mamanda wazir. Segerakan pencarian ini semoga penyakit beta sembuh segera.

Keesokan harinya, wazir membuat perishtiharan pada sekelian penduduk bahawa sesiapa yang mempunyai anak lelaki yang bersifat sekian-sekian boleh dipersembahkan kepada raja. Sebagai gantinya akan diberi ganjaran emas sebanyak muatan 3 kereta lembu.

Selang beberapa hari datang pasangan suami isteri membawa anak muda mereka. Lalu ditilik oleh wazir dan di dapati pemuda itu memang mempunyai sifat-sifat yang dikehendaki. Berlakulah pertukaran nyawa dan emas sebanyak 3 kereta lembu.

Setelah itu, Raja memanggil Kadhi Besar dan bertanyakan satu fatwa kepadanya.
Raja : Bolehkah beta membunuh anak muda ini kerana beliau telah dijual kepada beta. Hati beta pula mengalami sakit yang sangat teruk. Perlu digantikan segera. Kalau tidak beta akan gagal mentadbir negeri ini dengan baik dan saksama.

Kadhi Besar : Jika begitu keadaannya, haruslah bagi tuanku membunuh pemuda itu dan diambil hatinya sebagai merawat penyakit tuanku.

Akhirnya, pada keesokkan hari, pemuda tersebut telah dibawa ke tempat penyembelihan untuk disembelih dan diambil hatinya. Raja menghadiri majlis penyembelihan itu. Sedang tukang sembelih menghampiri pemuda tersebut, kelihatan pemuda tersebut memalingkan mukanya ke langit sambil tersenyum.

Raja melihat keadaan itu dan merasa ingin tahu.Lalu diperintah pengawal membawa pemuda itu ke hadapannya. Setelah tiba pemuda itu, Raja pun bertanya.
Raja : Kenapa kamu palingkan wajah kamu kelangit dan kemudian kamu tersenyum pula. Sedangkan kematian sedang menunggu kamu, apakah kamu tidak merasa takut?.

Pemuda : Apakan daya patik, ada ibu ayah yang tidak menyayangi patik, kerana habuan dunia sanggup korbankan patik. Demikian juga ada kadhi yang faham agama tapi kerana takut dan mengambil hati tuanku, sanggup mengorbankan keadilan dan memusnahkan kebenaran. Dan apalah guna patik hidup jika negeri ini diperintah oleh raja yang zalim dan sanggup mengorbankan rakyat demi kebahagiaan dirinya...

Kata-kata pemuda itu memberi kesan mendalam pada Raja. Raja tertunduk malu. Air mata bergelinang deras. Urat di wajahnya timbul kerana baginda menahan sedih yang amat sangat.

Sedar dengan kesilapan dan kepincangan yang ada pada rakyat, pentadbiran agama negeri dan keangkuhan diri lalu dilepaskan pemuda tadi.

Selang beberpa minggu penyakit hati raja telah sembuhز


Friday, September 10, 2010

MU’AZ BIN JABAL DENGAN KISAH AMALAN YANG NAIK KE LANGIT

Dari Muaz, Rasulullah SAW bersabda:
“Puji syukur ke hadrat Allah SWT yang menghendaki agar makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, wahai Muaz!”
Jawabku, “Ya, Sayidil Mursalin.”
Sabda Rasulullah SAW, “Sekarang aku akan menceritakan sesuatu kepadamu yang apabila engkau hafalkan (diambil perhatian) olehmu akan berguna tetapi kalau engkau lupakan (tidak dipedulikan) olehmu maka kamu tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah kelak.”
“Hai Muaz, Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dari bumi. Setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu langit dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu menurut ukuran pintu dan keagungannya.”
“Maka malaikat yang memelihara amalan si hamba (malaikat hafazah) akan naik ke langit membawa amal itu ke langit pertama. Penjaga langit pertama akan berkata kepada malaikat Hafazah,
“Saya penjaga tukang mengumpat. Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena saya diperintahkan untuk tidak menerima amalan tukang mengumpat”.
“Esoknya, naik lagi malaikat Hafazah membawa amalan si hamba. Di langit kedua penjaga pintunya berkata,
“Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya sebab dia beramal karena mengharapkan keduniaan. Allah memerintahkan supaya amalan itu ditahan jangan sampai lepas ke langit yang lain.”
“Kemudian naik lagi malaikat Hafazah ke langit ketiga membawa amalan yang sungguh indah. Penjaga langit ketiga berkata, “Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya kerana dia seorang yang sombong.”
Rasulullah SAW meneruskan sabdanya, “Berikutnya malaikat Hafazah membawa lagi amalan si hamba ke langit keempat. Lalu penjaga langit itu berkata,
“Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya. Dia seorang yang ujub. Allah memerintahkan aku menahan amalan si ujub.”
Seterusnya amalan si hamba yang lulus ke langit kelima dalam keadaan bercahaya-cahaya dengan jihad, haji, umrah dan lain-lain. Tetapi di pintu langit penjaganya berkata,
“Itu adalah amalan tukang hasad. Dia sangat benci pada nikmat yang Allah berikan pada hamba-Nya. Dia tidak redha dengan kehendak Allah. Sebab itu Allah perintahkan amalannya dilemparkan kembali ke mukanya. Allah tidak terima amalan pendengki dan hasad.”
Di langit keenam, penjaga pintu akan berkata,”Saya penjaga rahmat. Saya diperintahkan untuk melemparkan kembali amalan yang indah itu ke muka pemiliknya karena dia tidak pernah mengasihi orang lain. Kalau orang dapat musibah dia merasa senang. Sebab itu amalan itu jangan melintasi langit ini.”
Malaikat Hafazah naik lagi membawa amalan si hamba yang dapat lepas hingga ke langit ketujuh. Cahayanya bagaikan kilat, suaranya bergemuruh. Di antara amalan itu ialah shalat, puasa, sedekah, jihad, warak dan lain-lain.
Tetapi penjaga pintu langit berkata, “Saya ini penjaga sum’ah (ingin kemasyhuran).  Sesungguhnya si hamba ini ingin termasyhur dalam kelompoknya dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawan yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh
dari para pemimpin. Allah memerintahkan padaku agar amalan itu jangan melintasiku. Tiap-tiap amalan yang tidak bersih karena Allah maka itulah riya’. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan orang-orang yang riya’.”
Kemudian malaikat Hafazah itu naik lagi dengan membawa amal hamba yakni solat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak yang baik dan mulia serta zikir pada Allah. Amalan itu diiringi malaikat ke langit ketujuh hingga melintasi hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT.
Semua malaikat berdiri di hadapan Allah dan semua menyaksikan amalan itu sebagai amalan soleh yang betul-betul ikhlas untuk Allah.
Tetapi firman Tuhan,
“Hafazah sekalian, pencatat amal hamba-Ku, Aku adalah pemilik hatinya dan Aku lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh hamba-Ku ini dengan amalannya. Dia tidak ikhlas pada-Ku dengan amalannya. Dia menipu orang lain, menipu kamu (malaikat Hafazah) tetapi tidak bisa menipu Aku. Aku adalah Maha Mengetahui.”
“Aku melihat segala isi hati dan tidak akan terlindung bagi-Ku apa saja yang terlindung. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang bakal terjadi.”
“Pengetahuan-Ku atas orang yang terdahulu adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang datang kemudian. Kalau begitu bagaimana hamba-Ku ini menipu Aku dengan amalannya ini?”
“Laknat-Ku tetap padanya.”
Dan ketujuh-tujuh malaikat beserta 3000 malaikat yang mengiringinya pun berkata:
“Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami sekalian bagi mereka.”
Dan semua yang di langit turut berkata,”Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat.”
Sayidina Muaz (yang meriwayatkan hadist ini) kemudian menangis terisak-isak dan berkata,
“Ya Rasulullah, bagaimana aku dapat selamat dari apa yang diceritakan
ini?”
Sabda Rasulullah SAW, “Hai Muaz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan.”
Muaz bertanya kembali,”Ya, tuan ini Rasulullah sedangkan saya ini hanyalah si Muaz bin Jabal, bagaimana saya dapat selamat dan bisa lepas dari bahaya tersebut?”
Bersabda Rasulullah, “Ya begitulah, kalau dalam amalanmu ada kelalaian maka tahanlah lidahmu jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah dirimu sendiri pun penuh dengan aib maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain.”
“Jangan riya’ dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik berdua ketika disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalanmu dunia dan akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut padamu, jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan, jangan mengoyak perasaan orang lain dengan mulutmu, karena kelak engkau akan dikoyak-koyak oleh anjing-anjing neraka jahanam.”
Sebagaimana firman Allah yang bermaksud,”Di neraka itu ada anjing-anjing yang mengoyak badan manusia.”
Muaz berkata, “Ya Rasulullah, siapa yang tahan menanggung penderitaan semacam itu?”
Jawab Rasulullah SAW, “Muaz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukuplah untuk menghindari semua itu, kamu menyayangi
orang lain sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri dan benci bila sesuatu yang dibenci olehmu terjadi pada orang lain. Kalau begitu kamu akan selamat dan dirimu pasti akan terhindar dari api neraka.”

Tuesday, April 27, 2010

ORANG IKHLAS ITU TERTINDAS?




Jika kita memberi kebaikan kepada seseorang, kebaikan itu akan dibalas
walaupun yang membalasnya bukan orang yang kita berikan kebaikan itu.
Hakikat ini mengingatkan saya kepada satu perbualan yang berlaku sewaktu
saya mengendalikan program latihan beberapa tahun lalu di sebuah
organisasi.


"Saya tidak mempunyai apa-apa harapan lagi pada organisasi ini," kata
seorang kakak berterus-terang.
"Mengapa?" balas saya.
"Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa
bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran
yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak
ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja."

Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah
berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali
terakhir
dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara.
Kesempatan
yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah
digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya
sepanjang
berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika
bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat
atau
mendapat kenaikan gaji?

Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya
kepadanya, "kakak punya berapa orang anak?"
Sengaja saya bertanya soal-soal "di luar kotak" agar ketegangan dalam
sesi
sebelumnya dapat diredakan.
"Oh ramai encik."
"Bagaimana dengan anak-anak kakak?"

Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang
anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion
masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan
sebagainya.
Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
"Kakak, boleh saya bertanya?"
"Tanyalah encik." ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya
sudah
berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang,
semua anak-anaknya menjadi.

"Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang "menjadi" dengan naik
gaji, mana yang kakak pilih?"
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, "antara kakak naik
pangkat
dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?"

Dengan cepat kakak itu menjawab, "hati ibu encik. tentulah saya pilih
anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat.
Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!"

Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
"Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam
organisasi
ini telah mendapat ganjaran." kata saya perlahan. Hampir berbisik.
"Maksud encik?"
"Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak
lebih
sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan
kepada
kakak anak-anak yang menjadi."
"Tidak pernah saya terfikir begitu encik."

"Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu
misteri
dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you
give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia.
Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah."
"Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan
kebaikan itu?"
"Maksud kakak?"

"Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja,
tapi
Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat
saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah
encik?"
"Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri.
Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan
akan
dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!"


Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa
yang
berlaku dalam organisasi dengan familinya.
"Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu
jalan
yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah
kereta
yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong
kita.
Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun
beralah,
lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita."

Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat
kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya
sampaikan
dengan begitu teliti.
"Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau
setelah
berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita
pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya
logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya
memberi
laluan untuk kita?"

Kakak itu tersenyum dan berkata, "tak logik encik. Kereta yang kita
bantu
tadi entah ke mana perginya."
"Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?'
"Pasti ada! Insya-Allah."
"Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong.
Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan
kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk
membalas
kebaikan kita. Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak
pernah
merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi."

"Subhanallah!"
"Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam
kehidupan
manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang
membalas
kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya.
Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini."
"Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan?" tanya kakak
itu
lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.

"Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan
Maha
Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak
memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang
yang
melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun
semula
kepada pembalingnya!"
"Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat."
"Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi,
Allah
Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia
lagi."

"Maksud encik?"
"Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.
Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang
setia.
Dan paling penting. hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan
yang
lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan."
"Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat
atau
gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek
lebih
baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!"

Giliran saya pula tersenyum.
"Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah.
Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja. pangkat yang
mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi
ketenangan
hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back.
Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan
juga.
Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada
kita.
Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek
mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura!" terang saya panjang
lebar.


"Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang
tinggal
tidak beberapa bulan lagi ni?"
"Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi
Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our "ceo", kata
orang
sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan
oleh
Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi
kebaikan
hanya kerana tidak dapat penghargaan."
"Maksud encik?"

"Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita
buat
kepadanya."
"Kenapa?"
"Kita akan sakit jiwa!"
"Kenapa?"
"Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau
kepada
Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima
kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala.
Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur," balas saya mengulangi
apa
yang maktub dalam Al Quran.

"Tetapi Allah tidak berhenti memberi. " kata kakak itu perlahan.
"Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada
yang
derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi. Justeru siapa kita yang
tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan
ucapan
terima kasih
?"
"Ah, kita terlalu ego."

Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar
impaknya dalam hidup saya. Saya terasa "diperingatkan" semasa memberi
peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada
lintasan
hati oleh satu pertanyaan. orang ikhlas tertindas?

SUMBER:  .

Sunday, March 7, 2010

Ikhlaskah Kita?

28 June 2007 oleh ImamKhalid

Ikhlas adalah paling tinggi selepas iman. Ia adalah rahsia Tuhan hinggakan para malaikat pun tidak tahu dan yang empunya diri pun tidak dapat mengesannya. Ia adalah penentu samada amalan diterima atau ditolak.

Ada para sahabat apabila mendengar tentang ikhlas menangis mereka. Mereka merasa tidak selamat, rasanya tidak mungkin dapat perolehinya yang begitu tinggi nilainya kerana susahnya mendapat sifat ikhlas.

Islam tidak membenarkan seseorang mengaku ikhlas.

Siapa yang mengaku ikhlas walaudpun sebelum ini ikhlas, automatik, ikhlasnya terbatal.

Contoh-contoh bagaimana yang dikatakan mengaku ikhlas: Membantu seseorang sambil berkata,

“Ambillah, saya ikhlas…”

Menolong seseorang tapi pertolongannya ditolak.

“Saya tolong awak ini ikhlas, tapi sedih, awak menolak..”

Dalam menulis surat kita selalu mengakhiri dengan tandatangan,

“Yang ikhlas”

“Yang Benar.”

Dalam Islam, mengaku baik adalah salah. Siapa yang mengaku ikhlas, siang-siang lagi terbatal. Tiada siapa yang mengetahui siapa yang ikhlas sekalipun yang empunya diri. Tiada siapa yang berhak mengaku ikhlas, Cuma berusaha moga-moga jadi ikhlas dan moga-moga diterima Allah.

Erti Ikhlas
Murni, bersih, jenis dia sahaja, tidak bercampur jenis-jenis yang lain. Tidak dinodai seperti air yang tidak bercampur dengan sabun, tepung, sebab apabila sudah bercampur dengan benda lain, sudah tidak khalis lagi (tidak pure).

Begitulah dalam beramal, solat, zakat, baca Quran,mengajar, berdakwah, menolong, motivasi, forum, ceramah, belajar, semata-mata kerana Allah:

1. kerana suruhan-Nya
2. kerana keredhaan-Nya
3. kerana arahan-Nya
4. kerana mentaati-Nya
5. kerana patuh pada-Nya

Jadi perkara di atas adalah dari sebab atau kerana-Nya yang satu, tujuan satu, dan didorong oleh yang satu iaitu Allah. Abdikan diri kerana Allah, tidak dicampur atau bercampur selain Allah – itulah ikhlas – dorongannya satu. Apa yang nak berlaku atau nak jadi atau tidak jadi, tidak timbul sama sekali sebab niat semata-mata kerana Allah.

Sekiranya niat, dorongannya telah tercampur atau terselit niat-niat yang lain dari Allah seperti kerana riak, megah, glamor, pangkat, orang minta, takut orang tidak suka, mental exercise, boring tinggal di rumah, undi, uji kemampuan, hendak berlawan, hendakkan piala, hadiah, kerana kawan – maka ia tidak khalis atau ikhlas telah ternoda. Dengan itu boleh jatuh syirik khafi.

Di akhirat nanti Allah menyuruh dia meminta pada orang yang dia niat kerananya. Allah tidak balas kebaikan itu kerana ia mempunyai “kerana-kerana” yang selain dari “kerana Allah”.

Untuk ikhlas, sebenarnya amat susah sekali terutama yang ada kaitan kepentingan umum atau orang ramai yakni yang terdedah kepada pandangan umum seperti berdakwah, mengajar, gotong-royong, baca Al-Quran di depan orang, forum, upacara memberi hadiah – lebih-lebih lagi orang yang tidak memikirkan hati lalu hati dibiar dan terbiar. Jarang diambil kira, selalunya ramai yang terjebak.

Khususul Nafs – kepentingan diri seperti ingin popular, disedari atau tidak kerana kurang menyuluh hati. Awal-awal lagi nawaitu (niat) telah rosak seperti membuat rumah di atas lumpur.

Ada tiga jenis kerosakan yang berlaku pada 3 jenis kedudukan:

1. awal
2. pertengahan
3. akhir

Kerosakan awal contohnya seperti berdakwah. Sebelum memberi ceramah, hati kecilnya berkata:

“Inilah masanya nak jadi popular”

“Aku akan jadi terkenal…”

“Dengan ceramah ini dapatlah duit poket.”

Ada juga yang berniat untuk menghentam seseorang atau golongan tertentu sebelum berceramah, akibatnya rosaklah ikhlasnya ibarat orang yang melukis di atas air.

Kerosakan pertengahan pula contohnya niat untuk berceramah sudah baik tetapi sewaktu berceramah, ada pendengar yang angguk-angguk atau ada yang menangis kerana mendengar ceramah yang memberi kesan itu hingga hati kecil kita berkata:

“Hebat juga aku hingga ada orang boleh terima ceramah ini dan ada pula yang menangis.”

Kerosakan akhir pula contohnya niat dan sewaktu berceramah tidak ada apa-apa yang rosak, berjalan dengan baik tetapi sewaktu balik dari berceramah ada kawan yang datang bersama di dalam kereta berkata:

“Hebat betul ceramah ustaz tadi hingga ada yang menangis.”

Waktu itu maka datanglah rasa ujub hingga lupa ia semua itu datang dari Allah jua. Sepatutnya ia merasa malu kerana ini semua bukan dari dirinya tetapi hakikatnya dari Allah. Orang begitu ibarat membangunkan rumah tiba-tiba siap sahaja rumah itu terus runtuh.

Orang ramai yang mendengar ceramah tersebut juga tidak berubah sebab hati sudah cacat. Mereka memuji kita, tetapi tetap tidak berubah sebab dari rasa riak. Sifat taqwa sudah ternafi. Oleh itu buatlah kerja-kerja dengan penuh tawadhuk, takut dan cemas samada diterima amalan kita atau ditolak.

Ingatlah:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat amalan lahir kamu, tapi amalan hati kamu.”

Apabila kita melakukan sesuatu niat kerana Allah semata-mata, tetapi ada orang mengkritik kita, kita melenting, hati tidak senang dengan orang itu, bermakna kita masih mempunyai niat lain selain dari Allah.

Dalam menghadapi keadaan dimana susahnya untuk mendapat ikhlas ini, kita berdoalah pada Allah dengan doa yang berikut:

Wahai Tuhan, rasanya kami belum berbuat apa-apa sebelum ini. Kalaupun ada berbuat sudah tentu ada kepentingan diri. Kalaulah bukan pimpinan dan bantuan-Mu Tuhan, rasanya sebarang amalan kami mungkin tertolak semuanya. Berilah selalu hidayah dan taufiq-Mu, ya Allah agar segala lahir dan batin menuju keredhaan-Mu, ya Allah.

Ikhlas umpama semut hitam berada di atas batu hitam di malam yang gelap. tiada siapa pun yang tahu tentang ikhlas kecuali Allah. Ikhlas adalah rahsia di dalam rahsia Allah.

Wallahu a’lam