Pages

Showing posts with label ulama. Show all posts
Showing posts with label ulama. Show all posts

Wednesday, December 8, 2010

Siapa Para Ulama?

Oleh: Ustadz Qomar Suaidi
Sumber : http://asysyariah.com/


Mungkin muncul pertanyaan, siapakah ulama itu? Hingga kini banyak perbedaan dalam menilai siapa ulama. Sehingga perlu dijelaskan siapa hakekat para ulama itu.

Untuk itu kita akan merujuk kepada penjelasan para ulama Salafus Shaleh dan orang-orang yang menelusuri jalan mereka. Kata ulama itu sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim, yang artinya orang berilmu. Untuk mengetahui siapa ulama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu dalam istilah syariat, karena kata ilmu dalam bahasa yang berlaku sudah sangat meluas. Adapun makna ilmu dalam syariat lebih khusus yaitu mengetahui kandungan Al Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah dan ucapan para shahabat dalam menafsiri keduanya dengan mengamalkannya dan menimbulkan khasyah (takut) kepada Allah.

Imam Syafi’i berkata: “Seluruh ilmu selain Al Qur’an adalah hal yang menyibukkan kecuali hadits dan fiqh dan memahami agama. Ilmu adalah yang terdapat padanya haddatsana (telah mengkabarkan kepada kami - yakni ilmu hadits) dan selain dari padanya adalah bisikan-bisikan setan.”

Ibnu Qoyyim menyatakan: “Ilmu adalah berkata Allah, berkata Rasul-Nya, berkata para shahabat yang tiada menyelisihi akal sehat padanya.” (Al Haqidatusy-Syar’iyah: 119-120)

Dari penjelasan makna ilmu dalam syariat, maka orang alim atau ulama adalah orang yang menguasai ilmu tersebut serta mengamalkannya dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahuwata'ala . Oleh karenanya dahulu sebagian ulama menyatakan ulama adalah orang yang mengetahui Allah Subhanahuwata'ala dan mengetahui perintah-Nya. Ia adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahuwata'ala dan mengetahui batasan-batasan syariat-Nya serta kewajiban-kewajiban-Nya. Rabi’ bin Anas menyatakan “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.”

Allah berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama .” (Fathir: 29)

Kesimpulannya, orang-orang yang pantas menjadi rujukan dalam masalah ini adalah yang berilmu tentang kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ucapan para shahabat. Dialah yang berhak berijtihad dalam hal-hal yang baru. (Ibnu Qoyyim, I’lam Muwaqqi’in 4/21, Madarikun Nadhar 155)

Ibnu Majisyun, salah seorang murid Imam Malik mengatakan: “Dahulu (para ulama) menyatakan, ‘Tidaklah seorang itu menjadi Imam dalam hal fiqh sehingga menjadi imam dalam hal Al Qur’an dan Hadits dan tidak menjadi imam dalam hal hadits sehingga menjadi imam dalam hal fiqh.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Imam Syafi’i menyatakan: “Jika datang sebuah perkara yang musykil (rumit) jangan mengajak musyawarah kecuali orang yang terpercaya dan berilmu tentang al Kitab dan Sunnah, ucapan para shahabat, pendapat para ulama’, qiyas dan bahasa Arab. (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Merekalah ulama yang hakiki, bukan sekedar pemikir harakah, mubaligh penceramah, aktivis gerakan dakwah, ahli membaca kitabullah, ahli taqlid dalam madzhab fiqh, dan ulama shu’ (jahat), atau ahlu bid’ah. Tapi ulama hakiki yang istiqamah di atas Sunnah.
Wallahu a’lam ?

Ciri-Ciri Ulama

Oleh: Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
Sumber: http://asysyariah.com/


Siapa yang dinamakan Ulama?

Terdapat beberapa ungkapan ulama dalam mendefinisikan ulama. Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha, beliau berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Kitabul ‘Ilmi mengatakan: “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 147)

Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 31)

Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan: “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya tulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hal. 8)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan ciri khas seorang ulama yang membedakan dengan kebanyakan orang yang mengaku berilmu atau yang diakui sebagai ulama bahkan waliyullah. Dia berfirman:

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ


“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)


Ciri-ciri Ulama

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi shahabat hingga masa kita sekarang.
Pembahasan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran (yang benar) kepada sebagian muslimin yang telah memberikan gelar ulama kepada orang yang tidak pantas untuk menyandangnya.

a. Sebagian kaum muslimin ada yang meremehkan hak-hak ulama. Di sisi mereka, yang dinamakan ulama adalah orang yang pandai bersilat lidah dan memperindah perkataannya dengan cerita-cerita, syair-syair, atau ilmu-ilmu pelembut hati.

b. Sebagian kaum muslimin menganggap ulama itu adalah orang yang mengerti realita hidup dan yang mendalaminya, orang-orang yang berani menentang pemerintah -meski tanpa petunjuk ilmu.

c. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah kutu buku, meskipun tidak memahami apa yang dikandungnya sebagaimana yang dipahami generasi salaf.

d. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan mendakwahi manusia. Mereka mengatakan kita tidak butuh kepada kitab-kitab, kita butuh kepada da’i dan dakwah.

e. Sebagian muslimin tidak bisa membedakan antara orang alim dengan pendongeng dan juru nasehat, serta antara penuntut ilmu dan ulama. Di sisi mereka, para pendongeng itu adalah ulama tempat bertanya dan menimba ilmu.

Di antara ciri-ciri ulama adalah:

1. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)

2. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”

3. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”

4. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ


“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

5. Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ


“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

6. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath(mengambil hukum) dan memahaminya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا جآءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوْا بِهِ وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنًهُ مِنْهُمْ وَلَوْ لاَ فَضْلَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطاَنَ إِلاَّ قَلِيْلاً


“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (An-Nisa: 83)

7. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ آمَنُوا بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِيْنَ أَوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذِا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلأًذْقاَنِ سُجَّدًا. وَيَقُوْلُوْنَ سُبْحاَنَ رَبِّناَ إِنْ كاَنَ وَعْدُ رَبِّناَ لَمَفْعُوْلاً. وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقاَنِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعاً


“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra: 107-109) [Mu’amalatul ‘Ulama karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub Al-Irtibath bil ‘Ulama karya Asy-Syaikh Hasan bin Qasim Ar-Rimi]

Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama ahlul bid’ah yang mana mereka bukan sebagai penyandang gelar ini. Dari Al-Quran dan As-Sunnah mereka jauh dan dari manhaj salaf mereka keluar.


Contoh-contoh Ulama Rabbani

Pembahasan ini bukan membatasi mereka akan tetapi sebagai permisalan hidup ulama walau mereka telah menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka hidup dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam dan muslimin dan mereka hidup dengan karya-karya peninggalan mereka.

1. Generasi shahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

2. Generasi tabiin dan di antara tokoh mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin Az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin Al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), Al-Hasan Al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).

3. Generasi atba’ at-tabi’in dan di antara tokoh-tokohnya adalah Al-Imam Malik (179 H), Al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah An-Nu’man (150 H).

4. Generasi setelah mereka, di antara tokohnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (198 H), ‘Affan bin Muslim (219 H).

5. Murid-murid mereka, di antara tokohnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), ‘Ali bin Al-Madini (234 H).

6. Murid-murid mereka seperti Al-Imam Bukhari (256 H), Al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan An-Nasai (303 H).

7. Generasi setelah mereka, di antaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad-Daruquthni (385 H), Al-Khathib Al-Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Bar An-Numairi (463 H).

8. Generasi setelah mereka, di antaranya adalah Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), Al-Mizzi (743 H), Adz-Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H) berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai pada hari ini.

9. Contoh ulama di masa ini adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz,Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Asy-Syaikh Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama)

Wallahu a’lam

Sunday, December 5, 2010

Untuk siapa gelaran ulama?





Nawawi Subandi 

http://an-nawawi.blogspot.com 


PERKATAAN ulama di sisi kita bukanlah suatu yang asing. Gelaran ulama dalam kalangan masyarakat kita hari ini banyak diguna untuk penjenamaan tertentu seperti kepimpinan ulama, ulama tradisional, persatuan ulama, dewan ulama, ulama muda, dan yang seumpamanya. Sejauh manakah kefahaman kita terhadap kalimat “ulama” dan siapakah sebenarnya yang tepat untuk dimaksudkan sebagai ulama? Lebih tidak enak, sejak akhir-akhir ini nampak seakan-akan begitu mudah meletakkan gelaran ulama kepada sesiapa sahaja dalam rangka meraih populariti, publisiti dan tujuan yang amat meragukan. 

Ketika era para sahabat, Khalifah Ali r.a pernah mengerahkan tentera memerangi sekumpulan manusia (Khawarij) - mereka yang diperangi ini memiliki sifat tekun beribadah seperti rajin solat malam, selalu berpuasa, dan begitu hebat bacaan al-Qurannya. Disebutkan juga riwayat sahih tentang ibadah-ibadah yang mereka lakukan adalah jauh lebih hebat mengatasi ibadah para sahabat. Namun, kumpulan manusia tersebut tetap diperangi dan dihapuskan atas beberapa sebab kritikal, iaitu menyelisihi manhaj para sahabat dalam memahami agama dan berpisah dari ketaatan terhadap pemerintah (menjadi pemberontak). Ini menunjukkan bahawa tekun dalam ibadah belum menjamin seseorang itu berada dalam kebenaran, apatah lagi untuk meletakkannya dalam barisan alim ulama. 

Pernahkah pula kita menekuni kisah imam Malik bin Anas, imam Ahmad bin Hanbal, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah, dan beberapa ulama lainnya yang berfatwa dari dalam penjara? Jika kita perhatikan dari kisah mereka, bukankah ia juga dapat menterjemahkan bahawa kriteria seseorang ulama itu bukanlah semestinya mereka berada di dalam barisan Majlis Fatwa Negara, Dewan Ulama, atau pun menyandang jawatan-jawatan khas hal ehwal agama tertentu di dalam negaranya. Bahkan pernah berlaku pada zaman mereka ini orang-orang yang menyandang jawatan keagamaan adalah kalangan sesat berfahaman Jahmiyah dan Muktazilah yang menyelewengkan begitu banyak perkara agama. 

Dari itu, apakah kriteria yang tepat untuk menunjukkan seseorang itu layak dipanggil atau digelar ulama, sekali gus tidaklah setiap pihak atau individu tertentu bermudah-mudah untuk memanipulasi dan mengeksploitasi perkataan “ulama”? 

Kriteria seseorang ulama yang utama adalah paling takut dan taat kepada Allah, disebabkan mereka sangat mengenali Allah SWT, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya berdasarkan ilmu yang benar. Allah SWT berfirman (maksudnya), “Sesungguhnya daripada kalangan hamba Allah yang paling takut (tunduk) kepada-Nya ialah para ulama (orang-orang berilmu).” (Surah Fathir, 35: 28) 

Dari ayat di atas, Ibnu r.a menyatakan, “Syarat bagi seseorang untuk dikatakan sebagai alim (berilmu) tentang Allah yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba-Nya ialah tidak mensyirikkan Allah, menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana ditetapkan Allah, menjaga dan memelihara tuntutan dan kehendak Allah, meyakini bahawa Allah akan menemuinya dan menghisap amal perbuatannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/544) 

Keduanya, ulama itu mewarisi dan menyampaikan apa yang disampaikan Nabi SAW berupa al-Quran, hadis-hadis dan sunnahnya berserta kefahaman yang benar (faqih). Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya para ulama itu ialah pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar mahu pun dirham, namun mewariskan ilmu. Maka, sesiapa yang mengambil ilmu tersebut, benar-benar dia telah mendapat bahagian sangat besar.” (Hadis Riwayat Abu Daud, 49/10, no. 3157. Dinilai sahih oleh al-Albani) 

Berkata Ibnu Hibban r.a (Wafat: 354H), “Dalam hadis ini terdapat penjelasan bahawa ulama yang memiliki keutamaan ialah mereka yang mengajarkan ilmu Nabi SAW sahaja, bukan yang mengajarkan ilmu-ilmu lain. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi” dan para nabi tidak mewariskan apa pun melainkan ilmu dan ilmu Nabi kita SAW adalah sunnahnya. Sesiapa pun yang tidak mengetahui sunnah, maka bukanlah pewaris para nabi.” (Shohih Ibnu Hibban, 1/291, tahqiq Syua’ib al-Arna’uth) 

Ilmu di sini adalah meliputi sehingga kepada seluruh cabang-cabang ilmu dalam agama, sama ada aqidah, hadis, tafsir, fiqh, atsar para sahabat dan termasuklah penguasaan bahasa (bahasa Arab). Dan ilmu tersebut dibawa pula orang-orang yang dipercayai sebagaimana sabda Rasulullah, “Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang yang adil (dipercayai dan bukan fasiq) dari generasi ke generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama dari penyelewengan maksud-maksud agama, pendustaan orang-orang sesat yang mempergunakan nama agama, dan pentakwilan agama yang salah dilakukan orang-orang jahil.” (Hadis Riwayat al-Baihaqi. Dinilai sahih oleh al-Albani, Misykah al-Mashabih, 1/53, no. 248) 

Seterusnya, ulama memiliki ilmu yang mendalam terhadap agama dan mampu menganalisis serta merungkaikan kepelbagaian persoalan agama dan ilmu-ilmunya. Allah SWT berfirman, “Dan itulah contoh-contoh kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya melainkan orang-orang berilmu.” (Surah al-Ankabut, 29: 43) 

Abu Qasim al-Ashbahani r.a (Wafat: 425H) memberitahu kepada kita, “Bahawasanya ahli kalam (golongan pemikir atau ahli falsafah) tidaklah termasuk ulama. Para ulama Salaf (terdahulu) berkata, “Seseorang tidak boleh menjadi imam di dalam agama sehingga dia memiliki kriteria berikut: 

1. Memahami bahasa Arab, termasuk menguasai makna-makna syair Arab 

2. Memahami perbezaan pendapat di antara para ulama atau ahli fiqh 

3. Seorang yang berilmu 

4. Mengerti tentang i'rab (tatabahasa Arab dari kata per kata) 

5. Memahami al-Quran berserta bacaan-bacaannya dan perbezaan di antara para qurra’ (para periwayat bacaan al-Quran) 

6. Menguasai tafsir, sama ada berkaitan ayat-ayat muhkam (yang jelas) atau mutasyabihat (yang samar-samar), yang nasikh (yang memansuhkan) mahu pun yang mansukh (yang dimansuhkan) serta pelbagai kisah di dalamnya 

7. Memahami hadis-hadis Rasulullah SAW, dapat membezakan di antara yang sahih dan sebaliknya, bersambung atau pun terputus, hadis-hadis mursal dan sanad-sanadnya, yang masyhur, dan gharib. 

8. Mengetahui perkataan-perkataan (atsar) para sahabat r.a 

9. Kemudian dia wajib warak, menjaga diri, jujur, boleh dipercayai, membina (mengeluarkan) pendapat dan agamanya berpandukan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya”.” (Tsaqil Shalfiq al-Qasimi, Sallus Suyuf wal Asinnah ‘ala Ahlil Hawa wa Adiya’ as-Sunnah, m/s. 85-86. Terjemahan/Terbitan Pustaka as-Sunnah)

Dengan ilmu tersebutlah kemudiannya orang-orang yang berilmu dari kalangan ulama ini menegakkan tauhid dan menegakkan keadilan (al-haq), iaitu dengan tidak menyembunyikan ilmu serta sentiasa menyebarkan kebenaran dengan cara mengajar, menerapkan nilai-nilai agama, mengajak kepada kebaikan, dan melarang manusia dari segala bentuk kemungkaran di atas prinsip-prinsipnya. 

“Allah menyatakan, tiada Tuhan berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan yang demikian).” (Surah Ali ‘Imran, 3: 18) 

Terakhir, dengan kriteria dan keilmuan tersebutlah masyarakat menjadikan mereka sebagai tempat rujukan sebagaimana diperintahkan Allah SWT agar kita sentiasa merujuk kepada orang yang mengetahui (berilmu). Allah SWT berfirman, “Bertanyalah kamu kepada ahluz zikri (orang yang berilmu iaitu dari kalangan ulama) apabila kamu tidak mengetahui.” (Surah an-Nahl, 16: 43) 

Ibnu Qutaibah r.a (Wafat: 276H) berkata, “Sekiranya masalah rumit di antara kedua perkara tersebut dikembalikan kepada orang berilmu yang memahami al-Quran dan as-Sunnah, maka jelaslah bagi mereka manhaj tersebut dan jalan keluarnya pun menjadi luas, tetapi ada sesuatu yang menghalang mereka, iaitu sibuk mencari kekuasaan, suka mengikut keyakinan dan perkataan-perkataan saudara-saudaranya.” (Sallus Suyuf wal Asinnah, m/s. 83) 

Demikianlah kriteria-kriteria dari beberapa sumber rujukan berkenaan ciri-ciri ulama agar kita tidak bermudah-mudah menobatkan seseorang sebagai ulama atau mengangkat perkataan sesiapa sahaja atas tiket gelaran ulama tanpa asas tepat. Bahkan kitalah yang perlu bersama-sama duduk bersimpuh menuntut ilmu kepada para ulama yang memiliki ciri-ciri pewaris Nabi serta berhati-hati kepada sesiapa sahaja yang sering mendabik dada dirinya adalah ulama, terutamanya dalam rangka meraih populariti politik demokrasi. Sedangkan Imam Malik r.a (Wafat: 179H) seorang tokoh dan bintang kepada para ulama dengan tegas berkata, “Aku tidak berfatwa sehinggalah 70 orang (ulama) mengakui bahawa aku layak berfatwa.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 8/96)