Pages

Showing posts with label Umar. Show all posts
Showing posts with label Umar. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

Akibat Buruk Bagi Orang Yang Mencela Shahabat Nabi, Mati Seakan Disembelih



Imam Ibnul Qayim Rahimahullah menceritakan dari Al-Qairuwani di dalam kitab Al-Bustan, ada seorang dari kaum salaf yang me­ngisahkan:

“Aku memiliki tetangga yang suka mencela Abu Bakar dan Umar Ra­ dhiyallahu Anhuma. Suatu kali dia semakin menjadi-jadi dalam men­cela mereka, lantas aku memukulnya dan ia juga memukulku.

Kemudian aku pulang ke rumah dengan penuh kecewa dan sedih. Aku langsung tidur dan tidak sempat makan malam. Tiba-tiba aku bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku pun mengadu kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, si fulan telah mencela para sahabatmu.” Beliau bertanya, “Sahabatku siapa yang kau maksud?” Aku menjawab, “Abu Bakar dan Umar.” Lalu beliau berkata, ‘Ambillah pisau ini lalu sembelih orang itu dengannya.”

Dengan segera aku mengambilnya lalu kubaringkan orang itu dan aku sembelih. Aku melihat seakan-akan tanganku bersimbah darah. Kemudian aku lemparkan pisau tersebut dan langsung ke tanah untuk mengusapnya. Tak lama kemudian aku terbangun dari tidur, secara bersamaan aku mendengar suara teriakan dari rumah orang tersebut. Aku bertanya, “Suara teriakan apa ini?” Orang-orang mengatakan, “Si fulan telah mati mendadak!” Pagi harinya aku mendatangi rumahnya, aku amati orang tersebut, ternyata di lehernya ada garis bekas sembelihan.

Aku katakan, “Maha benar Allah ketika berfirman dalam hadits qudsi [1], “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan umumkan peperangan dengannya.”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Takutlah kepada Allah mengenai para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran sepeninggalku. Siapa pun yang mencintai mereka, maka dengan cintaku aku akan mencintai mereka. Siapapun yang membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku akan membenci mereka. Siapa pun yang menyakiti mereka, berarti menyakitiku juga. Siapapun yang menyakitiku, berarti menyakiti Allah. Dan barang siapa menyakiti Allah, dikhawatirkan Dia akan mengadzabnya.” [2]

Ayyub As-Sikhtiyani berkata, “Siapa yang mencintai Abu Bakar berarti telah menegakkan. menara Agama, barangsiapa yang mencintai Umar berarti telah memperjelas jalan agamanya, siapa yang mencintai Utsman berarti telah memperoleh penerangan dari Allah. Siapa yang mencintai Ali berarti telah berpegang pada tali agama yang kokoh. Dan siapa yang menyatakan kebaikan dalam diri para sahabat berarti telah terbebas dari kemunafikan.”

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Barang siapa yang mencela para sahabat berarti telah keluar dari Agama serta melenceng dari millah kaum muslimin.” [3]
====================

Foot Note:

[1] Hadits Shahih disriwayatkan oleh al Imam Bukhari dan Muslim

[2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi (5/696) beliau mengomentari: hadits ini hasan shahih

[3] Lihat al-Kaba’ir, hal.293, karya adz-Dzahabi.

Sumber: Kisah Orang Zhalim, Hamid Ahmad ath-Thahir, Penerbit Darussunnah

Sumber:kisahislam.net

http://inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/

Monday, April 16, 2012

Khalifah Umar dan Isterinya


Pada zaman pemerintahan Saidina Umar Al-Khattab r.a., terdapat sepasang suami isteri yang selalu bertengkar dan bergaduh. Si isteri tidak henti-henti membebel. Sedang memasak pun dia membebel, sedang membasuh pun dia membebel, sedang tidur pun kalau boleh dia nak juga membebel.
Si suami tidak tahan dengan perangai isterinya yang sangat suka membebel. Dia pun marah balik isterinya kerana membebel. Si isteri pula menjawab. Si suami mula meninggikan suara.
Dari situlah mereka bertengkar dan bergaduh saban hari. Lama kelamaan si suami merasakan yang isterinya sudah melampau. Memandangkan keadaan rumahtangga mereka semakin parah, si suami pun mengambil inisiatif untuk pergi berjumpa dengan Saidina Umar untuk mengadu kelakuan isterinya.

Sebaik sahaja tiba di rumah Saidina Umar, si suami terdengar isteri Saidina Umar sedang membebel di dalam rumah. Tetapi tidak terdengar pula suara Saidina Umar membalas.
Mendapati isteri Saidina Umar pun begitu, si suami tidak jadi hendak mengadukan hal isterinya. Katanya dalam hati, kalau isteri Khalifah pun begitu, apatah lagi isteriku.
Ketika dia berpaling hendak pergi, tiba-tiba Saidina Umar memanggilnya dan bertanya, “Apa hajat kamu datang ke mari?”
Si suami tadi menjawab,
“Aku datang hendak mengadu hal isteri aku, tapi aku lihat isterimu pun berkelakuan demikian terhadapmu.”
Saidina Umar tersenyum lalu berkata :
“Tidak patut kalau aku tidak sabar dengan kerenahnya. Bukankah dia telah memasak makanan untukku, membasuh pakaianku, bersabung nyawa melahirkan zuriat untukku, menjaga anak-anakku dan dia tempat aku mendapat hajatku? Sabarlah, sesungguhnya keadaannya itu tidak lama (nanti akan baik sendiri).”

Khalifah Umar yang terkenal dengan ketegasannya dan garang dalam peperangan juga menunjukkan kelembutan dalam rumah tangga.