Pages

Showing posts with label akhirat. Show all posts
Showing posts with label akhirat. Show all posts

Tuesday, January 22, 2013

Tidak Akan Hancur 10 Golongan Mayat Ini


Tidak Akan Hancur 10 Golongan Mayat Ini
Disebutkan didalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing-masing selama 44 tahun ‘UMUR AKHIRAT’ dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.

Bertanya sahabat kepada Rasulullah SAW : “Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?” Maka jawabnya Rasulullah saw, “Umat dikenal kerana WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU’. “Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan.

Maka memanggillah dari zat yang memanggil. Bukanlah debu itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian Siratul Mustaqim dan memasuki alam syurga, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahawa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-hamba Ku.

Disebutkan oleh hadith Rasulullah SAW bahawa Sepuluh Golongan yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati:

TIDAK AKAN HANCUR 10 GOLONGAN MAYAT INI

Segala Nabi
Orang Yang Berperang Kerana Allah (Jihad)
Orang Alim (Ahli ulama’ Yang Diredhai oleh Allah)
Orang Yang Mati Shahid (mati ketika berperang menegakkan Islam)
Orang yang Menanggung Al-Quran (Orang yang Menghafal ayat-ayat Al-Quran)
Raja Yang Adil
Tukang Azan (Bilal yang azan selama 12 tahun harus masuk Syurga)
Orang yang mati Ketika Nifas (orang yang mati bersalin)-> Kelebihan para Ibu
Orang yang dibunuh dengan zalim
Orang yang mati Hari Jumaat @ malamnya (jumaat)
Tiap-tiap Yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. ketika itu sesiapa Yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka Sesungguhnya ia telah berjaya. dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi Segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang Yang terpedaya.” (Surah Ali Imran 3:185) -n.i-sumber

Saturday, October 16, 2010

Hari yang Lamanya Lima Puluh Ribu Tahun

kiamat Hari yang Lamanya Lima Puluh Ribu Tahun
Tokoh Yang penuh  Luqmanul Hakim pernah menasihati anaknya. ”Anakku, hiduplah untuk duniamu sesuai porsi yang Allah berikan. Dan hiduplah untuk akhiratmu sesuai porsi yang Allah berikan.” Tak seorangpun tahu berapa lama jatah hidupnya di dunia fana ini. Ada yang mencapai 60, 70 atau 80-an tahun. Ada yang bahkan berumur pendek. Wafat saat masih muda beliau. Yang pasti tak seorangpun bisa memastikan porsi umurnya di dunia. Pendek kata Wallahu a’lam, Allah saja yang Maha Tahu.
Adapun jatah hidup kita kelak di akhirat adalah tidak terhingga. Kita insyaAllah bakal hidup kekal selamanya di sana.
Alangkah senangnya bila hidup kekal tersebut dipenuhi dengan kenikmatan surga. Namun, sebaliknya, alangkah celakanya bila kehidupan abadi tersebut diisi dengan siksa neraka yang menyala-. ”Ya Allah, kami  kepadaMu surgaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari siksa nerakaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan.”
Artinya, jika kita bandingkan lama hidup di dunia dengan di akhirat, maka jatah hidup di dunia sangatlah sedikit. Sedangkan hidup manusia di akhirat sangat luar biasa lamanya. Praktis, hidup manusia di dunia seolah zero time (nol masa waktu) dibandingkan hidup di akhirat kelak. Wajar bila Nabi Muhammad shallallahu ’alaih  sampai mengibaratkan dunia bagai sebelah  seekor . Artinya sangat tidak signifikan. Dunia sangat tidak signifikan untuk dijadikan barang rebutan.

Orang beriman kalaupun turut berkompetisi atau berjuang di dunia hanyalah sebatas mengikuti secara aturan main yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala gariskan. Mereka tidak mengharuskan apalagi memaksakan . Sehingga bukanlah menang atau kalah yang menjadi isyu sentral, melainkan konsistensi (baca: istiqomah) di atas jalan Allah. Berbeda dengan orang- dan para dunia lainnya. Mereka tidak pernah peduli dengan aturan main Allah subhaanahu wa ta’aala. Yang penting harus menang. Prinsip hidup mereka adalah It’s now or never (Kalau tidak sekarang, kapan lagi…?!). Sedangkan prinsip hidup orang beriman adalah If it’s not now then it will be in the Hereafter (Kalaupun tidak sekarang, maka masih ada nanti di akhirat). Sehingga orang beriman akan selalu tampil elegan, tidak norak ketika terlibat dalam permainan kehidupan dunia. Sebab kalaupun ia kalah di dunia, ia sadar dan berharap segala usahanya yang bersih tersebut tidak menyebabkan kekalahan di akhirat. Sementara kalau ia menang di dunia ia sadar dan berharap segala amal ikhlasnya bakal menyebabkan kemenangan di akhirat yang jauh lebih menyenangkan.
Di antara perkara yang selalu membuat orang beriman berlaku wajar di dunia adalah ingatannya akan hari ketika manusia dibangkitkan. Saat mana setiap kita bakal dihidupkan kembali dari kubur masing-masing lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tanpa pakaian apapun di badan dengan matahari yang jaraknya sangat dekat dengan kepala manusia. Seluruh manusia bakal hadir semua sejak manusia pertama, Adam alaihis-salaam, hingga manusia terakhir. Semua menunggu giliran diperiksa dan diadili orang per orang. Sebuah proses panjang serta rangkaian episode harus dilalui sebelum akhirnya tahu apakah ia bakal senang selamanya di akhirat dalam surga Allah ataukah sengsara berkepanjangan di dalam api neraka. Proses panjang tersebut akan berlangsung lima puluh ribu tahun sebelum jelas bertempat tinggal abadi di surgakah atau neraka. Laa haula wa laa quwwata illa billah…! Begitulah gambaran yang diberikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih :
Abu Hurairah r.a.berkata bahwa, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang pun pemilik simpanan yang tidak menunaikan haknya (mengeluarkan hak harta tersebut untuk dizakatkan) kecuali Allah akan menjadikannya lempengan-lempengan timah yang dipanaskan di neraka jahanam, kemudian kening dan dahi serta punggungnya disetrika dengannya hingga Allah SWT berkenan menetapkan keputusan di antara -hambaNya pada hari yang lamanya mencapai lima puluh ribu tahun yang kalian perhitungkan (berdasarkan tahun dunia). (Baru) setelah itu ia akan melihat jalannya, mungkin ke surga dan mungkin juga ke neraka.” (HR Ahmad 15/288)
Sungguh, suatu hari yang sulit dibayangkan! Apalagi -karena matahari begitu dekat dari kapala manusia- selama hari itu berlangsung manusia bakal basah dengan keringat masing-masing sebanding dosa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Ada yang keringatnya hanya sampai mata kakinya. Ada yang mencapai pinggangnya. Ada yang mencapai lehernya. Bahkan ada yang sampai tenggelam dalam keringatnya. Hari itu sedemikian menggoncangkan sehingga para sahabatpun sempat resah. Mereka meminta kejelasan kepada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih . Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana akan sanggup melewati hari yang begitu lamanya, yakni hingga lima puluh ribu tahun. Maka Nabi Muhammad shollallahu ’alaih  menenteramkan hati mereka dengan menjanjikan adanya dispensasi khusus dari Allah subhaanahu wa ta’aala bagi orang beriman pada hari itu:
Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw:”Sehari seperti lima puluh ribu tahun… Betapa lamanya hari itu!” Maka Rasulullah saw bersabda:”Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya hari itu dipendekkan bagi mu’min sehingga lebih pendek daripada sholat wajibnya sewaktu di dunia.” (HR Ahmad 23/337)
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang beriman sejati sehingga kami sanggup menjalani hari yang tidak ada naungan selain naunganMu. Amin.
sumber

Sunday, May 2, 2010

Bagaimana kita boleh muflis di akhirat



Oleh Mazlan Zainol

DARIPADA Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, yang bermaksud: “Tahukah kamu, siapakah gerangan orang yang muflis itu ?” Lalu jawab sahabat: “Pada pandangan kami, orang yang muflis itu ialah mereka yang tidak mempunyai wang dan harta?” Lantas Baginda bersabda: “Sesungguhnya orang yang muflis di kalangan umatku ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sembahyang, puasa dan zakat. Dia juga (dalam masa yang sama) datang dengan membawa dosa menghina, menyakiti orang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah (membunuh), dan memukul orang. “Lalu diberi segala kebajikan itu kepadanya dan ini adalah kebajikan-kebajikannya. Maka jika telah habis pahala kebajikannya sebelum dapat dibayar kepada orang yang menuntutnya (orang yang dihina, disakiti dan dizaliminya ketika di dunia dulu), maka dosa-dosanya itu akan dilemparkan kepadanya, lalu dia kemudiannya dicampakkan ke dalam api neraka.” (Hadis riwayat Muslim)Berdasarkan hadis itu, dapat kita fahami bahawa golongan yang menjadi muflis pada akhirat adalah berasal daripada orang yang memiliki pahala yang banyak. Bagaimanapun, semua pahala ibadat mereka itu habis kerana digunakan sebagai bayaran ganti rugi kepada insan yang pernah disakiti, dikhianati, dihina, dibunuh atau dizaliminya.Alangkah ruginya golongan muflis ini. Ganjaran pahala yang mereka kumpul dengan mengerjakan bermacam ibadat, akhirnya menjadi barang tukaran kerana denda yang perlu mereka bayar disebabkan kesalahan mereka terhadap orang lain.Meskipun kita malu jika isytiharkan muflis di dunia ini, namun kita masih lagi beruntung kalau dibandingkan dengan situasi muflis di akhirat. Jika muflis di dunia, masih ada lagi orang yang bersimpati dan dapat membantu kita. Tetapi bagaimana pula hal keadaan kita apabila muflis di akhirat? Siapakah yang akan bersimpati? Siapakah yang bakal menolong kita dan siapakah pula yang akan menyelamatkan kita dari azab seksaan neraka Allah?Kuat beribadah dan memiliki pahala yang banyak tidak menjamin terpeliharanya seseorang itu daripada azab Allah jika pada masa sama dia masih melakukan penganiayaan, penindasan dan kezaliman kepada insan lain.Firman Allah bermaksud: “Pada hari itu Kami akan tutup mulut mereka dan tangan mereka memberitahu Kami (mengenai kesalahan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi terhadap apa yang sudah mereka perbuatkan (ketika hidup di dunia)?” (Surah Yaasin, ayat 65).Selain itu, kita juga diingatkan agar bertanggungjawab terhadap amanah keluarga iaitu isteri dan anak-anak. Dibimbangi di akhirat kelak, mereka akan menuntut segala pertanggungjawaban yang tidak kita tunaikan kepada mereka. Tanggungjawab memberi mereka ilmu, pendidikan, perlindungan, makanan, kesihatan dan sebagainya akan dipersoalkan kepada kita sama ada terlaksana atau terabai.Jika kita perhatikan realiti hari ini, berapa ramai ibu bapa yang selalu solat berjemaah di masjid, mendengar ceramah, menghadiri kelas pengajian agama dan melakukan pelbagai amal kebajikan, sedangkan anak mereka terbiar tanpa mendapat pendidikan agama sempurna, terbabit dengan jenayah, gejala sosial, maksiat dan kegiatan kemungkaran?Golongan ibu bapa seperti ini mengerjakan amal ibadat dengan penuh kesungguhan, tetapi mereka beribadah dalam situasi yang kurang bijak. Mereka lupa bahawa tanggungjawab memberikan pendidikan agama terhadap anak-anak juga ibadat besar dan mulia.Jika amanah dan tanggungjawab ini sengaja dibiarkan terabai, dikhuatiri ia akan menjadi penghalang untuk seseorang hamba itu memasuki syurga Allah, walaupun memiliki banyak pahala hasil daripada amal ibadatnya.

Sunday, March 28, 2010

MENGINGAT KEHIDUPAN AKHIRAT



Manfaat dari Tafakur Meditasi Islam “Abah Didi” yang sangat penting adalah :
  • Mengingat Allah Subhana Wa Taala setiap hari walaupun 5 ( lima ) menit, dilakukan seumur hidup.
  • Yakin dan percaya bahwa kehidupan manusia yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia di dunia sudah seharusnya selalu mengingat akan kehidupan akhirat.
Kehidupan akhirat adalah tujuan hidup sebenarnya dan manfaatkanlah waktu yang sangat pendek dari kehidupan di dunia untuk mendapatkan keuntungan di akhirat.
Kehidupan di dunia yang bagaimana yang akan merugikan manusia pada kehidupan akhirat??. Dan kehidupan di dunia yang bagaimana yang akan menguntungkan pada kehidupan akhirat??.
Manusia tersebut harus mencari, harus berguru!!. Tanpa guru, petunjuk dan bimbingan yang benar pasti tidak akan mendapatkan  hasil seperti yang dicita-citakan.
Manusia harus selalu ingat akan kehidupan akhirat atau saling mengingatkan.
Dalam Surah SHAAD, ayat 46, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan akhlak  yang  tinggi  yaitu  selalu  mengingatkan  manusia kepada negeri / kehidupan akhirat”
Kehidupan Dunia:
Kehidupan di dunia mempunyai waktu yang sangat singkat, siapa-siapa yang memanfaatkan waktu tersebut akan selamat.
Kehidupan yang menurutkan aturan yang sudah ditentukan oleh Allah Subhana Wa Taala dan sesuai dengan janji dan perintah Allah bahwa hidup manusia di dunia hanya untuk beribadah atau mengabdi pada Allah Subhana Wa Taala
Peringatan akan kebaikan dan keburukan hidup di dunia Allah Subhana Wa Taala sendiri yang menjelaskan dalam Al – Qur’an.
  • Firman Allah dalam Surah AL MU’MINUN, ayat 112 – 114
“Allah bertanya : Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi “?.
“Mereka menjawab : Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.
“Allah berfirman : Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”.
  • Firman Allah dalam Surah AL MU’MIN, ayat 39: 
    “Hai kaumKu, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara  dan sesungguhnya akhirat itulah yang kekal “.
  • Firman Allah dalam Surah MUHAMMAD, ayat 19:
    “Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”.
Bila manusia tidak menggunakan kehidupan dunia untuk mencari status yang baik di akhirat maka jadilah kehidupan dunia ini bagi manusia tersebut sebagai main-main atau senda-gurau, atau dapat kita umpamakan seperti permainan “Monopoli”.
  • Firman Allah dalam Surah AL AN’AAM, ayat 32:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda-gurau belaka, dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya”!.
  • Firman Allah dalam Surah AL ANKABUT, ayat 64:
” Maka tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya Akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui “.
Kehidupan di dunia harus benar-benar disadari setiap hari bahwa kehidupan ini hanya untuk Allah Subhana Wa Taala
  • Firman Allah dalam Surah  AL AN’AAM, ayat 162:
“Katakanlah : Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.”
  • Firman Allah dalam Surah AL HADIID, ayat 20:
” Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “.
Jadikanlah kehidupan dunia ini untuk mengumpulkan bekal yang akan dibawa dan digunakan dalam kehidupan Akhirat.
  • Firman Allah dalam Surah ASY SYURA, ayat 20 :
“Barangsiapa yang  menghendaki  keuntungan di akhirat  akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa  yang  menghendaki  keuntungan  di dunia kami berikan ketiada-nya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiapun di Akhirat”.
Bagaimana manusia-manusia yang sudah disampaikan dan diajak untuk selalu mengingat Allah dan kehidupan akhirat tetapi menolak, pura-pura tidak mendengar ataupun tidak ada respons sama sekali??.
Maka Allah memerintahkan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam dan siapa-siapa yang mendapat amanah untuk menyampaikan dan memperingati untuk segera meninggalkan manusia tersebut.
  • Firman Allah dalam Surah AN NAHL, ayat 60:
“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk, dan Allah mempunyai sifat yang maha tinggi dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “.
  • Firman Allah dalam Surah AN NAJM, ayat 29 
    “Maka berpalinglah wahai Muhammad dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi “.
Kehidupan Akhirat:
Kehidupan sebenarnya dari umat manusia, dan kehidupan dunia sangat menentukan derajat atau status manusia tersebut di akhirat.
  • Firman Allah dalam Surah AL ISRA, ayat 21:
“Perhatikanlah bagaimana kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”.
  • Firman Allah dalam Surah AL AN’AAM, ayat 132:
    “Dan masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa yang  dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan “.
  • Firman Allah dalam Surah AN NAHL, ayat 30: 
    “Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertaqwa “
Sepuluh Bekal untuk Kehidupan Akhirat
  1. Bekal Ketika Dicabut Nyawa
    1. Melakukan tobat atas segala dosa
    2. Rendah hati terhadap sesama pria dan wanita Islam
    3. Mau menjalankan kewajiban dan sunah
    4. Sanggup memperbanyak zikir kepada Allah
    5. Bekal untuk di Alam Kubur
      1. Jangan mengumpat
      2. Jangan mengadu domba
      3. Menjaga kebersihan dan kesucian diri
      4. Selalu melakukan shalat lima waktu
      5. Bekal Untuk Para Malaikat, serta Malaikat Munkar dan Nakir
      6. Mengucapkan syahadat
      7. Selalu menepati janji
      8. Mempelajari dan mengamalkan ilmu yang benar dan untuk kebenaran
      9. Menyayangi sesama kaum mu’min
        1. Bekal Untuk Menghadapi Timbangan / Mizan
        2. Mendalami ilmu syara’ dan hadits
        3. Memahami dan menjalankan prinsip-prinsip ilmu syara’
        4. Selalu ikhlas hatinya dalam melakukan perbuatan baik
        5. Melanggengkan perbuatan baik
          1. Bekal untuk Menghadapi Pencatatan / Kitab
          2. Sanggup meredam bergunjing atas keburukan orang lain
          3. Sanggup menjauhi kesenangan dunia dan meninggalkan berhala
          4. Selalu ingin berzikir kepada Allah Ta’ala
          5. Menyenangi ibadah kepada Allah Ta’ala
            1. Bekal Untuk Menghadapi Titian Sirotol Mustakim
            2. Selalu menyayangi sesama keluarga mu’min
            3. Berbakti kepada kedua orang tua
            4. Menjaga dengan baik titipan / amanat
            5. Berjalan ke Masjid, dan saling mengucapkan salam usai Jum’atan
VII.  Bekal Menghindari Neraka
  1. Senang membaca Al Qur’an
  2. Menangis karena takut kepada Allah Ta’ala
  3. Jangan melakukan pertengkaran antar sesama keluarga mu’min
  4. Tidak melakukan pekerjaan dan memakan makanan yang haram
    1. Bekal Untuk di Surga
    2. Selalu berbuat amal saleh
    3. Menyenangi para kekasih Allah, seperti orang-orang alim atau orang-orang beriman.
    4. Selalu mencintai Allah Ta’ala yang Mahasuci
    5. Selalu mencintai hamba-hamba Allah lainnya
      1. Bekal Mendapat Syafa’at Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam
      2. Mencintai dan mengasihi seluruh nabi-nabi
      3. Mengasihi dan menyayangi semua putra putri Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam
      4. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.
      5. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam
        1. Bekal Untuk Allah Ta’ala
        2. Melanggengkan perbuatan yang berlandaskan kebaikan
        3. Menghindari melakukan perbuatan tercela
        4. Menyelaraskan diri dengan semua mahluk ciptaan Allah
        5. Menerima dengan rasa suka akan kepastian Allah

Akhirat Tidak Kekal?

Kita harus yakin bahwa yang kekal hanya satu itu. Selebihnya tidak, Kalau toh banyak disebut bahwa surga itu kekal atau abadi, maka tingkat kekekalannya atau keabadiannya tidak sama dengan kekekalan Allah. Kekal atau abadinya makluk tetap ada batasnya, Sampai kapan? Sesuai dengan kehendak yang menciptakan, Kalau Allah kelak menghendaki akhirat harus sampai pada batas akhir, dan Allah menghendaki ada ciptaan baru, maka itu hak prerogratif Allah swt, Allah yang punya irodah (kehendak) mau diapakan ciptaan-Nya ini.
Kita sering “terjebak” pemahaman sempit karena dibatasi oleh ruang dan waktu. Memahami kata “langit” saja sudah relatif. Ada yang mengatakan langit itu sesuatu di atas kita. Lha, kalau itu artinya, kata “kita” itu siapa. Apa orang Indonesia, atau orang Amerika yang letaknya sama sekali beda. Di sini malam, di sana siang. Di sini atas, di sana bawah, Lalu? Maka, ada yang mengartikan langit adalah sesuatu di luar bumi, jadi bukan di atas seperti yang kita pahami selama ini. Nah, ini saja sudah beda kan? Begitu juga dalam memahami kata “satu tahun” misalnya, setiap tempat beda-beda. Satu tahun di bumi, berbeda dengan satu tahun di planet lain. Tidak percaya? Di bumi kita, satu tahun itu sama dengan 365 hari. Tetapi di Merkurius satu tahun sama dengan 88 hari. Jadi, sehari di sana, sama dengan 58,6 hari di bumi.
Agus Mustofa menjelaskan, perbedaan itu akan semakin seru kalau kita datang ke planet lain. Misalnya, Venus, satu harinya sama dengan 243 hari Bumi. Sedang setahunnya sama dengan 225 hari. Mars setahunnya 687 hari, Yupiter setahunnya 4,332 hari, Saturnus 10,759 hari, Uranus 30,685 hari, Neptunus 60.190 hari, dan Pluto 90,550 hari. Jadi, waktu di setiap planet saja sudah berbeda-beda seperti itu karena pengaruh ruang dan waktu, apalagi jika dibandingkan dengan akhirat.

Menuju Akhirat


Setiap perjalan pasti membutuhkan perbekalan. Apalagi perjalanan yang sangat jauh, tentunya bekalnya pun harus cukup supaya selamat sampai tujuan. Bedanya, perjalanan ke akhirat bekalnya tidak berbentuk materi, melainkan amal perbuatan....


----------

Perjalanan manusia telah dimulai sejak Nabi Adam as. pada tahun yang belum diketahui hitungan pastinya. Kita pun melihat anak-anak Adam dari generasi ke generasi telah menyelesaikan perjalanannya ke akhirat melalui dunia ini. Ada yang membutuhkan waktu 100 tahun, 500 tahun, 1.000 tahun, dan kini rata-rata hanya 60-an tahun. Betapa singkatnya waktu tempuh yang dibutuhkan manusia di dunia ini untuk sampai ke akhirat. Bahkan jika diukur dengan hari-hari di akhirat, dimana sehari di sana sama dengan seribu hari di sini, berarti tidak ada satu pun umur manusia di bumi ini yang melebihi sehari di akhirat. Nabi bersabda, bahwa perjalanan di dunia ini ibarat orang menyeberang jalan saja. Sungguh sangat sebentar. Tapi, justru yang sebentar ini banyak membuat orang lupa. Ia mengira dunia ini tempat tujuannya. Padahal dunia adalah mazra'atul akhirah (tempat menanam untuk akhirat). Di sinilah kita menanam, tapi di sanalah kita memanen.

Tak satu pun manusia akan lepas dari kematian, karena kematian adalah salah satu 'terminal' di tengah perjalanan yang harus kita lewati, bahkan menjadi tempat berhenti sejenak. Bagaikan orang bernaung di bawah rindangnya pohon di tengah perjalanan untuk melepas lelah barang sebentar, lalu melanjutkan perjalanannya kembali sampai ke tujuannya, yakni ''ibu kandungnya''. Sebagaimana dituturkan dalam Alquran, ''....adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka 'ibunya' adalah Hawiyah. Tahukah kami, apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas''. (QS.101:8-11).

Setiap perjalan pasti membutuhkan perbekalan. Apalagi perjalanan yang sangat jauh, tentunya bekalnya pun harus cukup supaya selamat sampai tujuan. Bedanya, perjalanan ke akhirat bekalnya tidak berbentuk materi, melainkan amal perbuatan. Setiap orang mempunyai catatan amalnya masing-masing yang dibukukan dalam sebuah kitab,'' ....di sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dizalimi''.

(QS.23:62). Yakni kitab tempat para malaikat menuliskan perbuatan-perbuatan seseorang dengan sejujur-jujurnya tanpa pilih kasih, biarpun buruk atau baik, yang akan dibacakan pada hari kiamat. Ketika setiap manusia menghadap Allah satu per satu, maka dikatakan padanya: ''Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh (para malaikat) mencatat apa saja yang telah kamu kerjakan''. (QS.45:29).

Bagi orang-orang yang timbangan kebaikannya ringan, artinya perbuatan dosanya lebih besar, maka ''ibu kandungnya'' (baca: tempat kembalinya) adalah Hawiyah. Sedangkan orang-orang yang timbangan kebaikannya berat, ''...maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan''. (QS.101.7) Siapakah mereka itu? Bagi seorang muslim, dunia bukanlah tujuan. Dunia adalah ibu tiri. Dunia bukanlah ibu yang melahirkan kita. Kita adalah anak-anak akhirat. Akhirat adalah ''ibu kandung'' kita. Akhirat adalah ''ibu'' kita yang sebenarnya. Yang selalu menjadi tempat kita mencurahkan cinta dan penuh harap. Di sanalah kita menuju dan tempat berakhir. Di sanalah peluk cium yang kita dambakan selama ini. Dunia adalah tempat kita ditempa, dididik, dan diuji. Siapa yang lulus semua ujian itu, merekalah yang berhak diterima di pangkuan ''ibu'' di surga. Tapi, siapa pun mereka yang gagal, tempatnya adalah di Hawiyah, yakni api neraka yang bergejolak. Semoga kita semua diterima sebagai anak-anak akhirat yang berbakti pada ''ibu'' dan mendapat tempat yang memuaskan.

Sumber: Menuju Akhirat oleh Fauzan Al-Anshari


Tentang Pembahagian Manusia Di Akhirat 2



Orang yang terlalu sabar juga termasuk dalam golongan "Bi ghairi hisab". Sabar itu terbagi dalam tiga bahagian :
1. Sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT
2. Sabar menjauhi larangan dari Allah SWT
3. Sabar menghadapi segala ujian dari Allah SWT

Sabar melaksanakan perintah Allah SWT bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar melaksanakan perintah Allah SWT ialah seperti sabar mengerjakan shalat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semuanya itu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menjauhi larangan dari Allah SWT. Terutama untuk boleh sabar menjauhi larangan Allah SWT pada maksiat pandangan mata.

Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menerima ujian dari Allah SWT. Kita dituntut untuk bisa sabar terhadap ujian-ujian dari Allah SWT kepada manusia seperti sakit, miskin, difitnah, kematian akan isteri, kematian ibu ayah dan sebagainya. Itu semuanya adalah ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siapa diantara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Manusia hendaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut. Karena ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia itu hakikatnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia dididik melalui manusia yang lain melalui zahirnya. Tetapi pada hakikatnya yang mendidik manusia adalah Allah SWT sendiri. Dan ujian-ujian yang menimpa manusia sebenarnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT.

Oleh karena itu kita sebagai hamba-Nya hendaklah bersabar dan redha. Sebab sebagaimana yang kita tahu ujian-ujian yang datang dari Allah SWT sekiranya kita bersabar, sebenarnya ini merupakankasih sayang dari Allah SWT kepada hambanya. Hal itu juga merupakan penghapusan dosa dari Allah SWT sekiranya kita bersabar. Demikian juga ia merupakan derjat dan pangkat yang akan Allah SWT kurniakan bagi manusia yang mahu menerima didikan secara langsung dari Allah SWT seperti ini.

Seringkali, apa yang manusia mahu ialah didikan melalui manusia yang lain seperti dari para tuan guru, ustaz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah SWT seperti ini karena tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya.

Ingatlah, seandainya manusia tidak berhasil di didik secara langsung dari Allah SWT, maka janganlah diharapkan ia berjaya untuk menerima didikan dari manusia yang lain. Sebab itu kita melihat betapa kuatnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul, karena sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada mereka.

Oleh karena itulah tidak heran bagaimana kuatnya iman para nabi dan rasul semuanya. Sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah SWT.

Jauh berbeza dengan keadaan kita yang tentu tidak senang apabila menerima ujian dari Allah SWT sedangkan itu merupakan didikan secara langsung dari Allah SWT. Sedangkan seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan "Bi ghairi hisab" di akhirat kelak.

Dan termasuk juga dalam golongan ini di akhirat kelak ialah orang fakir yang mana ia bersabar dengan kefakirannya. Mereka ialah orang yang tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian yang sehelai sepinggang. Sebab itu mereka tidak dihisab di akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan dihisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Disamping itu, termasuk dalam golongan "Bi ghairi hisab" ini ialah orang ahli makrifat. iaitu orang yang begitu kenal dengan Allah SWT. Oleh karena mereka terdiri dari orang yang kenal akan Allah, maka hati mereka setiap masa senantiasa ingat akan Allah SWT. Hatinya juga setiap masa terasa hebat tentang kebesaran dan keagungan Allah SWT. Begitu juga hatinya itu setiap masa senantiasa terasa rindu kepada Allah SWT.

Apabila kiat ukur diri kita dengan mereka, terasa sekali jauh perbezaannya. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingati Allah SWT, sedangkan kita senantiasa lalai dan derhaka kepada Allah SWT. Bukan suatu hal yang mudah untuk sentiasa ingat kepada Allah SWT. Sedangkan solat yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai mengingati-Nya pun tidak dapat kita mengingat Allah SWT, lagilah di luar solat kita akan semakin tidak dapat mengingati Allah SWT.


Jelaslah bahwa untuk menjadi ahli makrifat iaitu orang yang benar-benar kenal Allah SWT bukanlah suatu hal yang mudah. Ianya merupakan suatu hal yang amat susah untuk dicapai oleh kita yang memang senantiasa lalai terhadap Allah SWT.

Itulah diantara orang-orang yang termasuk di dalam golongan "Bi ghairi hisab" di akhirat kelak. Cubalah ukur diri kita, apakah kita termasuk dalam golongan ini ?

Golongan "Ashabul yamin" atau golongan orang yang menerima kitab dari tangan kanan ialah golongan orang-orang soleh, abrar ataupun golongan "muflihun". Adapun golongan "Ashabul yamin" iaitu orang-orang yang memiliki sekurang-kurangnya Iman ayan [rujuk post yang bertajuk peringkat-peringkat iman] dan mereka juga adalah orang yang amal kebajikannya melebihi kejahatannya. Sungguh pun golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tidak terlepas menerima hisab dari Allah SWT. Mereka agak lambat untuk menempuh "Siratul mustaqim" disebabkan oleh pemeriksaan terhadap mereka.

Diterangkan bahwa di atas titian "Siratul Mustaqim" terdapat lima tempat pemeriksaan. Dan lima tempat pemeriksaan itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita terhenti di kelima-lima tempat pemeriksaan itu ? sedangkan sehari di akhirat dinisbahkan dengan hari dunia adalah selama seribu tahun.

Sebab itu tidak heran mengapa orang-orang "Muqarrabin" itu tidak mahu menjadi orang soleh. Sebab orang soleh, walaupun masuk ke syurga, terpaksa dihisab terlebih dahulu. Ini sudah tentu menyusahkan mereka. Sebab itu mereka lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah SWT. Sebab orang yang mati syahid, langsung dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam syurga.

Terpaksa terhenti untuk dihisab di "Siratul Mustaqim" adalah merupakan penderitaan dan azab bagi golongan muqarrabin. Sebab itu di dalam kitab terutama kitab-kitab Tasawuf ada diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang abrar/orang soleh adalah merupakan kejahatan bagi golongan muqarrabin. Bagi golongan muqarrabin, sesuatu hal yang dianggap halal tetapi menyebabkan akan dihisab, itu adalah suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang soleh, marilah kita lihat kenyataan Al Imam Ghazali. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa orang yang hendak menjadi orang yang soleh itu mestilah 24 jam yang Allah SWT untukkan kepadanya, mestilah 18 jam di isi dengan amal baik. Cuma 6 jam saja masanya itu digunakan untuk melakukan hal yang mubah [harus].

Golongan yang ketiga yaitu "Ashabul syimal" iaitu golongan yang akan menerima kitab dari tangan kiri. Mereka ini ialah orang Mukmin yang 'Asi atau Mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari kebaikan yang mereka lakukan. Mereka ini akan dimasukkan ke dalam neraka dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam syurga. Mereka dimasukkan ke dalam neraka sebagai berdasarkan kepada dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah tamat penyiksaan mereka di neraka, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam syurga.

Golongan yang akhir ialah golongan "Ashabul A'raf" iaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka terselamat dari masuk ke neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke syurga daripada golongan "Ashabul yamin" yang setelah menempuh sirotul mustaqim, tidak ada halangan lagi untuk masuk ke syurga. Tetapi bagi golongan "Ashabul A'raf", setelah mereka menempuh "Sirotul mustaqim" mereka masih lagi dihadang untuk ke syurga.

Mereka akan didera oleh Allah SWT di hujung "Sirotul mustaqim". Bagaimana deraan Allah SWT terhadap mereka ? Deraan yang dikenakan Allah SWT kepada golongan "Ashabul A'raf" ialah diperintah supaya mereka meminta satu amal kebajikan kepada penghuni syurga. Sesiapa dari golongan mereka yang diberi oleh penghuni syurga satu amal kebajikan, maka dia diperbolehkan untuk masuk ke syurga. Maka mundar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan penghuni-penghuni syurga. Setelah sekian lama, maka barulah Allah SWT masukkan ke dalam hati penghuni syurga untuk memberikan kepada mereka satu amalan kebajikan.

Tetapi anehnya, orang yang mempunyai banyak amal kebajikannya tidak mahu langsung memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Sebaliknya mereka yang memberikan amal kebajikannya ialah orang yang mempunyai lebih satu saja amalan kebajikannya.

Maka Allah SWT pun berfirman kepada golongan ini yang antara lain,

"Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai lebih satu amalan kebajikan, begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku dan terus ke syurga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu."

Maka dengan ini hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT di syurga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada mereka di akhirat.

Dari huraian-huraian yang dijelaskan di atas marilah kita membuat ukuran di golongan manakah kita berada ? Apakah kita berada di golongan "Bi ghairi hisab" ? "Ashabul yamin" ? "Ashabus syimal" ? atau "Ashabul A'raf" ?

Mahsyar sehari 50,000 tahun dunia




Saudara-saudaraku…
Berapa lamakah manusia berada di Mahsyar? Persoalan masa di akhirat sukar diperkatakan, kerana bila kiamat berlaku dan semua manusia sudah ke sana, tiada alat yang dapat dijadikan pengukur waktu, tidak seperti hari ini, ada jam.

Di dunia kita mengira waktu amat mudah, sehari 24 jam, tujuh hari jadi seminggu, seterusnya sebulan, semua mengikut peredaran matahari atau bulan, tetapi di akhirat tiada bulan matahari, semuanya dilipat Allah kerana tugasnya sudah tamat.
Suatu ketika ada sahabat bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang berapa lamakah manusia mesti berada di Mahsyar. Abu Said al-Khudri meriwayatkan, Rasulullah membacakan firman Allah bermaksud ;
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Allah sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”
(Surah Al-Maarij 70:4)
Para ulama membandingkan alam akhirat itu berdasarkan ayat tersebut iaitu dengan kadar sehari akhirat bersamaan dengan 50,000 tahun dunia. Sekiranya kita berada selama 30 hari di akhirat bermakna kita berada di dunia sementara ini selama 1.5 bilion tahun. Siapa yang mampu hidup selama itu??
Betapa halnya jika seorang terdampar di Mahsyar selama 50,000 tahun akhirat? Jika satu jam di sana bermakna 2083 hari dunia bersamaan lebih kurang 6 tahun 3 bulan 17 hari. Satu minit di sana bersamaan lebih kurang 35 hari. Sesaat di sana lebih kurang setengah hari dunia!! Cuba bayangkan nikmat dan azab di akhirat. Bandingkan orang yang terkena api di dunia, dua saatpun tidak mampu….!! Inikan pula setengah hari… Lindungilah kami Ya Allah….amin.
“Alangkah lamanya…”, kata sahabat apabila mendengar baginda membaca ayat tersebut. Kemudian baginda bersabda lagi;
“Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman tuhan, sesungguhnya Allah meringankan (tempoh masa di akhirat) bagi orang mukmin hanya sekadar lama masa bagi tempoh waktu melakukan solat fardhu”

Bagi mukmin sebenar tempoh masa bakal dilalui di Mahsyar jika selama 50,000 tahun itu terasa amat singkat seolah mengerjakan solat fardhu saja. Demikian anugerah Allah kepada mukminin dan mukminat, sebaliknya ia menjadi terlalu lama pasti terasa bagi golongan kufur dan banyak membawa dosa.
Rasulullah s.a.w seringkali berdoa supaya memudahkan perkara yang sukar …“Allahumma yassirli kulla ‘asir”, maksudnya Ya Tuhanku permudahkanlah bagiku segala kesulitan”.
Wallahu a’lam…
Moga mendapat manfaat bersama…