Pages

Wednesday, May 12, 2010

PENGAJARAN AL-BANNA DALAM MASALAH KHILAF

by aizam
Al-Qaradawi dalam buku beliau Fi al-Fiqh al-Awwaliyyat ada menukilkan satu kisah yang pernah berlaku kepada al-Syahid Imam Hasan al-Banna, pengasas gerakan Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ia merupakan kisah yang cukup baik yang perlu dihayati oleh semua para pendakwah yang mengakui mahu memperjuangkan Islam terutama dalam memastikan kesatuan umat Islam. Â 
Al-Banna ada mencatatkan dalam Muzakkirat nya tentang kisah beliau menyampaikan kuliah agama ketika beliau masih berumur dua puluhan tahun. Beliau menyampaikan kuliah tersebut antara waktu Maghrib dan Isyak di satu sudut di sebuah masjid kecil. Setelah sekian waktu, kuliah tersebut telah mendapat perhatian dan para hadirin yang hadir telah bertambah. Termasuk juga yang hadir adalah di kalangan mereka yang menyimpan sikap dan pendirian lama dalam masalah khilaf dan suka membangkitkan api perdebatan. 
Sehingga pada suatu malam, al-Banna merasakan terdapat satu kelainan terhadap hadirin yang hadir. Seolah-olah terdapat perbezaan kelompok di kalangan para pendengar termasuk tempat duduk mereka. Pada malam tersebut, belum sempat al-Banna hendaklah memulakan kuliahnya, tiba-tiba beliau telah diajukan satu soalan. ”Apakah pandangan ustaz tentang masalah tawassul? Maka al-Banna menjawab: ”Wahai saudaraku, aku berpandangan engkau bukan bermaksud mahu bertanya tentang masalah ini sahaja, tetapi engkau juga mahu bertanya tentang selawat selepas azan, membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat, lafaz siyadah Rasul dalam tasyahhud, bagaimana kedudukan ibu bapa Nabi SAW di akhirat, sampai atau tidak bacaan al-Qur’an kepada si mati, adakah perkumpulan-perkumpulan yang dibina oleh ahli tariqat itu maksiat atau qurbah”, dan pelbagai masalah lagi. Â 
Al-Banna sengaja menyenaraikan semua perkara-perkara khilaf tersebut yang telah menyalakan api fitnah sejak sekian lama sehingga membuatkan lelaki penyoal itu tersentak. Lalu lelaki itu menjawab: ”Ya, aku mahukan jawapan atas kesemua soalan itu!” 
Lalu al-Banna menjawab: ”Wahai saudaraku, aku bukanlah seorang alim, tetapi aku seorang guru bandar yang menghafaz sesetengah ayat al-Qur’an dan sesetengah hadith Nabi dan mengetahui beberapa hukum agama setelah merujuk kepada kitab-kitab. Lalu aku menawarkan diri untuk mengajarkan ilmu itu kepada orang ramai. Maka sekiranya engkau bertanya kepadaku soalan yang terkeluar daripada apa yang aku tahu maka engkau telah menyukarkan aku, sedangkan barangsiapa yang mengatakan aku tidak tahu dia juga telah berfatwa. Sekiranya engkau merasa puas dengan apa yang aku sampaikan, dan melihat padanya ada kebaikan, maka dengari lah ia. Sekiranya engkau ingin mengetahui lebih lanjut maka bertanyalah kepada para ulama yang pakar selainku. Mereka mampu memberi fatwa terhadap apa yang kamu mahu. Adapun aku, maka inilah kadar ilmuku, sesungguhnya Allah tidak memberatkan ke atas seseorang melainkan apa yang diusahakan”. 
Itulah jawapan al-Banna kepada lelaki tersebut dan lelaki itu pada hakikatnya tidak mendapat apa-apa jawapan daripada al-Banna. Namun dengan ucapan al-Banna itu para hadirin atau kebanyakan mereka merasa berpuas hati. Lalu dengan kesempatan yang ada al-Banna meneruskan ucapannya dengan berkata: 
”Wahai saudara-saudaraku, aku amat mengetahui bahawa saudara yang bertanya tadi, termasuk juga ramai di kalangan kalian, tidak bermaksud daripada soalan seumpama itu melainkan hanya ingin mengetahui, daripada kumpulan manakah pengajar baru ini? Adakah daripada kumpulan Syaikh Musa atau daripada kumpulan Syaikh Abdul Sami’?! Sesungguhnya pengetahun ini tidak memberikan apa-apa manfaat kepada kamu, sedangkan kamu telah menghabiskan masa dalam keadaan fitnah selama lapan tahun dan cukuplah sekadar itu. Kesemua masalah-masalah itu telah diperselisihkan oleh umat Islam sejak ratusan tahun dan mereka masih terus berselisih pendapat sehingga ke hari ini, namun Allah SWT ridha kepada kita untuk berkasih sayang dan bersatu padu serta membenci untuk kita berselisihan dan berpecah-belah. Maka aku ingin mengajak kamu semua berjanji dengan Allah SWT untuk meninggalkan semua perkara-perkara ini sekarang, dan bersungguh-sungguh untuk mempelajari asas-asas agama dan kaedah-kaedahnya, beramal dengan akhlaknya, kelebihan-kelebihannya yang umum dan petunjuk-petunjuknya yang disepakati. Dan mendirikan segala kewajipan dan sunat serta meninggalkan sikap memberat-beratkan dan terlalu rigid supaya hati menjadi suci. Dan supaya menjadi tujuan kita semua hanya untuk mengetahui kebenaran, bukan hanya kerana sekadar mahu memenangkan satu pandangan. Ketika itu, kita mempelajari kesemua ini bersama dalam keadaan kasih sayang, kepercayaan, kesatuan dan keikhlasan. Aku berharap kamu terimalah pandanganku ini dan agar ia menjadi perjanjian sesama kita untuk berbuat demikian”.     
Demikianlah kisah bagaimana al-Banna membentangkan metodologi dakwahnya yang begitu berhikmah dan bijaksana. Mungkin bagi puak Salafi mereka terlupa dengan model-model atau tokoh-tokoh yang sepatutnya mereka contohi. Janganlah mereka terlalu angkuh dan sombong kerana siapalah mereka jika dibandingkan dengan para ulama Salafiyyin terdahulu. Wallahu a’lam. 

SEJARAH WAHABI

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya
Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal
usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan
berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-
jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini
Dahlan, I?tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah
Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan
lain-lain.
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin
Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia
adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke
negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah
Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M,
dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher
yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah.
Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran
barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan
agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha?i. Bahkan
Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja
kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut
madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang
sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah
dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa
dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh
orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang
lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun
menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak
kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab
Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawaiqul
Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.
Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad
bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis surat berisi nasehat: Wahai
Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari
mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa
orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah,
maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah
tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang
bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-
Sawadul Adham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena
engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari
kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak
mengikuti
Jalan muslimin.
Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini
adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : Dan barang siapa yang
menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka
bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam,
dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab,
adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul,
ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang
disampaikan ahlussunnah wal jamaah berkaitan dengan tawassul, ziarah
kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima.
Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin
sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul
Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan
Ramadhan??
Dengan segera dia menjawab, Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu
orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak
hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir
Ramadhan. Lelaki itu bertanya lagi kalau begitu pengikutmu tidak
mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum
muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak
itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang
muslim.? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu
bahasa.
Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat
ayahnya dan guru-gurunya itu. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran
Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed.
Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh.
Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dariyah, Muhammad bin
Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang
dikemudian hari menjadi mertuanya.
Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas
wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah
Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau
merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan
bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih,
dan membunuh orang musyrik dijamin surga.
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari
sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-
Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku
nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari
daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar
daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi
pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya
kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah
musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui
bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir.
Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya,
kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga
sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga
membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-
sampai seorang pengikutnya berkata : Tongkatku ini masih lebih baik
dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular,
sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama
sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya
seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan
wilayah kekuasaan semakin luas.
Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya
keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur,
peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut
Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia.
Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan
jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena
makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada
Allah.
Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah
yang ada di atas kuburan, menjarah hisan – hiasan yang ada di Hujrah
Nabi Muhammad.
Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah
pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Kabah yang terbuat dari
sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah
tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan
Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin
Abbas.
Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum
solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang.
Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di
kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan
Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka.
Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan
Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah
bisa direbut kembali.
Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Saud
bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil
menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan
Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I.
Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di
Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global.
Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan
ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah
tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu
selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang
sudah mapan.
Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah
di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah),
di Baqi dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan
tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di
atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan
tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta,
namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka
dibangun perpustakaan.
Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah
dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra
(kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan
dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman
International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan
mengurungkan niatnya.
Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan
dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak
yang menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak
mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan
yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan
itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan
sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk
perluasan tempat parkir.
Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal,
disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu
juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya
andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah
itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.
Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di
wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam
kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu
akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah
jamaah haji dan umrah.
Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah.
Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat
parkir, katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300
bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun
terakhir.
Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak
Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan
maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun
1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan
bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.
Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan.
Mereka banyak menghancurkan peninggalan- peninggalan Islam sejak masa
Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh
modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para
arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan
juta dollar untuk menggali peninggalan- peninggalan sebelum Islam baik
yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.
Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah
menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini
merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu
keraguan di kemudian hari.
Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan
ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh
keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang
tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli
bidah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan,
mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali
kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan
kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-
Islam-kan penduduk negeri ini.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan
Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 %
penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang
10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja
tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka
dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid
kepada Allah SWT.
Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo
untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi
corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme,
penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai
faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka
berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai
golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka.
Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai
ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz
(yang sekarang dinamakan Saudi).
Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari
para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun
mereka bantai di hadapan ibunya.
Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka
lakukan dengan dalih memberantas bidah, padahal bukankah nama Saudi
sendiri adalah suatu nama bidah Karena nama negeri Rasulullah SAW
diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi
yaitu As-Saud.
Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini
dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam
memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini
adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI &
MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: Fitnah itu datangnya dari sana,
fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur
(Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an
namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke
hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari
busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak
akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).
(HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748).
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan
Ibnu Hibban : Nabi SAW pernah berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah
dalam negara Syam dan Yaman, Para sahabat berkata: Dan dari Najed,
wahai Rasulullah, beliau berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam
negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW
bersabda: Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana
pula akan muncul tanduk syaitan., Dalam riwayat lain dua tanduk
syaitan.
Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka
adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas
ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia
telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya
hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari
majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah
terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya.
Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: Tidak
perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab,
karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu
sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah
bercukur (gundul), karena ahli bidah sebelumnya tidak pernah berbuat
demikian. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub
Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jalaudz Dzolam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW:
Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang
lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya
selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi
kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk
berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin. (AI-Hadits)
BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan
Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi
menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad
bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan
bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk
setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua
tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan
Muhammad Ibn Abdil Wahab.
Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang
ulama mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba daa halaakul
khobiits (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)
Diambil dari rubrik : Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th.
III Syaban 1426 H / September 2005 M
Wassalamualaikum wr wb

Sejarah Tauhid Berdarah WAHABI SALAFI Menghancurkan Komplek Makam Madinah AL BAQI








Rabu 8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum (kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud. Di tahun yang sama pula Raja Ibnu Saud yang Wahabi itu menghancurkan makam orang-orang yang disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di Jannat al-Mualla (Mekah).

Penghancuran situs bersejarah dan mulia itu oleh Keluarga al-Saud yang Wahabi itu terus berlanjut hingga sekarang. Menurut beberapa ulama apa yang terjadi di tanah Arabia itu adalah bentuk nyata konspirasi Yahudi melawan Islam, di bawah kedok Tauhid. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah secara sistematis ingin menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar Kaum Muslim terputus dari sejarah Islam.

Asal Muasal al-Baqi


Secara harfiah “al-baqi” berarti taman pepohonan. Dikenal juga sebagai “Jannat al-baqi” karena “keramatnya” sejak keluarga dan sahabat Rasulullah dimakamkan di tempat ini.
Sahabat pertama yang dimakamkan di al-Baqi adalah Usman bin Madhoon yang wafat 3 syaban tahun 3 hijiriah. Rasulullah memerintahkan menanam pepohonan di sekitar pusaranya. Rasul juga meletakkan dua buah batu di antara makam sahabatnya itu.

Tahun berikutnya putra Rasulullah Ibrahim wafat saat masih bayi. Dengan derai air mata Rasulullah memakamkan putranya tercinta itu di al-Baqi. Sejak itulah penduduk Madina ikut juga memakamkan sanak saudaranya di al-Baqi. Apalagi setelah mendengar sabda Rasulullah,” Salam sejahtera untukmu wahai orang yang beriman, Jika Allah berkenan , kami akan menyusulmu. Ya Allah, ampunilah ahli kubur al-Baqi’.
Tanah pemakaman al-Baqi perlahan pun diperluas. Tak kurang dari 7000 sahabat Rasulullah dikuburkan di sini. Termasuk juga ahlul baytnya yaitu Imam Hasan bin Ali, Imam Ali bin Husayn, Imam Muhammad Al_Baqir, dan Imam Ja’far al-Sadiq.
Selain itu saudara Rasulullah yang dimakamkan di al-baqi adalah, Bibi Safiyah dan Aatikah. Di al-baqi dimakamkan pula Fatimah binti al-Asad (Ibunda Imam Ali bin Abi Thalib).
Khalifah Usman dimakamkan di luar al-Baqi namun belakangan karena perluasan makam maka ia termasuk di al-Baqi. Imam mazhab sunni yang terkenal Malik bin Anas juga dimakamkan di al-Baqi. Tak pelak al-Baqi adalah tempat amat bersejarah bagi Kaum Muslimin di seluruh jagat raya.
Al-Baqi Dalam Perspektif Ahli Sejarah

Umar bin Jubair melukiskan al-Baqi saat ia berkunjung ke Madinah berkata,” al-Baqi terletak di timur Madinah. Gerbang al-Baqi akan menyambut anda saat tiba di al-baqi. Saat anda masuk kuburan pertama yang anda lihat di sebelah kiri adalah kuburan Safiyah, bibi Rasulullah. Agak jauh dari situ terletak pusara Malik bin Anas, Salah seorang Imam Ahlus Sunnah dari Madinah. Di atas makamnya didirikan sebuah kubah kecil. Di depannya ada kubah putih tempat makam putra Rasulullah Ibrahim. Di sebelah kanannya adalah makam Abdurahman bin Umar putra Umar bin Khatab, dikenal sebagai Abu Shahma. Abu Shahma dihukum cambuk oleh ayahnya karena minum khamar. Hukuman cambuk untuk peminum khamar seharusnya tidak hingga mati. Namun Umar mencambuknya hingga ajal merenggutnya. Di hadapan kuburan Abu Shahma adalah makam Aqeel bin Abi Thalib dan Abdulah bin Ja’far al-Tayyar.Di muka kuburan mereka terbaring pusara isteri Rasul dan Abbas bin Abdul Mutalib.

Makam Imam Hasan bin Ali, terletak di sisi kanan dari gerbang al-Baqi. Makam ini dilindungi kubah tinggi. Di sebelah atas nisan Imam Hasan adalah makam Abbas bin Abdul Muthalib. Kedua makam diselimuti kubah tinggi. Dindingnya dilapisi bingkai kuning bertahtakan bintang indah. Bentuk serupa juga menghias makam Ibrahim putra Rasulullah. Di belakang makam Abbas berdiri rumah yang biasa digunakan Fatimah binti Rasulullah as. Biasa disebut “Bayt al-Ahzaan” (rumah duka cita). Di tempat ini putri Rasulullah biasa berkabung mengenang kepergian ayahnya tercinta rasulullah SAWW. Di ujung penghabisan al-Baqi berdiri kubah kecil tempat Usman di makamkan. Di dekatnya terbaring ibunda Ali bin Abi Thalib Fatimah binti Asad”.
Satu setengah abad kemudian pengelana terkenal Ibnu Batutah mengunjungi al-Baqi dan menemukan al Baqi tidaklah berbeda dengan yang dilukiskan Ibnu Jubair. Ia menambahkan,” Al-Baqi adalah kuburan sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar dan sahabat nabi lainnya. Kebanyakan mereka tidaklah dikenal’.

Berabad-abad lamanya al-Baqi tetap keramat dengan berbagai perbaikan bangunan yang diperlukan. Semuanya berakhir diabad 19 kala Kaum Wahabi muncul. Mereka menajiskan pusara mulia dan menunjukkan sikap kurangajar pada para syahid dan para sahabat nabi yang dimakamkan di sana. Muslim yang tidak sependapat dicap sebagai kafir dan dikejar-kejar untuk dibunuh.
Penghancuran Pertama al-Baqi

Kaum Wahabi percaya menziarahi makam dan pusara Nabi, Imam dan para syuhada adalah pemujaan terhadap berhala dan pekerjaan yang tidak Islami. Mereka yang melakukanya pantas dibunuh dan harta bendanya dirampas. Sejak invasi pertama ke Irak hingga kini, faktanya, Kaum Wahabi, dan penguasa Negara teluk lainnya membantai Kaum Muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Tak pelak lagi seluruh dunia Islam sangat menghormati pemakaman al-Baqi. Khalifah Abu Bakar dan Umar bahkan menyatakan keinginannya untuk dimakamkan di dekat makam Rasulullah.

Sejak 1205 Hijriah hingga 1217 Hijriah Kaum Wahabi mencoba menguasai Semenanjung Arabia namun gagal. Akhirnya 1217 Hijriah mereka berhasil menguasai Thaif dengan menumpahkan darah muslim yang tak berdosa. Mereka memasuki Mekah tahun 1218 Hijriah dan menghancurkan semua bangunan dan kubah suci, termasuk kubah yang menaungi sumur Zamzam.

Tahun 1221, Kaum Wahabi masuk kota Madinah dan menajiskan al-Baqi dan semua mesjid yang mereka lewati. Kaum Wahabi bahkan mencoba menghancurkan pusara Rasulullah , namun entah dengan alasan apa usaha gila itu dihentikan. Di tahun-tahun berikutnya jemaah haji asal Irak, Suriah dan Mesir ditolak untuk masuk kota Mekah untuk berhaji. Raja al-saud memaksa setiap muslim yang ingin berhaji harus menjadi wahabi atau jika tidak akan dicap sebagai kafir dan dilarang masuk kota Mekah.

Al-Baqi pun diratakan dengan tanah tanpa menyisakan apapun, termasuk nisan atau pusara. Belum puas dengan tindakan barbarnya Kaum Wahabi memerintahkan tiga orang kulit hitam yang sedang berziarah ke pusara Nabi untuk menunjukkan tempat persembunyian harta benda. Raja Ibnu Saud merampas harta benda itu untuk dirinya sendiri.

Ribuan Muslim melarikan diri dari Mekah dan Madinah. Mereka menghindari kejaran Kaum Wahabi. Muslim seluruh dunia mengutuk tindakan Saudi dan mendesak khalifah kerajaan Otoman menyelamatkan situs-situs bersejarah dari kehancuran. Dibawah pimpinan Muhammad Ali Basha mereka menyerang Hijaz, dengan bantuan suku-suku setempat, akhirnya mereka menang.l alu ia mengatur hukum dan pemerintahan di Hijaz, khususnya Mekah dan Madinah. Sekaligus mengusir keluarga al-Saud. Muslim di seluruh dunia bergembira. Di Mesir perayaan berlanjut hingga 5 hari! Tak diragukan lagi kegembiraan karena mereka bisa pergi haji dan pusara mulia pun diperbaiki lagi.

Tahun 1818 Masehi Khalifah Ottoman Abdul Majid dan penggantinya Abdul Hamid dan Mohammad, merekonstruksi semua tempat suci, memperbaiki semua warisan Islam yang penting. Dari 1848 hingga 1860, biaya perbaikan telah mencapai 700 ribu Poundsterling. Sebagian besar dana diperoleh dari uang yang terkumpul di makam Rasulullah.
Tindakan Barbar Kedua Kaum Wahabi

Kerajaan Ottoman telah mempercantik Madinah dan Mekah dengan memperbaiki semua bangunan keagamaan dengan arsitektur bercita rasa seni tinggi. Richard Burton, yang berkunjung ke makam Rasulullah tahun 1853 dengan menyamar sebagai muslim asal Afghanistan dengan nama Abdullah mengatakan Madinah dipenuhi 55 mesjid dan kuburan suci. Orang Inggris lain yang datang ke Madinah tahun 1877-1878 melukiskan keindahan yang setara dengan Istambul. Ia menulis tentang dinding putih, menara berhias emas dan rumput yang hijau.

Tahun 1924 Wahabi masuk ke Hijaz untuk kedua kalinya Untuk kedua kalinya pula pembantaian dan perampasan dilakukan. Orang-orang di jalan dibantai. Tak terkecuali perempuan dan anak-anak jadi korban. Rumah-rumah diratakan dengan tanah.

Awn bin Hashim menulis: lembah-lembah dipenuhi kerangka manusia, darah kering berceceran di mana-mana. Sulit untuk menemukan pohon yang tidak ada satu atau dua mayat tergeletak di dekat akarnya.

Madinah akhirnya menyerah setelah digempur habis Kaum Wahabi. Semua warisan Islam dimusnahkan. Hanya pusara Nabi Saw yang tersisa.
Ibnu Jabhan (Ulama Wahabi) memberikan alasan mengapa ia merasa harus meratakan makam Nabi Saw, ”Kami tahu nisan di makam Rasulullah bertentangan dengan akidah dan mendirikan mesjid di pemakamannya adalah dosa besar’.
Pusara Sang Syahid Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) beserta syahid perang Uhud lainnya dihancurkan. Masjid Nabi dilempari. Setelah protes dari Kaum Muslim dunia Ibnu saud berjanji akan memperbaiki bangunanbersejarah tersebut. Namun janji itu tidak pernah ditempati. Ibnu saud juga berjanji Hijaz akan dikelola pemerintahan multinasional, khususnya menyangkut Madinah dan Mekah. Namun janji itu tinggallah janji.
Tahun 1925 giliran Janat al-Mulla pemakaman di Mekah dihancurkan. Ikut juga dihancurkan rumah tempat Rasulullah dilahirkan. Sejak itulah hari duka untuk semua muslim di jagat raya.
Tidakkah mengherankan Kaum Wahabi menghancurkan makam, pusara mulia dan semua tempat-tempat bersejarah bagi dunia islam (semuanya diam tak bergerak), sementara itu Raja-raja Saudi dijaga dengan ketat mengabiskan jutaan dolar?
Hujan Protes

Tahun 1926 protes massal Kaum Muslim bergerak di seluruh dunia. Resolusi diluncurkan dan daftar kejahatan wahabi dibuat. Isinya di antaranya adalah:
1. Penghancuran dan penodaan tempat suci ,di antaranya rumah kelahiran Nabi, pusara Bani Hasyim di Mekah dan Jannat al-Baqi (Madinah), penolakan wahabi pada muslim yang melafalkan al-fatihah di makam-makam suci tersebut.

2. Penghancuran tempat ibadah di antaranya Masjid Hamzah, Masjid Abu Rasheed, dan pusara para Imam dan sahabat.

3. Campurtangan pelaksanaan ibadah haji

4. Memaksa muslim mengikuti inovasi wahabi dan menghapus aturan atas keyakinan yang diajarkan para Imam mazhab

5. Pembantaian para sayid di Thaif, Madinah, Ahsa dan Qatif

6. Meratakan kuburan para Imam di al-Baqi yang sangat dihormati kaum Syiah

Protes yang sama bermunculan di Iran, Irak, Mesir, Indonesia dan Turki. Mereka mengutuk tindakan barbar Saudi Wahabi. Beberapa ulama menulis traktat dan buku untuk mengabarkan dunia fakta-fakta yang terjadi di Hijaz adalah konspirasi karya Yahudi melawan Islam dengan berkedok Tauhid. Tujuan utama adalah menghapus secara sistematis akar sejarah Kaum Muslim sehingga nantinya Kaum Muslim kehilangan asal-usul keagamaannya.

Tindakan barbar Kaum Wahabi boleh jadi menginspirasi peristiwa bersejarah lainnya. Sejarah perang dunia kedua mengingatkan kita akan kekejaman Nazi Jerman. Orang-orang Yahudi melarikan diri setelah dikejar-kejar untuk dibunuh Nazi. Kekejaman Hitler diperingati dunia (Khususnya Jerman dan sekutunya). Kini Nazi dilarang dan orang yang mengusung simbol-simbolnya bisa dihukum dan diusir dari Jerman. Hitler dan Nazi Jerman membantai jutaan Yahudi (versi Ahmadinejad tidak mungkin sebanyak itu). Hitler tidak merusak bangunan karya Yahudi. Hitler tidak merusak kuburan. Bandingkan dengan tindakan Kaum Wahabi yang tidak saja membunuh dan mengusir orang hidup tapi juga orang-orang yang sudah wafat juga ikut “dibunuh’!!!”

Berikut ini daftar makam dan tempat yang juga dihancurkan Kaum Wahabi
- Pemakaman al-Mualla di Mekah termasuk pusara isteri tercinta Nabi, Sayidah Khadijah binti Khuwailid , Makam Ibunda Rasul Siti Aminah binti Wahhab, makam pamananda Rasul Abu Thalib (Ayahanda Ali bin Abu Thalib) dan makam kakek Nabi Abdul Muthalib
- makam Siti Hawa di Jedah
- makam ayahanda Rasul Abdullah bin Abdul Muthalib di Madinah
- rumah duka (baytl al-Ahzan) Sayidah Fatimah di Madinah
- Masjid Salman al_Farisi di Madinah
- Masjid Raj’at ash-Shams di Madinah
- Rumah Nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekah
- Rumah Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah
- Komplek (mahhalla) bani Hasyim di Madinah
- Rumah Imam Ali bin Abi Thalib tempat Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan
- Makam Hamzah dan para syuhada Uhud di gunung Uhud


* diterjemahkan dari HISTORY OF THE CEMETERY OF JANNAT AL-BAQI
Sumber : 
http://qitori.wordpress.com/
Related Posting :
Warisan Islam
Sejarah