Sunday, February 28, 2010
Mendapat Hidayah di Biara
Mendapat Hidayah di Biara
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di
mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada
Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.
Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia
mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya
ini selain Sang Khalik.
Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:
Mendapat hidayah di Biara
Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan
pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah
seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat.
Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang
Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian
total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu
sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya
dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya,
kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan,
betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang
pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar
gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima
bersaudara.
Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi,
kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah
terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika
remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai
oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.
Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah.
Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi,
walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan
untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan
untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak
gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat,
mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka
justru bangga punya adik yang masuk biarawati.
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang
kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi
tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat
Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah
satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni
pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas
Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah,
dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan
agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia
yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di
bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang
berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa?
Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain,
Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani
itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah
seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya
negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu
merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik
mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk
mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan
itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini,
mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku
amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang,
bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari
terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca
al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari
kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.
Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan
bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak
diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan
bisa diterima!" pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu
satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh
Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan
trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji
lagi surat al-Ihklas. "Allahhu ahad, ini yang benar," putusku pada akhirnya.
Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku
katakana, "Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur.
Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku
dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi
pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan
kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek
semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu
untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,"
tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, "Tidak bisa!"
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur
sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga
sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja
saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh.
Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.
"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!" tegas
Pastur.
Aku katakana, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?
"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!" tegas
Pastur mengakhiri.
Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya
untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai
akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat
kursi, meja?" Dia tidak mau jawab.
"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu
semua yang buat tukang kayu.
"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.
"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus
tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang
membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.
"Apa maksud Anda?" Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas
isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu
sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia
tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh
dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya
kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir,
ini 'kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.
"Sebetulnya saya tahu," ucapku.
"Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.
"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau
kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak
syah."
"Apa maksud Anda?" Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam
semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai
hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi
Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah."
Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi
dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.
Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima,
Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi
Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan
yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di
kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka
silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat
saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat
Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan
sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata
saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada
manusia yang mampu.
Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan
bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.
Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses
berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan
ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari
al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi
tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui
perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih
panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru
mengucapkan dua kalimah syahadat.
Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai
macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya
harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung
bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya.
Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah,
aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah
menikah, ya selesai!
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis
mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap
kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku
mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu
dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka
jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut,
dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai
mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua.
Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya
adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang
lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam.
Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang,
tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?"
"Siap!" jawabku.
"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.
"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin
kuat.
"Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau
lagi.
"Islam" jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat
syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah
resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada
agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah
dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah,
saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang
muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku
berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.
Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar.
Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian
membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang
lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.
Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa
yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi
menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar
biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa
bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi
keretakan diantara kami.
Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan
rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak
perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang
menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu
saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang
lain sampai sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun
ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam,
baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas.
Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku
diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam
sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, "kalau Engkau, ya
Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak
menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang
Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan
begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus
berliku-liku seperti ini?" ungkapku sedikit kesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud
syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti
ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang
sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah
manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio.
Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya
analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama
orang yang tahu dan tidak tahu?"
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula
aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah
tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah
memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan
banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali
diundang berdakwah di Jakarta.
Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah
sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa.
Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya
karena Allah.
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di
mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada
Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.
Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia
mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya
ini selain Sang Khalik.
Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:
Mendapat hidayah di Biara
Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan
pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah
seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat.
Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang
Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian
total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu
sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya
dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya,
kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan,
betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang
pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar
gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima
bersaudara.
Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi,
kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah
terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika
remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai
oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.
Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah.
Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi,
walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan
untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan
untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak
gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat,
mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka
justru bangga punya adik yang masuk biarawati.
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang
kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi
tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat
Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah
satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni
pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas
Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah,
dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan
agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia
yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di
bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang
berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa?
Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain,
Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani
itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah
seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya
negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu
merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik
mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk
mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan
itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini,
mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku
amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang,
bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari
terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca
al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari
kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.
Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan
bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak
diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan
bisa diterima!" pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu
satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh
Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan
trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji
lagi surat al-Ihklas. "Allahhu ahad, ini yang benar," putusku pada akhirnya.
Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku
katakana, "Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur.
Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku
dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi
pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan
kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek
semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu
untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,"
tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, "Tidak bisa!"
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur
sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga
sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja
saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh.
Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.
"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!" tegas
Pastur.
Aku katakana, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?
"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!" tegas
Pastur mengakhiri.
Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya
untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai
akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat
kursi, meja?" Dia tidak mau jawab.
"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu
semua yang buat tukang kayu.
"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.
"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus
tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang
membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.
"Apa maksud Anda?" Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas
isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu
sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia
tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh
dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya
kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir,
ini 'kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.
"Sebetulnya saya tahu," ucapku.
"Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.
"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau
kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak
syah."
"Apa maksud Anda?" Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam
semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai
hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi
Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah."
Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi
dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.
Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima,
Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi
Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan
yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di
kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka
silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat
saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat
Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan
sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata
saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada
manusia yang mampu.
Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan
bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.
Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses
berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan
ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari
al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi
tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui
perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih
panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru
mengucapkan dua kalimah syahadat.
Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai
macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya
harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung
bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya.
Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah,
aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah
menikah, ya selesai!
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis
mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap
kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku
mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu
dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka
jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut,
dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai
mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua.
Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya
adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang
lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam.
Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang,
tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?"
"Siap!" jawabku.
"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.
"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin
kuat.
"Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau
lagi.
"Islam" jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat
syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah
resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada
agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah
dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah,
saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang
muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku
berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.
Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar.
Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian
membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang
lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.
Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa
yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi
menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar
biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa
bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi
keretakan diantara kami.
Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan
rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak
perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang
menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu
saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang
lain sampai sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun
ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam,
baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas.
Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku
diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam
sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, "kalau Engkau, ya
Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak
menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang
Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan
begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus
berliku-liku seperti ini?" ungkapku sedikit kesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud
syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti
ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang
sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah
manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio.
Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya
analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama
orang yang tahu dan tidak tahu?"
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula
aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah
tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah
memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan
banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali
diundang berdakwah di Jakarta.
Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah
sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa.
Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya
karena Allah.
Rela Dimasukkan ke Dalam Neraka
Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan ummatnya. Nabi Musa AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun.
Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Sorga-Nya?.
Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam".
Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagai mana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat.
Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya".
Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi".
Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Sorga-Nya?.
Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam".
Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagai mana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat.
Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya".
Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi".
Para Malaikat Tamunya Nabi Ibrahim Bertamu Kepada Nabi Luth.
Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah s.w.t. Dikirimkanlah kepadanya tiga orang malaikat menyamar sebagai manusia biasa. Mereka adalah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita gembira atas kelahiran Nabi Ishaq, dan memberitahu kepada mereka bahwa dia adalah utusan Allah dengan tugas menurunkan azab kepada kaum Luth penduduk kota Sadum.
Dalam kesempatan pertemuan mana Nabi Ibrahim telah mohon agar penurunan azab keatas kaum Sadum ditunda ,kalau-kalau mereka kembali sedar mendebgarkan dan mengikuti ajakan Luth serta bertaubat dari segala maksiat dan perbuatan mungkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi Ibrahim mohon agar anaksaudaranya, Luth diselamatkan dari azab yang akan diturunkan keatas kaum Saum permintaan mana oleh para malaikat itu diterima dan dijamin bahwa Luth dan keluarganya tidak akan terkena azab.
Para malaikat itu sampai di Sadum dengan menyamar sebagai lelaki remaja yang berparas tampan dan bertubuh yang elok dan bagus. Dalam perjalanan mereka hendak memasuki kota, mereka berselisih dengan seorang gadis yang cantik dan ayu sedang mengambil dari sebuah perigi. Para malaikat atau lelaki remaja itu bertanya kepada si gadis kalau-kalau mereka diterima ke rumah sebagai tetamu. Si gadis tidak berani memberi keputusan sebelum ia beruding terlebih dahulu dengan keluarganya. Maka ditngglkanlah para lelaki remaja itu oleh si gadis seraya ia pulang ke rumah cepat-cepat untuk memberitahu ayahnya.
Si ayah iaitu Nabi Luth sendiri mendengar lapuran puterinya menjadi binggung jawapan apa yang harus ia berikan kepada para pendatang yang ingin bertamu ke rumahnya untuk beberapa waktu, namun menerima tamu-tamu remaja yang berparas tampan dan kacak akan mengundang risiko gangguan kepadanya dan kepada tamu-tamunya dari kaumnya yang tergila-gila oleh remaja-remaja yang mempunyai tubuh bagus dan wajah elok.
Sedang kalau hal yang demikian itu terjadi ia sebagai tuan rumah harus bertanggungjawab terhadap keselamatan tamunya, padahal ia merasa bahwa ia tidak akan berdaya menghadapi kaumnya yang bengis-bengis dan haus maksiat itu.
Timbang punya timbang dan fikir punya fikir akhirnya diputuskan oleh Nabi Luth bahwa ia akan menerima mereka sebagai tamu di rumahnya apa pun yang akan terjadi sebagai akibat keputusannya ia pasrahkan kepada Allah yang akan melindunginya. Lalu pergilah ia sendiri menjemput tamu-tamu yang sedang menanti di pinggir kota dan diajaklah mereka bersama-sama ke rumah pada saat kota Sadum sudah diliputi kegelapan dan manusianya sudah nyenyak tidur di rumah masing-masing.
Nabi Luth berusah dab berpesan kepada isterinya dan kedua puterinya agar merahsiakan kedatangan tamu-tamu, jangan sampai terdengar dan diketahui oleh kaumnya. Akan tetapi isteri Nabi Luth yang memang sehaluan dan sependirian dengan penduduk Sadum telah membocorkan berita kedatangan para tamu dan terdengarlah oleh pemuka-pemuka mereka bahwa Luth ada tetamu terdiri daripada remaja-remaja yang tampan parasnya dan memiliki tubuh yang sangat menarik bagi para penggemar homoseks.
Terjadilah apa yang dikhuatirkan oleh Nabi Luth. Begitu tersiar dari mulut ke mulut berita kedatangan tamu-tamu remaja di rumah Luth, berdatanglah mereka ke rumahnya untuk melihat para tamunya dan memuaskan nafsunya. Nabi Luth tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar mereka kembali ke rumah masing-masing dan jgn menggunggu tamu-tamu yang datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan .
Mereka diberi nasihat agar meninggalkan adat kebiasaan yang keji itu yang bertentangan dengan fitrah manusia dan kudrat alam di mana Tuhan telah menciptkan manusia berpasangan antara lelaki dengan perempuan untuk menjaga kelangsungan perkembangan umat manusia sebagai makhluk yang termulia di atas bumi. nabi Luth berseru agar mereka kembali kepada isteri-isteri mereka dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar yang tidak senonoh, sebelum mereka dilanda azab dan seksaan Allah.
Jln capai takwa mujahadah(lawan nafsu),jaga k'bersihan hati(jgn mkn byk,m'baca al-quran)dan bersih kan hati dari nafsu.
Dalam kesempatan pertemuan mana Nabi Ibrahim telah mohon agar penurunan azab keatas kaum Sadum ditunda ,kalau-kalau mereka kembali sedar mendebgarkan dan mengikuti ajakan Luth serta bertaubat dari segala maksiat dan perbuatan mungkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi Ibrahim mohon agar anaksaudaranya, Luth diselamatkan dari azab yang akan diturunkan keatas kaum Saum permintaan mana oleh para malaikat itu diterima dan dijamin bahwa Luth dan keluarganya tidak akan terkena azab.
Para malaikat itu sampai di Sadum dengan menyamar sebagai lelaki remaja yang berparas tampan dan bertubuh yang elok dan bagus. Dalam perjalanan mereka hendak memasuki kota, mereka berselisih dengan seorang gadis yang cantik dan ayu sedang mengambil dari sebuah perigi. Para malaikat atau lelaki remaja itu bertanya kepada si gadis kalau-kalau mereka diterima ke rumah sebagai tetamu. Si gadis tidak berani memberi keputusan sebelum ia beruding terlebih dahulu dengan keluarganya. Maka ditngglkanlah para lelaki remaja itu oleh si gadis seraya ia pulang ke rumah cepat-cepat untuk memberitahu ayahnya.
Si ayah iaitu Nabi Luth sendiri mendengar lapuran puterinya menjadi binggung jawapan apa yang harus ia berikan kepada para pendatang yang ingin bertamu ke rumahnya untuk beberapa waktu, namun menerima tamu-tamu remaja yang berparas tampan dan kacak akan mengundang risiko gangguan kepadanya dan kepada tamu-tamunya dari kaumnya yang tergila-gila oleh remaja-remaja yang mempunyai tubuh bagus dan wajah elok.
Sedang kalau hal yang demikian itu terjadi ia sebagai tuan rumah harus bertanggungjawab terhadap keselamatan tamunya, padahal ia merasa bahwa ia tidak akan berdaya menghadapi kaumnya yang bengis-bengis dan haus maksiat itu.
Timbang punya timbang dan fikir punya fikir akhirnya diputuskan oleh Nabi Luth bahwa ia akan menerima mereka sebagai tamu di rumahnya apa pun yang akan terjadi sebagai akibat keputusannya ia pasrahkan kepada Allah yang akan melindunginya. Lalu pergilah ia sendiri menjemput tamu-tamu yang sedang menanti di pinggir kota dan diajaklah mereka bersama-sama ke rumah pada saat kota Sadum sudah diliputi kegelapan dan manusianya sudah nyenyak tidur di rumah masing-masing.
Nabi Luth berusah dab berpesan kepada isterinya dan kedua puterinya agar merahsiakan kedatangan tamu-tamu, jangan sampai terdengar dan diketahui oleh kaumnya. Akan tetapi isteri Nabi Luth yang memang sehaluan dan sependirian dengan penduduk Sadum telah membocorkan berita kedatangan para tamu dan terdengarlah oleh pemuka-pemuka mereka bahwa Luth ada tetamu terdiri daripada remaja-remaja yang tampan parasnya dan memiliki tubuh yang sangat menarik bagi para penggemar homoseks.
Terjadilah apa yang dikhuatirkan oleh Nabi Luth. Begitu tersiar dari mulut ke mulut berita kedatangan tamu-tamu remaja di rumah Luth, berdatanglah mereka ke rumahnya untuk melihat para tamunya dan memuaskan nafsunya. Nabi Luth tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar mereka kembali ke rumah masing-masing dan jgn menggunggu tamu-tamu yang datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan .
Mereka diberi nasihat agar meninggalkan adat kebiasaan yang keji itu yang bertentangan dengan fitrah manusia dan kudrat alam di mana Tuhan telah menciptkan manusia berpasangan antara lelaki dengan perempuan untuk menjaga kelangsungan perkembangan umat manusia sebagai makhluk yang termulia di atas bumi. nabi Luth berseru agar mereka kembali kepada isteri-isteri mereka dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar yang tidak senonoh, sebelum mereka dilanda azab dan seksaan Allah.
Jln capai takwa mujahadah(lawan nafsu),jaga k'bersihan hati(jgn mkn byk,m'baca al-quran)dan bersih kan hati dari nafsu.
Subscribe to:
Posts (Atom)







































