Pages

Thursday, April 8, 2010

Taqiyah Adalah Perisai Perlindungan Bagi Syiah



Oleh Prince of Jihad 
Setiap mazhab atau ajaran apa pun pasti memiliki keyakinan-keyakinan tertentu. Keyakinan itu kebanyakan tertulis dalam kitab atau terkadang hanya ditransfer melalui lisan. Tapi lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus diyakini oleh seorang muslim yaitu Al Qur’an, yang menagndung perintah untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala sesuatu. Begitu juga Al Qur’an memuat sumpah Allah dengan pena, yang dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca. Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat dibaca hingga kini. Mazhab-mazhab fiqih dalam islam pun memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat mazhab itu. “Mazhab syiah” pun demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan ahlulbait, 11 imam yang konon harus diikuti.
Konon lagi, 11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al Qur’an. Selain ucapan ahlulbait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an dan ucapan ahlulbait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam ma’sum (yang juga ma’dum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.
Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan ahlulbait, sumber legalitas bagi syiah selain Al Qur’an, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan ahlulbait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya mazhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang mazhabnya ternyata tidak sesuai dengan isi kitab-kitab itu. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al Qur’an serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber asli.
Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh “angin surga” baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos –tapi intelek-.
Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena “intelek tapi lugu”,  karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da’i-da’i syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari ahlulbait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat ahlulbait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat ahlulbait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.
Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:
Dari Abu Abdillah –Ja’far Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.
Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 122, Al Wafi jilid6 hal 43, begitu juga dinukil oleh Al Bahrani dalam Al Mahasin An Nifsaniyah, Al Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak jalur.
Siapakah yang disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi ahlulbait. Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi ahlulbait. yang dimaksud memusuhi ahlulbait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fatimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita lihat Al Bahrani di atas –nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al Ashfur Ad Darazi Al Bahrani- dalam kitab yang sama pada hal 157 memberikan definisi bagi kata nashibi:
Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…
Maka kata nashibi meliputi seluruh penganut ahlussunnah wal jamaah yang meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri, mencopet dan merampas harta ahlussunnah. Ini jelas dari riwayat di atas yang menjelaskan ambillah harta nashibi –sunni-  di mana saja, di jalan, di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu. Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.
Anda tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian? Ternyata ajaran syiah terdapat sebuah ajaran yang membolehkan bagi penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah, keyakinan itu disebut dengna taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12 bangkit dari “tidur panjangnya”. Ibnu Babawaih Al Qummi yang dijuluki Ash Shaduq –yang selalu berkata benar- mengatakan:
Keyakinan kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam Mahdi siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan menyelisihi Allah, Rasul dan para imam. Bisa dilihat dalam kitab Al I’tiqadat hal 114. Pada cetakan Darul Mufid tex di atas ada pada hal 108.
Ucapan ini tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti adalah keyakinan mazhab syiah menurut As Shaduq. Juga ini bukan satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas berdasar pada riwayat Ja’far Ash Shadiq yang bersabda:
Jika kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.
Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar jilid 50 hal 181, jilid 75 hal 414, hal 421, As Sarair hal 476 Kasyful ghummah jilid 3 hal 252, Man Laa Yahdhuruhul Faqih jilid 2 hal 127 dan beberapa sumber lain.
Juga terdapat riwayat yang mengatakan: Orang yang meninggalkan taqiyah adalah kafir. Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar 87 347 Fiqhur Ridha 338.
Dari sini saja kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga –bagi mereka yang tidak lugu-. Perkataan As Shaduq di atas memberi jawaban bagi kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang, akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi teman-temannya. Karena kaum muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena gerak penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena dia ditolak di mana-mana.
Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam surat An Nisa’ 41:
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan nulut mereka:“Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman;
Juga dalam surat A Fath ayat 11:
“; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.
Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya
Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi –baca: Tertipu- oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.
Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak hal ini penting untuk diketahui karena seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati.
Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah –hilangnya imam- sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al Askari, bukannya muncul dari Imam Ja’far As Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya.
Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah ‘yang dari Allah’ dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!
Mari kita simak ucapan Al Bahrani dalam kitab Al Hadaiq An Nadhirah jilid 1 hal 89:
Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.
Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagipula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui? Dan lain-lain pertanyaan yang susah didapat jawabannya.

Sumber Ajaran Syi’ah



Oleh Fadly 
Sebenarnya dari mana sih umat syiah mengambil ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengar kawan-kawan syiah berdalil dari Shahih Bukhari?
Sebagaimana Ahlussunah memiliki kitab hadits yang berasal dari Nabi, maka sebagai mazhab, syiah harus memiliki kitab-kitab yang berisi sabda para imam ahlulbait, mereka yang wajib diikuti bagi penganut syiah. Lalu mengapa syiah mengemukakan dalil dari kitab-kitab hadits sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakan hadits-hadits itu dalam rangka mendebat ahlussunah, bukan karena beriman pada isi hadits itu. Lalu apa saja rujukan syiah Imamiyah?
Syiah Imamiyah menganggap sabda 12 imam ahlulbait sebagai ajaran yang wajib diikuti, ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 imam ahlulbait sebagai penerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum dalam kitab-kitab syiah, namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu dikenal atau tepatnya sengaja tidak disebarluaskan oleh penganut syiah di Nusantara. Insya Allah kami akan memudahkan pembaca untuk mendownload sebagian kitab rujukan mereka yang memuat sabda-sabda para imam ahlulbait. Tapi pembaca pasti penasaran untuk membaca sabda ahlulbait, karena salah satu murid Imam Ja’far As Shadiq yang bernama Zurarah mengatakan : Al Kisyi meriwayatkan dalam bukunya Rijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi Umair dari Ali bin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: jika aku menceritakan seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far Asshadiq) maka laki-laki yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya. Rijalul Kisyi hal 134 (kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far sehingga membuat kemaluan berdiri?)
Sedangkan umat syiah mengatakan bahwa para imam mendapat ajaran dari imam sebelumnya yang mendapatkan ajaran dari Nabi. Juga umat syiah mengajarkan bahwa ajaran para imam harus diikuti. Tapi ternyata imam yang satu ini suka mengajarkan cerita-cerita yang membuat kemaluan berdiri. Jangan-jangan ajaran di atas sudah disensor. Lalu bagaimana hukum menyensor ajaran ahlulbait yang wajib diikuti?
Literatur syiah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda ahlulbait ada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “al jawami’ ats tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan) ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab Muftahul Kutub Al Arba’ah jilid 1 hal 5 dan A’yanus Syiah jilid 1 hal 288. Dalam makalahnya yang berjudul metode praktis untuk pendekatan sunnah syiah (dimuat dalam masalah Risalatus Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambil dari majalah yang sama dengan judul “persatuan islam” hal 233, Muhammad Shaleh Al Ha’iri mengatakan: kitab shahih imamiyah ada delapan, empat di antaranya di tulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al Husein Nuri Thabrasi.
Kitab pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas adalah Al Kafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 17 hal 245, Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 ha 432, Wasa’il Asy Syi’ah jilid 20 hal 71. kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al Kafi adalah kitab yang tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab Al Kafi ditulis pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah sughra imam mahdi masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang dapat berhubungan dengan imam mahdi dan menerima seperlima bagian dari harta syiah.
Jumlah riwayat kitab Al Kafi ada 16099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280. Kitab Al Kafi dijelaskan oleh para Ulama Syi’ah, di antaranya adalah Al Majlisi –penulis Biharul Anwar- yang menulis penjelasan kitab Al Kafi dan diberi judul Mir’aatul Uquul. Dalam kitabnya itu Majlisi juga menilai validitas hadits Al Kafi, di antara hadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:
Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.
Begitu juga ada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al Kafi, yaitu Syarh Jami’ yang ditulis oleh Al Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang berjudul As Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, ada lagi kitab yang judulnya At Ta’liqah Ala Kitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al Husaini, tapi hanya menjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi kitab Al Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karangan Rafi’uddin Muhammad bin Haidar An Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al Husaini Al Amili.
Kitab kedua adalah Man la Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin Babawaih Al Qummi, yang juga dikenal dengan sebutan As Shaduq, keterangan mengenai kitab ini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6 hal 230-237, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, juga dalam Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, kitab ini memuat 176 bab, yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup dengan bab Nawadir. Kitab ini memuat 9044 riwayat.
Disebutkan dalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap riwayat agar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa penulisnya mengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari kitab-kitab yang terkenal dan dapat diandalkan, penulis hanya mencantumkan riwayat yang diyakini validitasnya. Ditambah lagi dengan kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenai kitab ini dapat ditemui dalam kitab mustadrakul wasa’il jilid 4 hal 719, kitab adzari’ah jilid 4 hal 504, juga dalam pengantar tahdzibul ahkam sendiri. Kitab ini ditulis untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekali riwayat syiah, kitab ini berisi 393 bab. Mengenai jumlah haditsnya akan kita bahas kemudian.
Begitu juga kitab Al Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuat bab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid ketiga. Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya mencantumkan 5511 hadits dan mengatakan: saya membatasinya supaya tidak terjadi tambahan maupun pengurangan. Sementara dalam kitab Adz Dzari’ah ila Tashanifisy Syi’ah disebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6531, berbeda dengan penuturan penulisnya sendiri. Silahkan dirujuk ke Ad Dzari’ah jilid 2 hal 14, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, pengantar Al Istibshar, tulisan Hasan Al Khurasan. Kedua kitab di atas – Tahdzibul Ahkam dan Al Istibshar- adalah karya ulama tersohor syiah yang bergelar “ Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al Thusi (wafat 360 H). Al Faidh Al Kasyani dalam Al Wafi jilid 1 hal 11 mengatakan: seluruh hukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang seluruh riwayat yang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.
Agho Barzak Tahrani – salah satu mujtahid syiah masa kini- mengatakan dalam kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 14 : empat kitab ditambah dengan kitab kumpulan hadits adalah dasar bagi hukum syar’I hingga saat ini. Pada abad 11 Hijriah para ulama syiah menyusun beberapa kitab, empat di antaranya disebut oleh ulama syiah hari ini dengan : Al Majami’ Al Arba’ah Al Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan hadits belakangan); empat kitab itu adalah: Al Wafi yang disusun oleh Muhamad bin Murtadha yang dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al Faidh Al Kasyani –wafat tahun 1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab. Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al Wafi memuat 50 000 hadits (lihat footnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain hal 122) sementara Muhsin Al Amin mengatakan bahwa Al Wafi memuat 44244 hadits, bisa dilihat dalam A’yanus Syi’ah.
Lalu kitab Biharul Anwar Al Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har karya Muhammad Baqir Al Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H-. Ulama syiah menyatakan bahwa Biharul Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiah, bisa dilihat keterangan mengenai kitab ini dalam Adz Dzari’ah jilid 3 hal 27, juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 293. selain itu juga ada kitab wasa’ilus syi’ah ila tahsil masa’ilisy syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al Hurr Al Amili, yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqih bagi syiah imamiyah.
Dalam kitab ini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan riwayat lain dari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan, yangkonon jumlahnya mencapai tujuh puluh kitab-seperti dikatakan oleh penulis kitab Adz Dzari’ah. Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab wasa’il menyebutkan jumlah kitab yang menjadi rujukan adalah 180 kitab lebih, Al Hurr Al Amili menyebutkan judul-judul kitab yang menjadi rujukannya yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab, dia juga menyebutkan bahwa dia mengambil rujukan dari kitab0kitab selain yang telah disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain. Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang situlis oleh Asyirazi, begitu juga A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 292-293, Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353, Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1 hal 408, jilid 20 hal 36-49.
Lalu kitab mustadrakul wasa’il wa mustanbtul masa’il yang disusun oleh Husein Nuri Thabrasi –wafat 1320 H-. Agho Barzak Tahrani mengatakan: kitab mustadrak wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadits lainnya yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam memutuskan hukum syareat, kebanyakan ulama kami saat ini tunduk mengikuti kitab itu. Lihat kitab Adz Dzari’ah jilid 2 hal 110-111. lalu Agho Barzak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama syiah yang menjadikan kitab mustadrak wasa’il sebagai rujukan utama mereka. Adz Dzari’ah jilid 2 hal 111.
Jika pembaca merasa pernah mendengar nama Nuri Thabrasi, dia adalah penyusun kitab Fashlul Khitab fi Itsbati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbab – pemutus perkara, pembuktian bahwa kitab Tuhan telah dirubah-, kitab itu menyebutkan dalil-dalil yang memperkuat pendapat bahwa Al Qur’an yang ada hari ini telah diselewengkan dan diubah oleh “tangan-tangan kotor”. Dalam muqaddimah mustadrakul wasa’il, Agha Barzak Tahrani mengatakan : Dia adalah salah seorang imam ahli hadits dan rijalul hadits di masa ini, termasuk jajaran ulama besar syiah dan ulama besar islam di abad ini.
Bagaimana orang yang tidak beriman pada Al Qur’an menjadi ulama besar syiah? Pada pengantar mustadrak wasa’il, Agha Barzak Thrani mengatakan bahwa salah satu karya Husein Nuri Thabrasi adalah kitab Fashlul Khitab

Al Qur’an di mata Syi’ah [3]



Oleh Fadly 
Syi'ah memiliki jurus-jurus untuk menangkal serangan non syi'ah tentang perubahan Al Qur'an.Anda perlu tahu bagaimana menghadapi jurus-jurus itu. Penangkalnya ada di dalam.. silakan baca.
Pada bagian pertama dan kedua telah dikupas mengenai kenyataan yang pahit, yaitu mengingkari adanya perubahan pada Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip imamah, yang berarti mengingkari legalitas mazhab syiah itu sendiri. Karena sudah jelas bahwa mazhab syiah dibangun atas prinsip imamah yang bermakna, meyakini bahwa Ali dan 11 anak cucunya berhak menjadi khalifah serta mereka adalah imam yang menjadi pewaris kenabian. Hal ini biasa juga disebut dengan wilayah. Dalam kitab Al Kafi terdapat sebuah riwayat dari Imam Ja’far As Shadiq yang mengatakan
Islam ditegakkan di atas lima rukun, yaitu shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah, tidak ada yang ditekankan seperti ditekankannya wilayah pada hari ghadir. Al Kafi jilid 2 hal 21 bab Da’a’imul Islam
Kita perhatikan wilayah pada hari ghadir, yaitu pengangkatan Ali menjadi khalifah oleh Nabi pada mata air yang bernama Ghadir Khum, sepulang dari haji wada’. Kisah ini akan kita bahas panjang lebar di lain kesempatan Insya Allah.
Artinya adalah meyakini Ali adalah khalifah setelah Nabi. Hal ini lebih penting daripada shalat, puasa, zakat dan haji, karena diberi penekanan yang lebih pada hari ghadir. Artinya penekanan itu lebih penting daripada penekanan terhadap tauhid. Selama ini yang menjadi penekanan dakwah para Nabi adalah tauhid, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, tetapi bagi syiah yang terpenting adalah wilayah atau imamah.
Sebuah konsekuensi yang amat berat, tetapi mengapa kita masih mendengar teman-teman kita yang kebetulan syiah, yang marah ketika diajak bicara masalah perubahan Al Qur’an, da tidak bisa menerima jika tsyiah dituduh meyakini perubahan Al Qur’an. Saya tambahkan, bukan hanya orang awam yang “amatir” [jawa; kroco] yang mengingkari, tetapi ulama-ulama mereka pun mengingkari juga, contohnya seperti yang dibahas di bagian kedua, yaitu Muhammad Ridha Muzhaffar dan Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita.
Pertanyaannya, mengapa mereka mengingkari kenyataan yang nampak jelas dalam kitab mereka sendiri? Menurut kami ada dua sebab:
1. Karena memang mereka bertaqiyah. Apa itu taqiyah? Silahkan anda klik di sini untuk lebih jelasnya.
2. Karena mereka benar-benar tidak tahu dan mengingkari hal itu, tetapi mereka tidak sadar akan konsekuensinya yang amat berat, yaitu keluar dari syiah dan kembali beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini.
Perlu anda ketahui bahwa syiah memiliki alergi ketika kita ajak dialog tentang masalah perubahan Al Qur’an. Sebenarnya alergi itu tidak perlu terjadi, karena bagaimana seorang penganut sebuah keyakinan bisa alergi dengan ajaran keyakinan yang dianutnya? Kalo mau alergi tidak usah dianut saja, khan gampang, mengapa dibuat repot? [gitu aja kok repot… seperti kata Gus Pur kalo tidak salah].
Maka anda jangan takut ketika melihat teman anda yang syiah marah, mencak-mencak dan bisa jadi kejang ketika anda membicarakan masalah ini. Itu adalah reaksi yang biasa muncul dan tidak perlu ditakutkan. Walaupun kadar mencak-mencak dan kejangnya kadang berbeda antara yang amatir dan aktor intelektual.
Mengapa mereka alergi? Wajar saja, karena masalah iman pada Al Qur’an menjadi salah satu pemisah antara kaum muslimin dan mereka yang “non muslim”. Artinya mudah bagi seorang muslim awam untuk memahami bahwa siapa yang tidak percaya pada Al Qur’an adalah bukan orang muslim. Dengan begitu orang awam akan mudah menilai bahwa syiah adalah sesat. Juga karena syiah masih ingin dianggap sebagai kaum muslimin. Karena dengan masih dianggap sebagai muslim akan membuat misi dakwah syiah lebih mudah.
TINDAKAN
Jika teman anda yang syi’ah marah ketika diajak dialog masalah perubahan Al Qur’an, maka segera anda diam, biarkan dia menyelesaikan marahnya. Jika marahnya sudah mereda, beritahukan padanya bahwa hal itu tercantum dalam kitab-kitab induk syiah yang dia belum menelaahnya, katakan padanya bahwa orang yang belum tahu tidak layak untuk marah sebelum menelaah. Tetapi jika kemarahan dan emosinya begitu menggelora sampai tangannya meraih asbak atau benda yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke kepala anda, segera ambil benda apa pun untuk melindungi kepala anda, dan sebaiknya anda segera pergi sebelum benda itu benar-benar mendarat di kepala dan menimbulkan masalah bagi anda.
Selain marah dan mencak-mencak ada juga reaksi lain yang muncul saat diajak dialog, yaitu dengan mengajak anda meneruskan dialog. Lalu kira-kira apa jawaban yang akan keluar dari syi’ah?
1.    Serangan balik
Artinya teman anda yang syi’ah akan balik menuduh bahwa dalam riwayat sunni juga ada yang menunjukkan Al Qur’an telah dirubah. Jelas mereka  berbohong, karena isi hadits-hadits yang dimaksud oleh syiah hanyalah seputar nasakh tilawah atau perbedaan qira’at yang memang pernah ada. Perlu diperhatikan bahwa banyak ulama syi’ah yang mengakui adanya nasakh, seperti Syaikh Thaifah At Thusi misalnya, meski demikian, kita lihat Abul Qasim Al Khu’I mengatakan bahwa nasakh itu tak lain dan tak bukan adalah tahrif itu sendiri. Semua ini adalah upaya untuk menghindar dan berputar-putar tanpa ada jawaban yang jelas. Sehingga kita perhatikan dari teman yang syi’ah, mereka selalu berputar-putar dalam diskusi sehingga membuat kita lelah menghadapinya.
Bisa jadi mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindar dari jawaban-jawaban yang membuatnya merasa kalah dalam debat. Kita perhatikan semua syi’ah suka berputar-putar dalam dialog. Saya curiga teman-teman syi’ah telah mengalami mutasi pada gennya sehingga mereka semua menjadi suka berbohong dan berputar-putar dalam dialog. Kita tidak lupa bagaimana taqiyah adalah salah satu ajaran pokok dalam syiah. Kita tidak heran, karena taqiyah adalah sembilan dari sepuluh bagian agama syiah. Sebenarnya cara ini merupakan sebuah aib bagi syiah yang tidak dapat menjawab tuduhan yang memang terbukti, lalu berusaha membuktikan tuduhan yang sama pada lawan.
Hal ini memang sebuah aib, tetapi hanya ini yang mereka punya, yang lebih baik daripada diam tak menjawab dan dipandang kalah dalam berdebat. Mengenai serangan balik dari syiah berkaitan masalah perubahan Al Qur’an akan dibahas lebih detil Insya Allah.
2. Membela diri

mereka membela diri dengan menklaim bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah dhaif, biasanya mereka juga mengatakan tidak ada kitab syi’ah yang seluruh isinya shahih.
Jawabannya ada di makalah ini bagian 1 dan 2. silahkan anda merujuk kembali. Intinya perubahan Al Qur’an sudah dinyatakan oleh para ulama syiah sendiri, dan dinyatakan bahwa riwayat yang menyatakan hal itu lebih dari mutawatir, sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa riwayat tentang perubahan Al Qur’an adalah dhaif. Sebab bagaimana riwayat mutawatir bisa berstatus dhaif? Begitu mutawatirnya sehingga sama dengan riwayat imamah, akhirnya menolak perubahan Al Qur’an memiliki konsekuensi berat, yaitu menolak imamah.
Membela diri dengan mengemukakan masalah penshahihan hadits akan membuat syiah harus membela sekte akhbariyin, yaitu sekte yang mempercayai seluruh riwayat yang ada dalam kitab syiah, maka sekte akhbariyin juga percaya adanya perubahan Al Qur’an dan keyakinan-keyakinan lain, yang tercantum dalam kitab syiah.
Syi’ah yang ada di Indonesia adalah syi’ah ushuli, yang masih percaya pada perlunya seleksi riwayat untuk membedakan yang shahih dan dhaif, tetapi semua itu hanyalah teori tanpa praktek. Salah satu ulama syi’ah yang menganut paham akhbari adalah Abdul Husein Syarafudin Al Musawi, pengarang dua buku penting syiah yaitu Dialog Sunnah Syi’ah  yang diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Mizan, dan juga buku yang berjudul Abu Hurairah, yang kami tidak ingat penerbitnya.
Pada bagian 1 dan 2 telah kami nukilkan pernyataan ulama syiah mengenai validitas riwayat perubahan Al Qur’an, jelas ulama syiah di atas lebih valid dan pandai dari teman syiah anda, yang mungkin baru 2 tahun atau 20 tahun “jadi syi’ah”. Lebih jauh lagi, ulama syiah yang dinukil di atas lebih memahami isi riwayat-riwayat syiah daripada teman anda yang syiah, yang barangkali belum bisa membaca dan menulis bahasa arab.
3. takwil dan salah paham
di antara cara mereka adalah dengan mengakui adanya riwayat-riwayat itu, tetapi mereka memiliki pemahaman lain, yaitu katanya riwayat-riwayat itu memiliki makna yang berbeda dengan yang tertulis, maksud ulama syiah dengan pernyataan itu adalah mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada adalah terjaga dari perubahan, penambahan dan pengurangan. Ini sungguh aneh, karena dalam pernyataan ulama kita simak pernyataan yang jelas menunjukkan terjadinya revisi/perubahan dengan menambah atau mengurangi. Sedangkan para ulama syiah di atas tidak akan gegabah membuat pernyataan penting seperti itu jika tidak memiliki dasar yang kuat. Kita lihat dari pernyataan ulama di atas, ada yang  mendasarkan pernyataanya tentang perubahan Al Qur’an dari riwayat dalam kitab syi’ah yang berjumlah lebih dari mutawatir, yang menunjukkan adanya perubahan pada Al Qur’an hari ini. Berarti riwayat-riwayat dalam kitab syi’ah benar-benar menunjukkan perubahan AL Qur’an.
Lalu bagaimana dengan “kawan kita” yang mencoba menafsirkan riwayat syi’ah dengan makna lain? Barangkali pembaca bingung mengapa ada “teman kita yang syiah”  begitu berani memahami sendiri isi riwayat syi’ah tanpa merujuk pada ulama yang lebih paham. Tetapi kebingungan pembaca akan sirna setelah membaca riwayat dari Imam Abu Ja'far Muhammad Al Baqir, salah seorang dari 12 imam syi’ah:
“ jika seluruh manusia menjadi syiah kami, maka 3/4nya ragu-ragu terhadap kami dan sisanya adalah orang dungu” Rijalul Kisyi hal 179.
4. riwayat seperti itu tidak ada.
Lebih parah lagi, bisa jadi kawan anda itu menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi’ah. Barangkali anda yang telah membaca bagian 1 dan 2 makalah ini akan bertambah bingung, bagaimana tidak? Kata Ulama besar, riwayat perubahan Al Qur’an jumlahnya lebih dari mutawatir, tapi teman kita malah bilang riwayat seperti itu g ada. Lalu mana yang benar?
Katakan saja pada kawan anda, barangkali anda belum pernah menelaah kitab syi’ah karena anda tidak bisa berbahasa arab. Atau anda adalah korban penipuan dari ustad syiah anda yang sengaja menipu agar anda tetap masuk syi’ah. Karena jika anda tahu bahwa syi’ah meyakini perubahan Al Qur’an, ustad anda takut kalo anda kembali sunni.
Mungkin anda tidak heran ketika yang menyangkal adalah orang awam yang polos, tetapi jika yang menyangkal adalah intelektual, maka anda perlu merasa heran. Pada bagian 2 telah kami paparkan contoh intelektual syi’ah yang menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an pada kitab syi’ah. Apakah ada lagi intelektual syi'ah yang menyangkal?
Kita simak lanjutan makalah ini.


[bersambung...... sabar ya....]

Al Qur’an di mata Syi’ah [2]




Ternyata ada ulama syiah yang belum menelaah riwayat perubahan Al Qur'an, mungkinkah demikian? atau hanya kura-kura dalam perahu..."
Dari makalah bagian pertama, akhirnya kita ketahui bahwa perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma [hal yang tidak bisa lagi ditawar-tawar] dalam mazhab syi'ah imamiyah. Ini merupakan konsekwensi logis dari keterangan di atas barusan. Di antara ulama syi'ah yang “konsekuen” pada konsekuensi logis di atas adalah:
Abu Hasan Al Amili
Dia mengatakan: bagi saya, perubahan Al Qur’an telah demikian jelasnya, karena saya telah mengkonfirmasi dan menelusuri seluruh riwayat, yang mana dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah salah satu keyakinan pokok [aksioma] dalam mazhab syi'ah dan salah satu tujuan perebutan khilafah [dari yang berhak].
Lihat Muqaddimah kedua pasal ke empat dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.
Ternyata demikian jelas, bahwa meyakini perubahan Al Qur’an adalah wajib bagi penganut syi'ah, jika masih ingin dianggap sebagai syi'ah. Karena riwayat yang begitu banyaknya –sampai derajat mutawatir bahkan lebih- harus diterima oleh penganut syi'ah yang katanya mengikuti ahlulbait Nabi. Bagaimana dia mau mengikuti Nabi dan tetap berada dalam mazhab syi'ah sementara dia menolak isi riwayat yang jelas mutawatir -bahkan lebih-? Bagaimana bisa menjadi syi'ah dengan menolak isi kitab literaturnya? Menolak meyakini perubahan Al Qur’an berarti menolak mazhab syi'ah.
Begitu juga Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani mengatakan:
Meyakini perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma mazhab mereka [syi'ah]. Masyariq Syumus Ad Durriyah hal. 126
Karena banyaknya riwayat tentang perubahan Al Qur’an, akhirnya ulama syi'ah [yang konsekuen] menyimpulkan bahwa seseorang tidak bisa menjadi syi'ah jika masih meyakini keaslian Al Qur’an yang ada saat ini. Begitu juga ulama syi'ah menyatakan bahwa seluruh syi’ah bersepakat meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah. Di antaranya:

Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
Setelah menukilkan banyak riwayat yang menunjukkan perubahan Al Qur’an, Adnan mengatakan : riwayat telah begitu banyak tak terhitung jumlahnya, bahkan telah melebihi syarat mutawatir sehingga tidak berguna lagi untuk disampaikan setelah keyakinan tentang perubahan Al Qur’an tersebar luas di kalangan kedua kelompok, bahkan sudah dijadikan aksioma oleh sahabat dan tabi’in, dan ijma’ [kesepakatan] golongan yang benar [syi'ah imamiyah], dan keyakinan itu menjadi sebuah pokok mazhab mereka dan banyak riwayat dari kitab syi'ah yang menyatakan demikian. Lihat Masyariq Syumus Ad Durriyah fi Ahaqqiyyati Mazhabil Akhbariyyah hal 126.
Muhammad bin Nu’man [juga dijuluki dengan Al Mufid] mengatakan:
Penganut Imamiyah sepakat meyakini bahwa banyak orang yang sudah mati akan kembali hidup lagi di dunia sebelum hari kiamat, mereka juga bersepakat meyakini Allah bersifat bada’, imamiyah juga bersepakat meyakini bahwa pemimpin sesat telah menyelewengkan ayat Al Qur’an, mereka juga menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan sunnah Nabi. Lihat Awa’ilul Maqalat hal. 48-49.
Semua ini menguatkan kesimpulan bahwa: seseorang tidak mungkin menjadi syi'ah tanpa meyakini perubahan Al Qur’an.

Mengapa?
Karena mengingkari perubahan Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip Imamah, karena hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an dan Imamah sama-sama banyak dan dimuat di kitab yang sama. Mengingkari prinsip imamah sama saja dengan keluar dari mazhab syi'ah imamiyah.
Di atas kita singgung ulama syi'ah yang konsekuen dengan mazhabnya, yaitu menyatakan bahwa Al Qur’an telah diubah. Jika ada ulama syi'ah yang konsekuen, ada juga ulama syi'ah yang tidak konsekuen karena mereka menolak meyakini perubahan Al Qur’an, padahal mereka juga meyakini imamah. Padahal semestinya mereka juga meyakini perubahan Al Qur’an.
Salah satu ulama yang “tidak konsekuen” adalah Muhammad Ridha Muzaffar. Dalam karyanya yang berjudul Aqaidul Imamiyah hal 59, Muzaffar mengatakan:
Kami meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu ilahi yang diturunkan dari Allah ta’ala melalui lisan NabiNya yang mulia, memuat keterangan tentang segala sesuatu, Al Qur’an adalah mu’jizat yang kekal sepanjang masa, yang mana manusia tidak mampu meniru balaghah dan kefasihannya, juga tidak mampu meniru isinya yang mengandung hakekat dan ilmu yang tinggi, tidak mengalami perubahan dan penyelewengan.
Di sini Muzaffar menandaskan bahwa syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini terjaga dari penyelewengan dan perubahan. Di atas telah kita lihat bahwa syi'ah imamiyah sepakat bahwa Al Qur’an telah diubah. Berarti ada dua kemungkinan, yang pertama Muzaffar memang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang syi'ah.
Dalam pengantar kitabnya itu “Aqaid Al Imamiyah” tertulis sekelumit biografi penulisnya “Muhammad Ridha Muzaffar” kita simak sedikit kutipannya:
.. dia mengikuti seluruh pelajaran yang harus ditempuh di tingkat “sutuh” [tingkatan pendidikan ala hauzah ilmiyah syi'ah di Najaf] syaikh[Muhammad Ridha Muzaffar] unggul dalam seluruh pelajaran tingkatan itu……Dia juga mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh kakaknya Muhammad Hasan dan Muhammad Husein, begitu juga mengikuti pelajaran syaikh Aqa Dhiya’uddin Al Iraqi yagn mengajarkan ushul fiqh, juga mengikuti pelajran syaikh mirza muhammad husein An Na’ini yang mengajarkan fiqh dan ushul fiqh, mengikuti pelajaran syaikh Muhammad Husein Al Asfahani secara privat dan intensif..
Artinya Syaikh Muhammad Ridha Muzaffar bukanlah seorang santri biasa atau syi'ah amatiran[seperti teman-teman syi'ah indonesia yang baru pulang dari iran]  yang asal menulis buku. Tak lupa kita nukilkan sedikit dari muqadimah “kata pengantar” bukunya “Aqaidul Imamiyah”:
Saya menuliskan keyakinan-keyakinan ini, saya hanya berniat untuk menuliskan seluruh pengetahuan saya tentang pemahaman Islam ala ahlulbait.
Tetapi pembaca telah melihat sendiri bahwa riwayat mutawatir, bahkan lebih dari mutawatir dari jalan periwayatan syi'ah imamiyah, telah menegaskan bahwa Al Qur’an telah diubah. Sedangkan Muhammad Ridha Muzaffar adalah seorang figur yang jelas tidak memiliki kredibilitas untuk “melawan” riwayat yang banyak itu.
Atau Muzaffar hanya “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu?
Wallahu A’lam, hanya Allah yang tahu apa isi hati Muzaffar, tapi yang jelas pernyataannya dalam kitab itu harus kita teliti lagi validitasnya karena menyelisihi riwayat dari ahlulbait yang sudah jelas-jelas maksum, ditambah pula riwayat itu memiliki banyak jalur sehingga disebut mutawatir.
Masih ada lagi contoh dari ulama syi'ah yang “tidak mau konsekuen” terhadap keyakinan imamah, yaitu tidak mau menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada saat telah diubah, seperti ditegaskan oleh riwayat syi'ah yang lebih dari mutawatir. Dialah Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita, yang menulis kitab Ashel Syi’ah wa Ushuluha. Dia menyebutkan bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah riwayat yang lemah lagi menyimpang dari kebanyakan riwayat yang valid. Dalam kitabnya itu pada hal 220, terbitan Mu’assasah Imam Ali Alaihissalam, cet. Sitarah dia menyatakan:
Kitab Al Qur’an yang ada di tengah kaum muslimin hari ini adalah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk membuktikan kebesaran allah dan menantang kaum kafir untuk membuat kitab seperti Al Qur’an, juga untuk mengajarkan hukum-hukum agama, menjelaskan yang halal dan yang haram, tidak pernah mengalami pengurangan, penyelewengan atau penambahan, pendapat ini adalah kesepakatan seluruh kaum muslimin. Kelompok mana saja di kalangan kaum muslimin yang beranggapan bahwa ada isi Al Qur’an hari ini telah mengalami penyelewengan dan pengurangan, maka pendapatnya itu adalah keliru, dibantah oleh ayat Al Qur’an: sungguh Kami telah menurunkan peringatan, dan Kami akan menjaganya. Seluruh riwayat dari kitab kami maupun mereka yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah menyimpang dan lemah, dan hadits ahad tidak dapat menjadi dasar ilmu maupun amal.
Ada beberapa hal yang harus dikomentari dari kutipan ini, yang paling mencolok adalah pernyataan bahwa riwayat-riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi'ah adalah dho’if dan menyimpang. Padahal pembaca sudah melihat sendiri pernyataan yang dikutip dari ulama-ulama besar syi'ah masa lampau bahwa riwayat perubahan Al Qur’an adalah mutawatir, sama seperti riwayat imamah. akhirnya kita bertanya-tanya, apakah Al Kasyiful Ghita bersikap pura-pura tidak tahu? Atau memang dia benar-benar tidak tahu? Jika kita lihat ajaran taqiyah di kalangan syi'ah, kita semakin yakin bahwa Al Kasyiful Ghita hanya berpura-pura tidak tahu, untuk menghibur kaum muslimin yang “intelek tapi bodoh” dan “bodoh tapi intelek (bergelar sarjana S2 dan S3)” bahwa syi'ah dan sunni tidaklah berbeda, dan tuduhan seperti itu hanyalah tuduhan yang tanpa bukti. Sayangnya para intelek-intelek itu mau saja ditipu. Bahkan ada seorang “intelek”  bergelar DOKTOR yang sering muncul di TV, menulis buku membela syi'ah dengan berdasar pada buku Kasyiful Ghita ini.
Mungkin pembaca heran, bagaimana mengingkari kenyataan begitu mudah bagi Kasyiful Ghita, atau jangan-jangan Kasyiful Ghita hanyalah seorang syi'ah “amatiran”?
Bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa riwayat syi'ah yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah mutawatir seperti pernyataan ulama-ulama yang lebih senior?
Ini sungguh membuat malu mazhab syi'ah, karena bagaimana orang seperti itu bisa jadi ulama? Ini pertanyaan yang mungkin timbul dari pembaca yang awam.

Begitu juga katanya ada riwayat tahrif dalam buku sunni, tetapi kita tidak pernah melihat hal itu, kecuali riwayat yang menyatakan adanya nasakh tilawah, sedangkan nasakh tilawah boleh dan terjadi dalam Al Qur’an, dan nasakh tilawah adalah perubahan dari Allah semasa hidup Nabi, bukan perubahan dari tangan-tangan sahabat Nabi, seperti dalam riwayat syi'ah. Apakah kita menyamakan nasakh tilawah dan tahrif/perubahan versi syi'ah? Nyatanya banyak tokoh “intelek” menyamakannya.

Akhirnya orang awam yang tidak tahu terpengaruh, tapi insya Allah setelah membaca makalah ini anda tidak lagi terpengaruh.

Juga orang awam akan bertanya-tanya, apakah setiap pernyataan ulama syi'ah masa kini harus dicek dulu agar kita tahu apakah pernyataan itu sesuai dengan literatur syi'ah atau tidak. Lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan "berbahaya" akan muncul;

Kalau begitu, apakah kita layak mempercayai ucapan ulama syi'ah? Siapa yang menjamin bahwa mereka tidak akan mengatakan hal yang berbeda dengan isi kitab literatur syi'ah?[contoh kasus, masalah perubahan Al Qur'an yang sedang kita bahas]
[masih bersambung lagi...... tunggu aja]

Al Qur’an di mata Syi’ah [1]



Oleh Prince of Jihad 
Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya. Jika kita menelaah literatur-literatur syiah, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan para ulama syiah yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut syiah sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.

Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar syiah menganggap demikian? Mungkin anda pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang syiah, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh syiah, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah

Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:

Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi:
Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut syiah.

Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi syiah.

Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak nukilan dari ulama klasik syiah.

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim bersedih.

1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:
Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.

2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:
Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.
Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”, karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman. [Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]

3.Ni’matullah Al Jaza’iri
Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:
Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 357.

Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.
keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya, menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”.

4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad Durriyah, hal 126.

5.Sulthan Muhammad Al Khurasani
Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet. Muassasah Al A’lami hal 19

6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi, yang getol menyatakan Al Qur’an telah dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal. 227 :
Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000 hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.

7. Muhammad Baqir Al Majlisi
ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam; Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya, dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat? Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.

Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.

Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah.
[Bersambung]

Asal usul lukisan Nabi Muhammad saw

Ditulis oleh infosyiah di/pada 0, April 28, 2007
Asal usul lukisan Nabi Muhammad saw
Bertahun-tahun diterbitkan gambar yang disebut sebagai gambar masa mudanya Nabi Muhammad saw di Iran. Masyarakat Iran di samping menunjukkan rasa suka terhadap gambar itu, mereka juga mempertanyakan keabsahannya. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Buhaira yang sempat mengiringi Nabi Muhammad saw bersama pamannya ke Syam. Pada kenyataannya, banyak yang meragukan jawaban ini.
Tulisan berikut ini adalah usaha untuk mencari sumber asli gambar masa muda Nabi Muhammad saw. Para penulis berusaha mengargumentasikan dari mana asal gambar itu. Namun, kelihatannya, masalah ini senantiasa terbuka untuk dijadikan kajian.
Tulisan ini adalah hasil terjemahan yang dilakukan oleh Rasul Ja’fariyah dari makalah yang judul aslinya The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont dalam majalah ISIM Review 17, Spring 2006, hal 18-19.
Syiah Iran punya pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi Muhammad saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90 –an poster yang menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi Muhammad saw.
Saat ini, poster ini dicetak dengan mempergunakan teknologi modern dengan alat dan teknik yang beragam. Sekalipun demikian, struktur gambar masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Warna yang dipakai masih mempertahankan kesederhanaan. Namun, tetap saja memiliki kelebihan yang membedakannya secara mudah dari gambar yang lain seperti pedang Ali as yang memiliki dua mata.
Penggambaran yang akan kami bawakan berbeda dengan penggambaran sebelumnya. Gambar seorang pemuda tampan, mata sendu dan wajah yang menenangkan hati mengingatkan orang akan gambar-gambar di zaman Renaisan. Terutama gambar-gambar tentang pemuda yang dilukis oleh Caravagio seperti lukisan Boy Carrying a Fruit Basket yang berada di galeri Borghese, Roma dan lukisan Saint John The Baptist di museum Capitole. Kelembutan bak beludru, mulut yang setengah terbuka dan tatapan sendu.
Sekalipun ada beberapa naskah dari gambar ini, namun semuanya menunjukkan kesan muda dan di bawahnya tertulis “Muhammad Rasulullah”, bahkan sebagian memberikan informasi lebih detil tentang periode kehidupan Nabi ketika lukisan ini dilukis serta sumber lukisan sekaligus.
Penemuan menarik
Pada tahun 2004, ketika menyaksikan pameran foto dua orang seni rupa Lehnert dan Landrock, secara tidak disengaja akhirnya tersingkap juga sumber poster Iran itu. Itu dapat dilihat di foto Lehnert sepanjang tahun 1904-1906 yang diambilnya di Tunisia. Foto ini kemudian pada dekade 20 –an dicetak dalam kartu ucapan selamat.
Radolf Franz Lehnert (1878-1948) adalah warga negara Chekoslowakia sekarang. Pada tahun 1904 bersama Ernst Heinrich Landorck (1878-1966) berkebangsaan Jerman, bersama-sama menuju Tunisia. Lehnert sebagai fotografer dan Landrock sebagai penerbit dan direktur. Tahun sebelumnya, Lehnert pernah tinggal sebentar di Tunisia. Saat itulah ia jatuh cinta dengan alam di sana dan penduduknya. Keduanya membangun perusahaan L & L yang beroperasi di bidang penerbitan foto-foto dari pemandangan indah Tunisia dan Mesir. Hasilnya adalah ribuan foto dan kartu dengan gambar daerah ini yang dicetak.
Lehnert pernah mengenyam pendidikan di Yayasan Seni Grafis di Vienna. Ia punya hubungan dengan anggota Pictorialist yang menganggap foto sebagai karya seni. Foto-foto Lehnert tidak saja berbicara mengenai gurun pasir, bukit-bukit pasir, pasar dan kawasan penduduk Tunisia, tapi juga foto-foto dari remaja putra dan putri yang umurnya antara anak dan remaja dan masih memiliki wajah antara laki dan wanita. Foto-foto ini biasanya diambil sesuai dengan pesanan pembeli Eropanya. Foto tentang dunia Timur yang memberikan nuansa lain.
Lehnert sangat memanfaatkan kesempatan ini, namun ia juga mengolah kejeniusannya dalam menyiapkan karyanya. Foto-fotonya dicetak dalam bentuk perak, dalam bentuk gambar timbul dan dibuat dalam empat warna. Kebanyakan dari kartu ucapan selamatnya ini dicetak di Jerman sejak tahun 1920 dan disebarkan di Mesir.
pic1.jpg
Cetakan-cetakan dan teks yang sesuai
Tidak diragukan bahwa kartu yang ditunjukkan dalam bentuk 1, berdasarkan penomboran L & L, nombornya adalah 106 dikenal dengan poster Iran. Yang lebih menarik nama kartu nomor 106 adalah Muhammad. Ini dengan sendirinya dapat menunjukkan mengapa pelukis Iran menjadikannya sebagai model untuk lukisan Nabi Muhammad saw. Tidak ragu lagi, semua naskah yang ada dari foto ini menjadikan foto nombor 106 sebagai contoh dengan perbedaan bahwa naskah pertama lebih sesuai dengan foto yang asli. Dengan demikian, Lehnert tanpa disengaja ditempatkan dalam hati sebuah legenda.
Pertanyaan mengenai hubungan antara wajah Nabi Muhammad saw dan wajah remaja Tunisia belum mendapatkan jawabannya. Lukisan seorang remaja tertawa dengan mulut setengah terbuka, memakai sorban dan bunga melati di telinga. Wajah yang sama dalam kartu yang lain dengan judul Ahmad, seorang remaja Arab dan lain-lainnya.
Kami belum mampu menyingkap perjalanan foto yang dicetak di dekade 20 –an yang sampai di tangan penerbit Teheran dan Qom di dekade 90 –an. Namun, masih ada pertanyaan apa yang menyebabkan penerbit Iran menemukan adanya kesamaan antara wajah Nabi Muhammad semasa remajanya dengan seorang remaja Tunisia?
Sebelum perang dunia pertama, gambar Muhammad di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, kartu seri Tunisia L & L sangat disukai oleh tentara Perancis di Utara Afrika. Pada dekade 80 dan 90 –an banyak buku yang dicetak yang memuat foto-foto ini, namun judulnya bukan Muhammad.
Naskah Iran yang sekarang sudah ada perubahan. Wajah yang menipu itu masih terjaga, namun keindahan wajahnya agak berkurang. Pundak sebelah kirinya agak lebih tertutup dengan kain, mulut dan matanya sudah mengalami perbaikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa seniman Iran berusaha untuk mengurangi sisi keindahan foto Lehnert, sehingga foto itu tidak lagi terlalu menarik dan diberikan tambahan agar terlihat sebagai orang suci.
Akar Kristian?
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sebagian tulisan menganggap bahwa hasil karya ini punya hubungan dengan Kristian dan bukan Islam. Masalah ini memberi justifikasi tidak berdosanya seorang muslim melihat wajah Nabi atau melukiskannya. Lebih dari pada itu, orang-orang Kristian menganggap Nabi Muhammad saw sejak mudanya sebagai pribadi yang suci. Kisah pendeta Kristian Katolik atau Ortodoks bernama Buhaira menyimpulkan itu. Berdasarkan kisah itu, pada abad 9 atau 10 Buhaira berusaha mencari Nabi Muhammad saw berdasarkan tanda-tanda yang dimiliki Nabi di antara pundaknya. Nabi akan datang semestinya berkata: “Ketika saya menengok ke langit dan bintang-bintang, saya merasa di atas bintang-bintang”. Ini juga sebuah alasan disebahagian gambar Nabi Muhammad saw ada latar belakang bintang-bintang.
Sekalipun sampai saat ini tidak ada penggambaran tentang wajah Nabi Muhammad saw di masa mudanya, namun penggambaran itu ada dalam bentuk dewasanya. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki kulit putih, mata hitam, alis yang tebal,gGigi teratur dan rambut bergelombang. Bentuk yang digambarkan itu dapat ditemukan dalam poster Iran. Pada hakikatnya ini adalah sebuah gambar dari sebuah gambar lain. Dengan kata lain, pelukis Iran mengambil model Nabi Muhammad saw yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian.[infosyiah]

Kita Sokong Hizbullah bukan Syiah




Sebelum episod Peperangan Teluk Pertama bermula, saya berada di Jordan. Suasana ketika itu cukup panas. Saddam yang sebelum itu dikenali sebagai seorang yang teramat zalim dalam sekelip mata ditabalkan menjadi wira umat yang akan bertempur dengan syaitan besar iaitu Amerika.
Apatah lagi pabila Saddam meletakkan perkataaan ‘Allahu Akhbar’ pada bendera Iraq. Khutbah-khutbah Jumaat begitu menggegarkan di seluruh Timur Tengah dan dunia Islam. Nama Saddam yang merupakan samseng semalam telah dianugerahkan ‘Salahuddin Al-Ayubi Baru’.
Bahkan, dia dikatakan insan yang RasululLah s.a.w janjikan dalam hadith-hadith baginda. Sehingga ada yang cuba mengkaitkan keturunannya dengan keturunan RasululLah s.a.w. Pemimpin-pemimpin gerakan Islam juga menuju ke Iraq. Saddam dipuji dan disanjung. Tiada siapa lagi yang mempertikaikan akidah ba’ath yang dianut oleh Saddam. Tiada siapa lagi yang mempertikaikan sosialisme Saddam. Tiada siapa lagi yang bertanya tentang darah-darah para ulama yang dibunuh zalim oleh Saddam.
Bahkan semua kejahatannya dibela oleh berbagai pihak dengan berbagai ungkapan yang menghiasi kalam. Ketika itu juga sikap dan pendirian al-Ikhwan al-Muslimin berpecah di peringkat antarabangsa. Negara yang terlebih semangat seperti di Jordan, para pemimpin Ikhwan mengangkat nama Saddam. Namun pemimpin mereka di Iraq yang telah lama merasai kejahatan dan kezaliman yang tidak terperi dari Saddam enggan mempercayai penuh watak baru Saddam. Apa pun yang berlaku, pusingan Perang Teluk Pertama tamat, Saddam tidak tumbang.
Saddam juga tidak banyak berubah. Tapi, Perang Teluk Kedua sekali lagi mengangkat namanya. Seperti juga cerita semalam ketika perang Teluk Pertama. Ramai ulama berfatwa. “Dosa dan akidah Saddam jangan ditanya, menentang musuh itulah yang lebih utama”. Kita semua setuju. Berkalungan doa untuk Iraq dan Saddam setiap waktu. Sehinggalah dia dijatuhkan dalam edisi perang tersebut oleh Amerika yang merupakan syaitan lagi dajjal itu.
Hari ini ramai yang sudah melupai Saddam. Namanya sudah tidak kedengaran lagi. Dia disanjung ketika bersenjata dan perwira, dan dilupai ketika dipenjara dan dihina. Begitulah kita dan pendirian kita. Namun satu hakikat yang tidak boleh siapa pun nafikan; Amerikalah yang memberikan kekuatan dan kuasa kepada Saddam dan Amerikalah juga yang menjatuhkannya.
Episod baru di Timur Tengah bermula. Dajjal Amerika mempunyai perancangannya yang sentiasa jahat. Bermula dengan pembunuhan Hariri, presiden Lebanon, dihambat keluar kuasa Syria dari Lebanon sehinggalah dicetuskan peperangan yang akan ditamatkan nanti. Isu nuklear Iran dibangkitkan sebelum itu. Isu itu juga dipadamkan dengan isu baru.
Seperti mana perang Lebanon memadamkan tumpuan kepada jihad di Pelestin dan kejahatan Yahudi yang menculik dan menangkap pimpinan kerajaan Hamas. Nama pimpinan Hamas yang tulus berjuang dilupakan. Kini, Nama Hasan Nasr ALLAH pula kedengaran sebagai wira baru. Dia ditabalkan dengan lebih bersih. Nilai-nilai pengganas atau terorism kurang dilekatkan kepadanya. Tidak seperti Usamah bin Laden yang ditakuti itu, atau Mullah ‘Umar yang berperang mempertahankan Afghanistan.
Kedua-duanya dianggap pengganas yang merbahaya tanpa tolok bandingnya. Watak Hasan Nasr ALLAH lebih indah dan media lebih memberikan nilai-nilai tambah untuknya. Siapa di sebalik drama baru ini kita tidak pasti. Sekalipun kita amat menyokong setiap penentangan terhadap regim zionist Israel, atas apa logo sekalipun. Zionist adalah paksi kejahatan. Sesiapa menentangnya maka layak digelar wira. Namun kita perlu berhati-hati..agar pisang tidak berbuah dua kali..
Seperti Perang Teluk, Perang Lebanon juga mencetuskan beberapa sikap dan tindak balas. Ada yang enggan menyokong sama sekali kerana Hizbullah itu syiah. Saya katakan ini sikap yang kurang wajar dalam suasana kita kekurangan wira untuk menentang zionist. Kebencian tidak boleh menyebabkan kita melakukan kezaliman. Syiah bagi kita menyeleweng, namun kita tidak kafirnya sekalipun kebanyakan fatwa mereka mengkafirkan kita.
Melainkan sesiapa di kalangan mereka yang terbukti kufur disebabkan tindakan atau kepercayaan tertentu. Sama juga orang sunni jika menyeleweng dari batasan iman. Fekah Islam tidak melarang berperang di belakang pemimpin yang fasik dan zalim selagi yang diperangi itu golongan kuffar yang menentang Islam. Bahkan keadaan sekarang menuntut kesatuan suara dalam menghadapi Yahudi. Hizbullah sedangkan melakukan hal itu. Seperti Hamas yang sekian lama sudah melakukannya. Cuma mereka kurang dipuji kerana kurang senjata. Puncanya pengkhianatan pimpinan Arab yang ada. Adapun Hizbullah, senjata mereka cukup. Walaupun baru bertempur, namanya cukup-cukup disebut.
Ada pula yang terlajak sehingga menganggap segala ajaran Syiah boleh diterima pakai. Ini lebih melampau. Di Malaysia, aktivis Syiah bukan sahaja mengangkat gambar Hasan Nasr ALLAH, gambar pimpinan Syiah yang lain turut diangkat. Bukan itu sahaja, kafir mengkafir sahabat atau penghinaan termasuk terhadap Abu Bakr dan ‘Umar sudah kian berani. Email-email groups kian aktif mengedarkan fikrah ini. Jika sebahagian kepercayaan ini diterima mudah, runtuhlah bentang-bentang Islam yang telah dibina. Mereka ini memang betul-betul mengambil kesempatan. Jika benteng kota Lebanon roboh, apakah kita ingin robohkan juga kota akidah Ahli Sunnah wa al-Jamaah yang ada?!!
Saya seorang yang terbuka dengan kebebasan fikir. Namun kebebasan ini hendaklah tidak membawa kepada keruntuhan prinsip. Ada yang kata kepada saya: “Dr, kita orang sunni tidak melawan dengan Amerika dan kuffar, ahli sunnah sudah tidak relevan lagi..Syiah saje yang berani sekarang”. Saya katakan; kita sanjung penentangan mereka. Apatah lagi rekod Hizbullah juga mendorong ke arah itu. Namun kenyataan yang menyebut orang sunni tidak menentang Amerika dan kuffar sudah melampau. Siapa yang menghalau Rusia keluar dari Afghanistan? Siapa yang membantu mujahidin ketika itu? Siapa yang berperang di Kasymir? Siapa yang berperang Chechnya? Siapa yang berperang di Iraq sehingga hari ini?. lebih penting, siapa yang sedang berjihad di Palestin yang sedang lupai sekarang akibat isu Lebanon. Begitulah adanya kita, apabila dibuat serangan baru, kita lupa serangan lalu..kita lupa Afghanistan, kita lupa Iraq, kita lupa Chechnya, kita lupa Palestin..kita lupa..kita lupa..
Cumanya pusingan dalam masa sehari dua ini, nama Hizbullah diperkatakan. Walaupun ketika artikel ditulis pemimpin Hizbullah baru sahaja menyebut kesediaan untuk genjatan senjata. Kita tidak tahu apa pula episodnya selepas ini. Namun, kita melihat Hizbullah sebagai Hizbullah. Kita enggan menyalahkannya dalam perkara yang mereka tidak lakukan. Walaupun hati kita amat terluka dengan pembunuhan kaum sunni oleh Syiah Iraq yang saban waktu dan belum lagi tamat hingga hari.
Sekalipun para ulama termasuk al-Qaradawi meminta agar fatwa dikeluarkan oleh ulama Syiah mengharamkan perbuatan itu, namun mereka hanya mendiamkan diri. Tetapi dosa Iraq tidak patut untuk ditanggung oleh Lebanon. Maka seruan membantu perjuangan Hizbullah kita laungkan. Namun kita selalu meminta semua pihak berhati-hati. Banyak sendiwara dunia yang kita belum cukup faham mengenainya. Dan kita pula tidak boleh menghukum apa yang kita tidak tahu.
Kita belum mendengar Hasan Nasr Allah mengutuk dan menghina sahabat seperti yang dilakukan oleh Khomeni dan tokoh-tokoh Syiah yang lain. Kita tidak boleh menuduh sehingga terbukti. Namun kita berhati-hati. Kaum sunni di Lebanon bekerjasama dengan Hizbullah. Namun mereka berhati-hati. Kita juga perlu berhati-hati di samping terus menyokong mereka..
Allah mencerita pendirian orang mukminin dalam Perang Rom-Parsi dalam surah al-Rum (maksudnya):1. Alif, Laam, Miim.(2). Orang-orang Rom telah dikalahkan –(3). Di bumi yang paling rendah (permukaannya); dan mereka sesudah kekalahannya itu akan mengalahkan lawannya –(4). Dalam masa tidak sampai sepuluh tahun. kepada pentadbiran Allah jualah terpulang segala urusan, sebelum berlakunya dan sesudah berlakunya; dan pada ketika berlakunya (Kemenangan Rom) itu, orang-orang yang beriman akan bergembira -
Ya! Orang mukmin gembira dengan kemenangan Rom. Rom lebih dekat pegangannya dengan golongan beriman jika dibandingkan dengan Parsi. Namun orang mukmin tidak berkempen menganut agama Rom. Bahkan akhir tentera Islam menguasai Rom.
Saya secara peribadi tidak pernah terikat dengan fatwa mana-mana negara atau ulama. Tidak Arab Saudi, tidak juga Iran. Entah berapa banyak pendapat ulama-ulama dari Arab Saudi yang kita bangkang. Saya baru saje turut membentangkan kertas kerja di UIA, dalam satu seminar antarabangsa yang turut dihadiri oleh tokoh-tokoh ulama Syiah termasuk Ayatullah Taskhiri dari Iran. Saya mendengar pendapat yang baik dan menapis apa yang menyanggahi pegangan generasi awal Islam yang terdiri dari para sahabah dan tabi’in dan atba’ al-Tabi’in. Agama bukan sekadar berpolitik di dunia, tetapi keselamatan diri di akhirat. Penilaian kita hendaklah bersifat penilaian akhirat sebelum penilian dunia.
Malangnya ada yang mengambil kesempatan menuduh al-Syeikh Ibn Jibrin membuat fatwa yang tidak sesuai dengan waktu tentang Hizbullah. Pro-tehran di Malaysia memukul gong Syiah mengambil kesempatan isu tersebut. Fatwa itu sebenarnya fatwa empat tahun lepas. Al-Syeikh Ibn Jibrin berkata : Sesungguhnya fatwa tersebut tidak berkaitan dengan Hizbullah sama sekali. Akan tetapi ia berkaitan Rafidhah yang menganggap Ahl al-Sunnah sebagai kafir. Mereka (Rafidhah) juga mengkafirkan para sahabat Nabi saw –ridwanullah ‘alaihim- dan mereka mencela al-Quran dengan mendakwa bahawa al-Quran telah berlaku perubahan dan ada kekurangan. (mereka menganggap) ada yang dibuang daripada al-Quran yang bersangkutan tentang Ali Bait (ahli keluarga Nabi saw)..”
Jika dilihat secara keseluruhan, ulasan terbaru beliau senada dengan apa yang saya tulis untuk menyokong Hizbullah dalam peperangan tersebut. Lihat penjelasan ini dalam Islamonline. Namun benar jika ada pendapat beliau tidak serasi dengan nas dan tuntutan politik semasa, kita berhak membangkang dan tidak bersetuju dengannya.
Ahli Sunnah di Iran telah menyokong perjuangan Khomeini menegakkan revolusinya. Kerana ia penilaian wajar ketika itu. Sekalipun selepas itu mereka ditindas dan dibunuh. Namun mereka tidak meratap atas sokongan lepas. Ini kerana pendirian itu dibuat sesuai dengan suasana dan tuntutan masa. Hal yang sama berlaku kepada gerakan Islam di Mesir.
Jamal ‘Abd Nasir pernah berperang menentang Israel dan menang. Dia dibantu oleh pejuang-pejuang gerakan Islam. Lebih hebat ada yang menulis sejarahnya dengan menyebut ‘he was strongest enemy to zionism’. Namun beliau jugalah yang selepas itu membunuh para pejuang gerakan Islam termasuk Syed Qutb, ‘Abd al-Qadir ‘Audah dan lain-lain. Namun sokongan yang benar tidak pernah dikesali.
Kita wajar sentiasa berhati-hati dalam sikap dan melihat masa depan. Kita doakan kemenangan Hizbullah jika mereka benar-benar berjuang menentang Yahudi. Kita sokong senjatanya. Namun kita tidak sokong akidah Syiah. Harus dibezakan dua hal tersebut. Dalam musim ramai orang dikatakan ingin murtad, adakah wajar kita juga menuduh para sahabah kesemuanya telah murtad melainkan beberapa orang sahaja?!! Katakan tidak untuk Syiah!!
Apa yang menjadi masalah ialah perang di Lebanon diambil kesempatan oleh pencerca para sahabah di Malaysia…Yang menullis email mengedarkan akidah Syiah. Demikian yang berceramah. Begitu juga seorang penulis sastera mereka. Semakin berani menonjolkan akidah syiahnya.
Beritahu mereka kita ada sempadan yang jelas..kita pernah sokong Saddam bukan ba’athnya, kita pernah sokong Jamal ‘Abd Nasir, bukan sosialisnya, kita sokong Bin Laden bukan keganasannya… Maka kita sokong Hizbullah bukan Syiahnya!!!